Langsung ke konten utama

SEDIH JUGA PENTING

sungguh mengagumkan perihal seorang mukmin. Ketika dikaruniai nikmat kemudian ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Begitupula ketika ia ditimpa musibah kemudian ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya. Semua adalah tuntunan Rasulullah saw yang tak pernah luput dari segala jenis kebaikan.

Mengutip dari Kata Malik bin Dinar:
"Segala sesuatu mempunyai penyerbukan. Kesedihan itu serbuk yang melahirkan amal shalih. Tiada seseorang yang bersabar atas amal shalih kecuali dengan kesedihan"

Kesedihan dimaksud adalah kesedihan yang menjadi bahan bakar atau penyemangat untuk mengerjakan amal shalih. Keseihan yang lahir dari Muhasabah diri. Bukan hal yang sekedar lahir dari ego pribadi ataupun ratapan diri atas suatu masalah maupun ujian.

Banyak diantara kita yang terjerumus oleh kesedihan berkepanjangan. kesedihan yang tak berujung. hingga tergoda oleh bisikan syaitan takni berputus asa dari Rahmat Allah. Na'udzubillahimindzalik.....

Pembeda antara Kesedihan-kesedihan ini adalah Respon diri sesuai kadar keimanan masing-masing. so.... apa kabar imanmu hari ini?

mengutip dari kisah Sabahat yang pernah bertanya kepada Rasulullah. Rasululllah saw menjawab: "Mu'min yang baik adalah yang baik akhlaknya. dan Mu'min yang cerdas adalah Mu'min yang selalu mengingat kematian dan menyiapkan amalnya"

Tak perlu waktu yang banyak, tak perlu energi yang banyak. semua hanya butuh kemauan dan kesanggupan. Kapan kita mau untuk intropeksi diri? dan kapan kita sanggup untuk meluangkan waktu walau hanya 5 menit?
semua sudah tersedia pada 5 waktu wajib kita selaku seorang muslim yang bisa digunakan sebagai tahap intropeksi diri.

Do'a Nabi sebelum salam dalam setiap shalat yang artinya:
"Ya Allah, aku berlindung dari azab kubur, dan aku berlindung dari azab neraka Jahannam, dan aku berlindung dari fitnah hidup dan fitnah mati dan dari fitnah Masihiddajjaal"
   
Mari perkuat Ruhaniyah melebihi Lahiriyah untuk mancapai kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Wallahua'lambisshawab......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...