Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Kehilangan uang

 Sejenak kuputar otakku untuk memikirkan strategi dalam pemecahan kasus kehilangan uang yang terjadi di kamarku. Setelah siang tadi adik kelasku melaporkan kepadaku sebagai pengurus kamarnya perihal masalah yang dialaminya sejak kemarin sore. Sebenarnya ia takut dimarah akibat kelalaiannya. Namun jika tidak melaporkan hal tersebut, ia tidak tau harus bagaimana untuk membayar uang SPP (Iuran wajib bulanan pondok). Hanya Allah SWT yang Maha Penolong dan Maha Segalanya. Hanya kepadaNya pula tempatku kembali dan memohon. Ku tunaikan sholat hajat sebagai sarana memohon petunjuk dan pertolongan untuk memecahkan masalah kehilangan uang tersebut. Dengan keyakinan penuh ku pasrahkan harapku kepada Pemilik Semesta. Apapun yang terjadi, sebagai pengurus yang bertanggung jawab, harus diselesaikan masalah ini. Kucoba aplikasikan cara yang dipakai oleh wali kelasku saat aku duduk di kelas 2. Aku dan seluruh teman kelasku diminta untuk merenung dan melakukan pengakuan dosa terkait mengambil baran...

Nafilah II

 Dag-dig-dug jantungku berdebar, ada rindu yang belum habis dilepas dengan keluargaku. Setelah 2 pekan berlalu, hari ini adalah jadwal untuk kembali masuk asrama untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Padahal jarak rumah keluargaku kurang lebih hanya 11 kilometer dari Pondokku.  Dengan sepeda motor butut kesayangan abahku, aku dibonceng olehnya dengan beberapa tas berisi pakaianku dan perbekalan untuk di pondok. Kutarik napas dalam dalam sambil membayangkan saat saat indah bercengkrama bersama teman teman di Pondok. Guna menguatkan diri, kuyakinkan diriku bahwa satu tahun telah kulalui, aku pasti bisa melanjutkannya. Hijau rumput lapangan sepak bola menjadi lahan parkir para wali santri yang beramai-ramai mengantarkan masing-masing anaknya untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Kucium tangan abahku dengan sedikit haru memohon restu dan doanya sambil berpamitan. Ku antar dan kutunggu bayang abahku yang mulai menjauh sampai tidak nampak oleh mataku, baru ku...

Nafilah

 Gadis kesayangan papa itu akhirnya dimasukkan ke pondok pesantren di perbatasan ibu kota provinsi Maju. Anak kedua dari empat bersaudara yang memiliki keluarga besar dan tinggal di desa Babol kecamatan Bolang yang kurang lebih 220 km dari kota Roso ibukota Provinsi Maju. Dengan logat yang khas, Nafilah bersosialisasi dengan teman teman baru yang datang dari berbagai wilayah. Meski sempat merasakan cemas kurang lebih satu pekan, Nafilah mampu beradaptasi dengan sekolah asrama. Ia termotivasi dengan kakak sulungnya yang sudah lebih dulu masuk pondok pesantren di provinsi Mulya yang harus ditempuh dengan kapal laut atau pesawat udara dari provinsi Maju. Setelah satu tahun menempuh  pendidikan di pondok pesantren As-Salam Kampung Damai Provinsi Maju, Nafilah naik ke kelas 2 setara kelas 8 sekolah menengah pertama. Ia duduk tepat di sampingku. Kami pun akhirnya menjadi sahabat yang sering bercengkrama dan tak jarang berbagi jajan.  Hari itu Nafilah, tiba-tiba dijemput saat ka...

Tekun pangkal sukse

 Namanya Lailah, anak bungsu dari 2 perempuan bersaudara. Ayah dan ibunya adalah pegawai pemerintah yang bekerja di kantor yang berbeda. Ia tinggal di Desa Sukajaya Kabupaten Jaya yang terletak kurang lebih 213 km dari ibukota Provinsi Maju. Desa ini menjadi daerah perebutan kekuasaan sehingga tak jarang terjadi perpecahan  yang mengorbankan anak-anak tak berdosa. Salah satunya Lailah yang harus menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di sekolah darurat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar, Lailah melanjutkan pendidikan di Kota Roso Ibu Kota Provinsi Maju. Kami pun dipertemukan di Pondok Pesantren As-Salam, pendidikan setara Sekolah Menengah Pertama yang terletak di perbatasan ibu kota provinsi Maju tepatnya di kampung damai. Lailah yang ku kenal, adalah anak sederhana, cerdas, rajin dan shalihah. Di pondok kami, Lailah termasuk anak orang kaya, yang minta apa saja bisa dibelikan. Namun, ia sangat sederhana, tidak pernah mencolok dalam berpakaian bahkan dalam berb...

Allah Maha Penyembuh

  Menjadi seorang mahasiswa yang juga aktif di organisasi internal kampus, dan juga nyambi kerja mengurus yayasan serta berdagang adalah caraku menikmati hidup dengan berbagai kesibukan yang baik agar terhindar dari kesibukan yang buruk. Namun tak jarang juga ku-habiskan waktu untuk bersosial media yang lumayan berlebihan meski hanya untuk menulis status kata Capek. Sampailah pada satu masa sakitku dimana kakiku terasa sulit untuk bertumpu. Tidak terasa demam  atau pun sakit di bagian tubuhku yang lain. Di usia kurang lebih 22 tahun, pikir ku bisa jadi relatif muda untuk menderita sejenis penyakit asam urat atau pun kolesterol. Saat berobat ke dokter pun tidak mendapat jawaban yang pasti terkait penyakit yang kuderita. Dokter hanya memberikan obat perada nyeri dan anti biotik untuk ku minum. Pekan berganti, obat dari dokter akhirnya habis. Seperti ketergantungan obat, kakiku terasa sakit dan sulit bertumpu jika tidak minum obat dari dokter, bahkan kulitku seperti mati rasa set...