Ternyata....
Terimakasih Tuhan atas segala limpahan rahmat dan hidayah_Mu.
Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman menjenguk seorang Ibu yang tak lain adalah Ibu dari teman kami. Beliau adalah Ibu yang akrab dengan kami. Alhamdulillah... keadaannya mulai membaik dibanding sebelumnya. Nampak dari bahasa tubuhnya yang menyambut kami dengan gurauan khususnya. "Pantas, kita absen, cuman kamorang yang belum datang.." ledek si Ibu sembari memberi tangannya untuk dicium.
Kamipun larut dalam gurauan bersama keluarga Ibu tersebut. Namun, ada satu nasehat yang menuntut diri untuk mentadabburinya. ketika sang Ibu tua renta tersebut yang notabene dikenal sebgai aktivis pengajian para Ibu, menyarankan untuk membaca QS. Al-Mulk di sela pembicaraan kami tentang berita bencana di mana-mana pada awal tahun ini.
***
Entah apa yang sedang kupikirkan. Membacanya merupakan target rutinitasku. Tapi, untuk mentadabburinya seakan harus punya waktu yang cukup untuk diluangkan. Sejenak kutermenung dan terngiang sepenggal tausiyah Ustad Yusuf Mansyur (YM). "Gimana mau paham, klo nggak pernah baca!!!" ledek ustad YM dengan gurauan khasnya.
***
Promo kaset Murattal Ustad YM menarik perhatian dan pendengaran. Khususnya sampai pada ayat 16 (enam belas) QS. al-Mulk. Hatipun berdetak ingin menangis. Padahal artinya belum dibaca. Yeah... kiranya begitu jika sesuatu yang disampaikan dari hati maka Insya Allah sampai ke hati pula.
***
Bisa jadi adalah satu hikmah saat membaca Qur'an menjadi target rutinitas, maka memahaminyapun menjadi buah dari amal ibadah itu sendiri.
Goresan Pena dari Bilik Karya 22 Januari 2014
Terimakasih Tuhan atas segala limpahan rahmat dan hidayah_Mu.
Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman menjenguk seorang Ibu yang tak lain adalah Ibu dari teman kami. Beliau adalah Ibu yang akrab dengan kami. Alhamdulillah... keadaannya mulai membaik dibanding sebelumnya. Nampak dari bahasa tubuhnya yang menyambut kami dengan gurauan khususnya. "Pantas, kita absen, cuman kamorang yang belum datang.." ledek si Ibu sembari memberi tangannya untuk dicium.
Kamipun larut dalam gurauan bersama keluarga Ibu tersebut. Namun, ada satu nasehat yang menuntut diri untuk mentadabburinya. ketika sang Ibu tua renta tersebut yang notabene dikenal sebgai aktivis pengajian para Ibu, menyarankan untuk membaca QS. Al-Mulk di sela pembicaraan kami tentang berita bencana di mana-mana pada awal tahun ini.
***
Entah apa yang sedang kupikirkan. Membacanya merupakan target rutinitasku. Tapi, untuk mentadabburinya seakan harus punya waktu yang cukup untuk diluangkan. Sejenak kutermenung dan terngiang sepenggal tausiyah Ustad Yusuf Mansyur (YM). "Gimana mau paham, klo nggak pernah baca!!!" ledek ustad YM dengan gurauan khasnya.
***
Promo kaset Murattal Ustad YM menarik perhatian dan pendengaran. Khususnya sampai pada ayat 16 (enam belas) QS. al-Mulk. Hatipun berdetak ingin menangis. Padahal artinya belum dibaca. Yeah... kiranya begitu jika sesuatu yang disampaikan dari hati maka Insya Allah sampai ke hati pula.
***
Bisa jadi adalah satu hikmah saat membaca Qur'an menjadi target rutinitas, maka memahaminyapun menjadi buah dari amal ibadah itu sendiri.
Goresan Pena dari Bilik Karya 22 Januari 2014
Komentar
Posting Komentar