Langsung ke konten utama

Sri Lanka

 Saya yang lahir di Desa kecil nan jauh sangat dari ibu kota provinsi Sulawesi Tengah. Desa yang terpencil meski menjadi salah satu jalan trans Sulawesi dan menjadi penghubung antar kabupaten juga provinsi. Desa yang akses jalan juga terbatas tepatnya di perbatasan kabupaten. berjarak  kurang lebih 289 km dari ibu kota provinsi sulawesi tengah.


Lahir dari keluarga miskin dengan cita yang kaya. Kaya akan hati yang penuh optimis. Memilih teladan dari orangtua yang tulus dan disiplin. Menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Tidak ada toleransi untuk malas terutama perihal mengaji dan belajar pelajaran sekolah. 


Tidak ada waktu bermain jika tidak mengerjakan tugas dari sekolah. Tidak ada izin untuk kebebasan jika lalai mengaji dan belajar. Saya sebagai anak laki-laki pertama dari tiga bersaudara mempunyai beban moral tersendiri untuk memberikan teladan yang baik bagi kedua adikku. 


Setelah tamat sekolah dasar di kampung kelahiran dan tempat tinggal orangtuaku. Saya kemudian memilih taat atas arahan orangtua untuk di sekolahkan di pondok pesantren. Pondok yang didirikan oleh seorang tokoh inspiratif bagi orangtuaku.


Seorang kiyai yang lahir dari tanah kelahiranku hingga menyelesaikan pendidikan di luar negeri. Kembali mendirikan hingga mewakafkan diri untuk membangun peradaban melalui lembaga pendidikan pesantren di pinggiran ibu kota.


Segala puji bagi Allah Swt. Yang mengizinkan dan mengarahkan ku untuk kemudian berhasil menempuh pendidikan di pondok ini kurang lebih tiga tahun. Saya kemudian melanjutkan ke pondok  pesantren tempat belajar kiyai inspiratif ini. Tepatnya pondok Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur.


Dengan cita yang tinggi dan harapan yang tulus. Orangtuaku berjuang untuk menyekolahkan ku di luar provinsi kelahiranku. Tidak ada kata malas dan kesempatan menyerah bagiku. Belajar, belajar dan belajar itulah kerjaku. Tidak ada alasan untuk tidak belajar. Karena tugas dan tujuanku hanya belajar.


Setelah kurang lebih empat tahun menyelesaikan pendidikan Tarbiyatul muallimin al-Islamiyah di pondok modern Gontor. Saya kemudian melanjutkan kuliah di pondok ini juga dengan beasiswa predikat istimewa sangat unggul dalam prestasi akademik dan akhlak. 


Sambil menunaikan pengabdian terhadap pondok, saya dapat melanjutkan kuliah di Universitas Darussalam Gontor. Lembaga yang selalu mendorongku untuk menggapai cita yang tak terbatas. Bagiku sekolah di luar negeri bukan lagi masalah. Hanya ikhtiar langit dan bumi yang harus kutunaikan.


Peluang banyak dan terbuka lebar di depanku. Ijazah yang tidak akan pernah sama dengan sekolah umum di Indonesia negeri tercinta. Kurikulum yang tidak pernah berubah meski pemerintah tidak menyetujuinya. Ijazah penuh huruf arab ini akhirnya layak dan diterima di setiap lembaga yang kutuju.


***


Hari ini tepatnya di negara Sri Lanka. Satu titik yang sempat kulihat dan kubaca dalam peta internasional globe sekolah dasar. Tiruan boleh dunia yang menggambarkan kepadaku bahwa tempatku tinggal dan lahir adakah planet biru seperti bola. Menjelaskan ku terkait negara yang tidak sedikit dan bumi yang luas.


Seperti titik yang hampir tidak terbaca memposisikan diri dalam hamparan bumi. Saya sangat kecil di semesta ini, namun memiliki Allah yang Maha Besar. Pemilik semesta dan seluruh alam. Itulah pendidikan utama yang kubawa hingga hari ini. 


Berdiri di atas podium penghargaan. Berpidato dengan bahasa inggris yang mendunia. Mewakili negara tetangga dari negeriku tercinta. Ya, saya adalah salah satu delegasi dari dua puluh tujuh negara terpilih dalam hubungan bilateral antar bangsa. Meski bukan mewakili negeri sendiri, tapi orang mengenalku sebagai warga negara Indonesia.


Setelah pekan lalu, saya memilih untuk mengobati rindu kepada keluarga di Desa Sony Kecamatan Dampal Selatan Kabupaten Toli-toli Provinsi Sulawesi Tengah. Memohon restu dari ibu tercinta, surga yang tidak dapat kubalas dengan apapun.


Hari ini kukirimkan gambar seorang anak kampung dari desa terpencil juga mampu dan layak duduk berdampingan antar negara. Meski bukan presiden apalagi anak pejabat yang diwarisi jabatan. Tapi ibuku tetaplah orang yang selalu kucintai. Meski bahagia dan bangganya hari ini tidaklah melebihi air mata bahagianya saat mendengar kabar untuknya perihal beribadah ke tanah suci bersamaku bulan depan.

Komentar