Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke orangtua kandungku.
Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku.
Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Seperti biasa karena tidak ada jemputan, kami beramai-ramai jalan kaki dari pondok sampai dengan mendapat tumpangan untuk sampai ke rumah. Ini adalah kali pertama saya turun bersama sama teman-teman dengan penuh canda tawa jalan bersama menyusuri jalan sepi kendaraan dan dipenuhi santri pondok yang izin pada hari tersebut.
Sebenarnya dalam hati masih sangat khawatir apalagi ketika terngiang-ngiang kata-kata ibu agar tidak boleh pulang sendiri dari pondok. Namun pikiran negatif itu kuenyahkan agar tidak khawatir berlebihan. Baiklah tidak usah cemas berlebihan, biarkan saya menikmati perjalanan kali ini agar bisa merasakan apa yang belum pernah kurasakan setelah memasuki tiga tahun pendidikan di pondok tercinta.
Setelah menempuh kurang lebih perjalanan tiga kilometer yang hanya diisi dengan ladang kiri kanan, kami pun tiba mendekati perumahan warga desa tetangga. Kendaraan mulai nampak lalu lalang di jalan raya, selanjutnya salah satu dari kami pun menahan angkot dan bersama-sama naik angkot berwarna biru. Hatiku masih membayangkan bagaimana jika orangtuaku datang untuk menjengukku di pondok hari ini. Apa yang harus kukatakan dan alasan apa. Apakah orangtuaku mau menerimanya. Segera ku tanyakan kepada teman bagaimana cara untuk menghubungi orangtuaku, namun masih kurang lebih tiga puluh menit perjalanan untuk dapat sampai dengan selamat ke rumah teman tempat tujuan kami.
Kurang lebih pukul 10 Pagi, kami sedang dalam perjalanan ke rumah teman. Namun sebelum itu, kami harus singgah dulu di pasar untuk membeli kebutuhan yang kami perlukan dalam pentas seni pekan depan sesuai dengan tujuan kami meminta izin keluar pondok. Tak terasa sudah sekitar 3 jam kami bersama dan belum sampai di rumah. Setelah melaksanakan shalat Dzuhur bersama teman-teman di mushalla dekat pasar kota tempat kami berbelanja. Kami pun makan bersama teman-teman. Kami masih bersama-sama kurang lebih lima orang, saya dan empat teman sekamar dan sekelasku. Kami pun makan di warung bakso dengan penuh canda dan tawa hingga sekitar jam setengah 2 kami sampai di rumah teman yang tidak jauh dari pasar kota tempat kami berbelanja.
Saat tiba di rumah teman, saya dengan segera meminta tolong kepada temanku agar dapat dipinjamkan alat komunikasi dan mengabarkan perihal diriku kepada orangtuaku. Namun, ternyata belum sempat ku hubungi, telepon tersebut berdering dan memberitahukan bahwa ada telepon dari salah satu ustad/guru kami di pondok pesantren. Beliau bertanya perihal keberadaan ku apakah masih bersama temanku. Karena ternyata orangtuaku sudah sangat khawatir dan bertanya perihal keberadaan ku yang sejak pagi tadi kurang lebih jam 10 pagi datang menjengukku di pondok pesantren.
Tanganku tiba-tiba seperti menggenggam es batu dan kedinginan. Jantungku mulai berdebar kencang. Rasa bersalah menyelimuti hati dan pikiranku. Maafkan saya ibu, ayah. Saya lambat memberitahu kabar kepada kalian hingga membuat khawatir. Saya pun bingung harus melakukan apa dan bagaimana. Hingga akhirnya kurang lebih pukul 3 sebelum shalat ashar. Orangtuaku menjemputku di rumah teman untuk pulang kerumah.
Setelah mengkonfirmasi kronologis bagaimana akhirnya saya bisa pulang pada Jum'at itu, . Orangtuaku pun sedikit kecewa dan khawatir berlebihan setelah kurang lebih tiga jam menunggu kabarku disaat berkunjung ke pondokku pagi tadi. Kakakku laki-laki satu-satunya menasihatiku dengan penuh khawatir. Bagi mereka saya adalah putri bungsu yang bagaimana pun juga di usia kelas 3 tersebut masih berumur kurang lebih 15 tahun dan sangat riskan jika harus keluar pondok dengan dan tanpa alat komunikasi. Memang sih kami hanya dua bersaudara jadinya saya adalah bungsu dan anak perempuan satu-satunya. Sambil menangis saya pun meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
Setelah memaafkan dan menasihatiku, orangtuaku tetap dengan keputusannya untuk memindahkan ku dari pondok ke sekolah madrasah tempat ibuku bekerja mengabdikan diri sebagai pendidik dan guru agama Islam. Seluruh penghuni pondok kaget dan merasa bersalah terutama teman-teman ku yang mengajakku untuk turun izin keluar dari pondok. Namun, saya tak punya alasan untuk menentang dan berdiskusi dengan orang tua agar tidak pindah dari pondok. Saya hanyalah anak yang masih dalam pengawasan penuh oleh orangtuaku. Saya pun akhirnya taat dan melanjutkan pendidikan di madrasah tempat ibu mengajar.
Komentar
Posting Komentar