Langsung ke konten utama

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi. 


Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris.


Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dinding koperasi santri yang saat itu sepi sedang menunggu santri puteri untuk dilayani ketika belanja di Koperasi santri puteri. Rika menerima paket dari piket jaga dengan sedikit heran dan penuh tanda tanya. Namun ia menerimanya dan mengucapkan terimakasih setelah piket jaga yang mengantarkan barang tersebut menyampaikan bahwa pengirimnya adalah al-akh Ghazi.


Ghazi yang semakin rapi dalam penampilan juga ramah dengan siapa saja ternyata memiliki selera humor yang membuatnya tidak canggung bergaul dengan teman teman putri sekelasnya. Seiring berjalan nya waktu dengan pertemuan yang intens setiap hari, Ghazi akhirnya menyadari bahwa seorang santriwati telah menempati salah satu di sudut ruang dalam hatinya.


Rika seorang santriwati yang sangat rapi dan bersih serta selalu menjaga penampilannya. Bukan karena mencari perhatian. Tapi hal tersebut adalah murni dari salah satu karakter dan ciri khasnya. Putri tunggal nan bungsu dari tiga bersaudara ini mulai menyadari gerak gerik Ghazi yang dianggapnya sebagai seorang sahabat dan kakak yang baik, ketika menerima bungkusan belanjaan pesanan yang diantarkan oleh adik kelas putera yang bertugas piket jaga hari itu.


Kebaikan Ghazi terhadap Rika terus berulang dengan alasan membantu  dan tolong menolong. Mulai dari saling pinjam buku jika ada tugas yang harus dikerjakan sampai dengan saling tolong menolong dalam membeli pesanan ketika salah satu dari mereka berdua ada yang izin keluar pondok. Hingga hubungan mereka perlahan menjadi  rahasia umum bagi teman teman sekelas atau seangkatan mereka berdua dengan memaklumi rasa sayang antara kakak dan adik layaknya sahabat.


Tidak ada hubungan pasti semisal pacaran yang diketahui oleh teman sekelas mereka berdua, Ghazi dan Rika. Kecuali diri mereka berdua atau beberapa teman dekat mereka. Hal tersebut menjadi normalisasi antara mereka. Mereka berdua pun takut jika dianggap pacaran yang kemudian mengharuskan mereka untuk membaca Super atau Surat Pernyataan setelah diproses pada bagian pengasuhan santri.


***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...