Langsung ke konten utama

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya.


Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi. 


Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran. 


Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak nya bisa makan.


Mereka makan ubi atau sejenis umbi-umbian yang kemudian dihaluskan itu pun adalah sisa sisa dari hasil panen yang harus dicukupkan.


Selanjutnya dalam perihal keyakinan atau agama saat itu. Ia belum mengenal namanya Islam. Bisa jadi seperti tidak ada hal yang perlu diajarkan dan menjadi penting. Namun saat itu ia ikut beribadah ke gereja dan siapa pun yang ingin beribadah ke masjid juga tidak ada larangan. Yang penting bisa hidup dan melanjutkan kehidupan. Mereka bebas untuk memilih keyakinan atau agama mereka.


Sampai akhirnya, kakak pertamanya pun masuk Islam saat duduk atau berusia sekolah menengah atas. Saat itu ia sering mendengar kakak sulungnya membaca Al-Qur'an. Ia pun mulai tertarik dan selalu memperhatikan kakaknya. Hingga iapun mempelajari Islam dan memutuskan untuk untuk memilih agama Islam menjadi pedoman hidupnya.


Ia juga anak yang cerdas dan berprestasi. Ia punya mimpi dan bebas bermimpi tanpa batas. Suatu hari mahasiswa dari universitas ibukota datang ke sekolahnya dan kemudian mengadakan lomba yang akhirnya ia dinobatkan menjadi pemenang dan juaranya. Ia pun mendapatkan beasiswa untuk dapat melanjutkan pendidikan kuliah di universitas ibukota. Ia sangat senang dan berusaha berpikir bagaimana cara untuk mewujudkan setiap impiannya.


Tibalah waktunya untuk ia berangkat ke ibukota dengan segala perjuangan numpang dengan kakak yang saat itu pula bekerja ke ibukota. Saat tiba di ibukota ia mulai berpikir bagaimana untuk melanjutkan dan berjuang hidup di kota ini. Iapun mencari dan menghubungi pihak kampus serta mahasiswa yang pernah memberinya info dan hadiah terkait bersiswa hadiah hingga akhirnya ia diterima dan kuliah di universitas ibukota tersebut.


Alhamdulillah dapat beasiswa kuliah, namun jarak untuk ke kampus tersebut pun lumayan jauh sehingga butuh akomodasi yang lumayan dan mendorongnya untuk berkerja sana sini. Mulai dari jualan dan antar koran, menjaga toko, atau berkerja dan diupah yang penting adalah bagaimana mendapatkan biaya untuk melanjutkan kehidupan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...