Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.
Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris.
Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dinding koperasi santri yang saat itu sepi sedang menunggu santri puteri untuk dilayani ketika belanja di Koperasi santri puteri. Rika menerima paket dari piket jaga dengan sedikit heran dan penuh tanda tanya. Namun ia menerimanya dan mengucapkan terimakasih setelah piket jaga yang mengantarkan barang tersebut menyampaikan bahwa pengirimnya adalah al-akh Ghazi.
Ghazi yang semakin rapi dalam penampilan juga ramah dengan siapa saja ternyata memiliki selera humor yang membuatnya tidak canggung bergaul dengan teman teman putri sekelasnya. Seiring berjalan nya waktu dengan pertemuan yang intens setiap hari, Ghazi akhirnya menyadari bahwa seorang santriwati telah menempati salah satu di sudut ruang dalam hatinya.
Rika seorang santriwati yang sangat rapi dan bersih serta selalu menjaga penampilannya. Bukan karena mencari perhatian. Tapi hal tersebut adalah murni dari salah satu karakter dan ciri khasnya. Putri tunggal nan bungsu dari tiga bersaudara ini mulai menyadari gerak gerik Ghazi yang dianggapnya sebagai seorang sahabat dan kakak yang baik, ketika menerima bungkusan belanjaan pesanan yang diantarkan oleh adik kelas putera yang bertugas piket jaga hari itu.
Kebaikan Ghazi terhadap Rika terus berulang dengan alasan membantu dan tolong menolong. Mulai dari saling pinjam buku jika ada tugas yang harus dikerjakan sampai dengan saling tolong menolong dalam membeli pesanan ketika salah satu dari mereka berdua ada yang izin keluar pondok. Hingga hubungan mereka perlahan menjadi rahasia umum bagi teman teman sekelas atau seangkatan mereka berdua dengan memaklumi rasa sayang antara kakak dan adik layaknya sahabat.
Tidak ada hubungan pasti semisal pacaran yang diketahui oleh teman sekelas mereka berdua, Ghazi dan Rika. Kecuali diri mereka berdua atau beberapa teman dekat mereka. Hal tersebut menjadi normalisasi antara mereka. Mereka berdua pun takut jika dianggap pacaran yang kemudian mengharuskan mereka untuk membaca Super atau Surat Pernyataan setelah diproses pada bagian pengasuhan santri.
***
Komentar
Posting Komentar