Langsung ke konten utama

Sepenggal Episod

"Fir, ayolaah....!!!" bujuk rayu manja Anha pada sahabat karibnya.
Masfira adalah nama lengkapnya. Seorang Remaja yang terlihat angkuh dalam kesehariannya. Padahal bagi Anha, Fira nama panggilannya adalah sosok sahabat pengertian bahkan sangat humoris.
"Males!" Jawaban singkat Fira membuat Anha mesti mencari alasan yang tepat dan menyenangkan agar Fira menyetujui kemauannya.
"Cuci mata, cuci mulut plus cuci dompet. Promise sista....." Anha kembali membujuk Fira dengan istilah pergaulan mereka. Cuci mata yang identik dengan segala hal yang menyenangkan untuk dipandang. Cuci mulut yang identik dengan wisata kuliner. Dan cuci dompet yang tak lain adalah shopping. 

Anha adalah sosok sederhana yang tampak apatis dengan penampilannya. Anak cerdas dengan hobby membaca dan tidur. Sedikit yang mengetahuinya adalah anak konglomerat di kampungnya. Bapaknya adalah seorang Pengusaha Lintas Provinsi yang memiliki omzet triliyun/tahun. Yeah, lumayanlah dibanding dengan teman-teman se-asrama. Sedangkan Ibu Anha adalah seorang Pegawai Negeri Sipil Golongan Eselon II. Meski butuh waktu 45 menit setiap kali ke kantor dikarenakan jarak, Ibu Anha tetap memilih untuk tinggal bersama suami tercinta dan tiga orang anaknya di Desa yang tak dapat dijangkau sinyal telepon seluler karena letaknya di sebelah gunung bagian ujung di Kabupaten tersebut.

Promise is promise!” Fira pun segera menyambut tawaran Anha dengan senang hati.
Hmmmm…..” Mata mereka bertemu dan saling memandang sambil mengukir senyum semanis-manisnya di wajah masing-masing.
Lima menitpun berlalu menghampiri kedua remaja yang sedang mencari alasan yang tepat untuk mendapatkan izin dari Bagian Pengasuhan Asrama.
Menjenguk kakakku di Rumah Sakit” celetuk Anha memecahkan keheningan di antara mereka.
Check-up, mataku sering perih belakangan ini” ketus Fira menyambung alasan Anha.
Hahahahahaha…” kedua sahabat itupun menikmati khayalan dan keyakinan mereka untuk diberikan izin dengan alasan yang sengaja mereka buat-buat.
* * *

Jalan tak selamanya lurus. Butuh belok ke kiri dan belok ke kanan untuk sampai ke tempat tujuan. Beras harus melalui proses untuk menjadi nasi agar bisa dimakan” nasihat Wali Kelas Anha tiba-tiba serasa dibisikkan di telinganya ketika Bagian Pengasuhan tidak memberikan izin dengan alasan perizinan pekan ini sudah penuh.
Berbagai cara telah mereka lakukan agar mendapatkan izin. Bahkan jurus andalan mereka yakni merengek memohon iba juga tak kunjung berhasil. Tiga jam tlah berlalu. Usaha merekapun tidak membuahkan hasil. Dengan penuh kekesalan mereka harus menerima keputusan dan kembali ke kamar masing-masing.
Hati merekapun serasa hancur. Tidak bersemangat setelah beberapa hari mengejar target penyelesaian tugas pekan ini agar dapat menikmati rencana liburan mereka. Yup, ‘refreshing’ begitulah istilah mereka.
* * *

Silahkan…!”sapa lelaki berkaos putih bak actor korea itu dengan ramah.
Trima kasih…”balas Anha dengan kikuk yang tak dapat disembunyikan dari wajah polosnya.
Hati Anha bergetar, dan jantungnya terus berdegup kencang.
Mungkinkah lelaki ini sungguh mempesona atau inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?!” Anha mulai disibukkan dengan pertanyaannya sendiri.
Anha sendiri kali ini, tanpa sahabatnya, Fira. Hal ini membuat Anha kurang percaya diri pada moment seperti ini. Padahal ini bukan kali pertama Anha bertemu seseorang yang mempesona bagi kaum Hawa. Anha pun semakin kikuk ketika mata mereka bertemu dalam pandangan, bahkan ke-GR-an menjadi sesuatu dalam diri lelaki tersebut.
owh, Anha ya?” Tanya lelaki serkulit sawo matang ini sambil melirik nametag pada dada Jaket Anha.
“…” Anha hanya membalas senyum dan tersipu.
kenalkan, namaku Andhy” penuh percaya diri Lelaki tersebut memperkenalkan dirinya.
Kemudian mereka terlibat dalam beberapa percakapaan sapaan secara umum. Baik soal dari mana dan mau kemana. Hingga saatnya mereka mereka terpisah oleh tujuan perjalanan masing-masing.
kiri pak…!” pinta Anha pada Pak Sopir untuk menghentikan angkotnya.
* * *

 to be continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...