Langsung ke konten utama

LAPAR


Rumorpun beredar. Media semakin gila. Penguasa puas, hasratnya terpenuhi. Pengikut hilang arah. Pengamat pura-pura bingung. Si Cerdas menambah referensi.
Biarkan mereka tertawa jika itu adalah pilihannya. Biarkan mereka menangis jika itu dapat menjadi penyerbuknya. Tapi kedhaliman adalah haram dalam tuntunan (hadits). Berharap kesabaran melapangkan rintihan.
Hidup adalah plihan. Pilihanmu adalah nasibmu. Jika pilihanmu adalah hidup di dunia, maka nasibmu adalah berproses dalam persoalan hidup hingga waktu yang ditetapkan.
***
“...tidak mungkin ditangkap kalau tidak bersalah...!!!” jerit batinku dalam keterbatasan. Lupa akan asas hukum Indonesia yang menganut ‘praduga tak bersalah’. Hamba yang berlumuran dosa, butuh detergen magfirah (pengampunan) untuk mengangkat noda hati yang menyebabkan su’u dzon (prasangka buruk). Su’u dzon dengan seseorang yang tak lain adalah seorang ustad. Beliau adalah seorang qiyadah dalam jama’ah kami. Wajiblah seorang kader atau dalam jama’ah ini taat pada pemimpinnya. Rasanya seperti ditampar. Saat tidur pasti langsung bangun. Saat melamun pasti langsung buyar. Dan saat makan pasti muntahlaah... Ibarat 1001 alasan harus segera dicari agar iman ini tidak goyah. Akalku berlomba dengan bisikan setan. Wawasanku berkelahi dengan hasutannya. Imankupun gengsi untuk menerima makhluk terkutuk.
Takdir dilahirkan dengan Islam. Menganut agama adalah pilihan. Beruntung, Al-Qur’an selalu menjadi penawar untuk hati yang luka, juga yang dahaga akan ilmu. Hingga kisah Nabi Hidr menghampiriku. Malupun menyelimuti amarah.
Allah...Dialah Dzat Yang Maha segalanya. Yang Maha Mencukupi di saat kurang. Sang Pemilik Cahaya di saat Gelap. Hikmah kemudian Islam menjunjung tinggi Orang yang berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11) mengingatkan diri untuk fakkir qabla an ta’zim (berpikir dahulu sebelum berbuat). 
***
“Hakim Lapar, Penuntut Umum Lapar, Pengacara Lapar, semua pasti lapar” celetuk Pria separuh baya menghampiri terdakwa yang tak lain adalah sahabatnya. Terdakwa kasus Penganiayaan anak. Terdakwa dituntut 10 bulan oleh Jaksa Penuntut umum dan 6 bulan oleh putusan Hakim.
Terdakwa adalah salah seorang Pelopor Pendidikan di Desa pasca kerusuhan Poso. Dilatarbelakangi oleh emosi. Panggilan jiwa untuk membangun kembali tanah kelahirannya dengan alasan agama sebagai dasar cinta tanah air.
Tahun ke tahun rantauan. Tiba saatnya untuk pulang kampung dengan cita-cita dan cinta keluarga. Meski membangun banyak tanya bagi anak dan istri. Bahkan cemohan rekan kerja atas putusan yang terlalu dini untuk pulang kampung. Dimana sebagai Pegawai Negri Sipil berebut dan berbagi jabatan mesti dinikmati.
Latar belakang yang berbeda melahirkan cara pandang yang berbeda. Meski mata kita sama sehatnya. Bahkan jumlah sel dalam otak kita sama. Mungkin masing-masing kita punya cara dalam menggunakannya.
Menjadi seorang Da’i adalah Pilihannya. Darul Ijtihad (Da’I) adalah yayasannya. Di Desa yang terletak 20 km dari ibu kota kabupaten, perbatasan antar kabupaten tetangga, dan sebagai jalan lintas Propinsi. Ketika Judi dan khamar menjadi dambaan masyarakat Desa tersebut. Alasan Moral mendasari untuk bersikap tegas. Pro dan kontra mengawali perjuangan. Setiap penduduk punya alasan untuk menentukan sikap.
Seiring dengan berjalannya waktu. Kisahpun bergantian mendampinginya. Diantaranya masih bersama dalam episode kehidupan dunia dan lainnya sudah mendahului ke pengadilan Sang Pemilik Jagad Raya.
***
“...Mohon terima anak saya sekolah di sini...” sepenggal kalimat rayuan dan bujukan Ibu anak bermasalah tersebut kepada Bapak saya selaku Pimpinan Lembaga Pendidikan Wajib Belajar Sembilan Tahun, kembali terngiang di telingaku. Rasanya semakin menusuk dengan bisikan lanjutan ini. “...siap-siap jow torang dikase pusing dengan ulahnya...” celetuk salah seorang Guru mengawali sambutan non-formal diterimanya anak bermasalah tersebut.
Keluhan dewan Guru bergantian menjadi curhat. Perlawanan beberapa siswa bergantian sebagai alasan pembelaan diri. Berkelahi menjadi hobby. Berbohong menjadi kebiasaan. Anak bermasalah orang tua tidak terima disalahkan. 
Saat Pendidikan dan Pengajaran tidak beriringan. Bahkan tidak bisa saling melengkapi. Harapan Orang tua terhadap anak hanya menjadi mimpi dalam bunga tidur manusia. Siap mendidik dan mampu mengajar adalah kebutuhan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan seorang anak. Dimana dan sedang apa pada menit sekian ke jam sekian? Siapa yang bertanggung jawab? Saling menyalahkan jika masalah anak dihadapkan. Orang tua vs Guru. Suami vs Isteri. Namun khususnya prestise adalah milik orang tua atas prestasi anak.
***
“abah, tolong abah, tolong abah...” teriak seorang Ibu Guru menghindari tendangan seorang siswa akibat melerai dua siswa yang sedang berkelahi. 
Abah yang diartikan sebagai Ayah menjadi panggilan akrab masyarakat sekitar yang dipengaruhi anak-anak didik beliau. Abah adalah Pimpinan Lembaga Pendidikan Wajardikdas (Wajib belajar pendidikan dasar) sembilan tahun, dengan Misi Lembaga Pendidikan Gratis secara totalitas, Gratis biaya pendidikan, pemondokan, makanan, pakaian dan kesehatan. Hingga Rumahnya pun terletak di Lingkungan tersebut. Anak didik beliau terbagi dua macam: Kalong dan MukimMukim bagi pelajar yang mondok atau tinggal di asrama yang tersedia. Kalong bagi pelajar yang tidak mondok.
Pria separuh baya tersebut kemudian menoleh dan menghentikan langkah kakinya dari Rumah menuju kendaraan. Beberapa detik terlihat seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya sejenak mengalihkan perhatian ke Guru dan dua anak yang sedang berkelahi di depan ruang kelas yang tak jauh dari rumahnya.
“sini, dua-duanya ke rumah, tolong Ibu Guru panggil orang tuanya...!” kata Abah mengendalikan amarah saat posisinya sedang berdiri. Abahpun masuk ke dalam rumah dan meninggalkan kedua anak tersebut di ruang tamu untuk menunggu Guru serta orang tuanya. Bagi Abah tak ada pengaruh untuk menghakimi anak bermasalah ini. Harapan komunikasi antara dewan guru, orang tua dan anak bisa menjadi solusi dalam menghadapi masalah tersebut. Namun, semuanya menjadi miskomunikasi ketika anak bermasalah tersebut tiba-tiba melarikan diri dari Lingkungan tersebut.
Tiga hari kemudian tersiar kabar bahwa anak tersebut telah dirawat di rumah sakit dengan memar di badan dan muntah-muntah. Pihak Sekolah khususnya Abah kaget menjadi pihak terlapor sebagai penganiaya anak bermasalah tersebut. Beliau tidak percaya dengan kabar ini. Akalnya seakan tidak bisa menerima. Karena anak tersebut hampir tidak tersentuh olehnya. Keinginan untuk mengklarifikasi masalah inipun terhambat dengan berbagai kesibukan lainnya.
 Abah kemudian percaya bahwa beliau berstatus terlapor ketika surat pemanggilan dari kepolisian sampai ke rumahnya. Tak ada hal yang membebani pikirannya. Mencari alasan untuk menjadi bersalah hanya membuatnya bingung. Abahpun mengikuti proses hukum tersebut. Namun, perkembangan kasus ini samar baginya. Beliau hanya berusaha menjadi warga negara yang patuh hukum dengan keterbatasan pengalaman Hukum Indonesia. Kemudian Wajib lapor adalah jawaban sementara dari perkembangan kasus ini. Dengan alasan benar dan salahnya terlapor/terduga akan terbukti di Pengadilan.
Detik ke menit, menit ke jam, pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, hari ke pekan, pekan ke bulan. Pada bulan kemudian Abah dipanggil via telpon oleh Kepolisian. Alasan menghargai kepolisian menafikan diri akan hak dalam hukum acara dimana seseorang mesti dipanggil dengan surat secara resmi. Singkat cerita, biarkan sepenggal percakapan ini mewakili episodenya:
Jaksa: “...tolong ustad, masuk saja dulu, tidak lama ko...”
Abah: “...tapi pak...”
Jaksa: “...tolong ustad, tolong saya ustad, tidak lama, saya juga yang keluarkan ustad nanti...”
Abah: “...kalau begitu...saya ikhlas pak...silahkan...tapi saya izin telpon pamit ke keluarga...”
Jaksa: “...ya, boleh...”
Abah:“...assalamu’alaikum, chia dimana?... dengar dulu papa bicara, tolong bilang bae-bae sama mama kalau papa mesti masuk rutan (rumah tahanan) hari ini, insya Allah tidak lama, papa pamit ee, assalamu’alaikum...”
Chia: “...wa’alaikumsalamwarahmatullah...”
***
   






Komentar

  1. penuh haru dan inspirasi, walau banyak yg mengatakan ia kalah apalagi sang pembenci namun pada dasarnya ia adalah pemenang karena telah memberikan pelajaran berharga pada kita sebagai warga yg patuh di depan hukum walau hukum tengah menzoliminya... ia punya alasan menolak tpi tak di lakukannya krn ia tahu mudharatnya jauh lebih besar,,,, biarkan mereka, biarkan mereka tertawa atas kemenangannya yg pd dasarnya mereka menelanjangi diri sendiri. sang Abah telah berdiri diatas prinsipnya menerjang kabut kemaksiatan di sekelilingnya dan itu yg menghantarkannya menemui ujiannya.... ujian bagi sang pemenang salah satunya adalah keterasingan (penjara) dan tidak sedikit para ulama menorehkan tinta emas sejarah islam telah melewatinya. Ibnu Taimiyah misalnya, ia berkata " sekiranya penguasa memenjarakanku maka semakin banyak waktuku utk bertaqarub kpd Allah, sekiranya ia mengusirku (melepaskanku) maka semakin luas lahan dakwah yg ku datangi dan sekiranya ia membunuhku maka sama halnya ia mempercepat pertemuanku dengan tuhanku,,,,,


    map klw komentnya banyak salah, sekedar usul blognya di tambahin jumlah pengunjung dan lainnya....hehe..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...