Hari ini keluarga kami berduka. Saudara perempuan anak dari kakak ibuku atau tepatnya disebut kakak sepupu satu kali, telah berpulang ke rahmatullah Jum'at sore kurang lebih pukul 16.30 waktu setempat. Allahummagfirlaha, warhamha, wa'afiha, wa'fu 'anha...aaamiin. Hari ini kami keluarga terdekat dari tawaeli, poso, dan palu berkumpul di Desa Tinombo. Desa Tinombo merupakan ibu kota kecamatan. Tak heran jika suasananya
lebih ramai dibanding Desa tetangga. Bisa jadi Desa ini termasuk
tempatku sering singgah. Mulai dari kerabat, Keluarga kerabat, sanak family,
hingga iparku sendiri berasal dari sini. Akan tetapi, sering bukan
selalu, hingga adat istiadatnya bertahap ku baca atau ku temui.
Ketika sampai rumah almarhumah suasana rumah sudah hampir penuh dengan orang melayat. Mungkin dikarenakan kedatanganku sebagai keluarga dari kloter terakhir faktor waktu dan kesempatan. Untuk menghampiri si mayyitah butuh antri tempat dengan pelayat yang sedang membaca ayat al-Qur'an di sekitarnya. Senang dalam duka ketika berharap mayyitah dapat diantar dengan pertolongan Cahaya Ilahi untuk memperoleh tempat terbaik disisiNya. Lanjut saat beliau dimandikan, rasanya sedikit berdesakan dengan jumlah manusia. setelah berwudhu niat shalat jenazah kakiku melangkah ke luar rumah untuk berusaha mengalihkan susana hati sejenak. tampak di sekeliling rumah para pelayat berkisar sejumlah undangan acara pesta syukuran. mungkin almarhumah adalah keluarga besar walau beliau adalah anak tunggal, atau mungkin ini merupakan buah ukhuwah masyarakat Tinombo. Kemudian jenazah siap untuk dishalatkan. Tak dapat kupungkiri rasa kikuk ini. Suasana baru menuntut diri untuk beradapatasi. Kami muslimat diberi kesempatan untuk shalat jenazah terlebih dahulu di rumah, kemudian dilanjutkan ke Masjid oleh muslimin sampai mengantar ke kubur bersama para pelayat.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa melayat adalah wajib hukumnya. Namun dikarenakan hukum fardhu kifayah atau
mengguggurkan kewajiban bila telah terwakili, maka memungkinkan kita
untuk terlena atau bersikap apatis (cuek) akan hal tersebut. Padahal
bisa jadi banyak hikmah yang kiranya bisa kita petik darinya. Satu hal
yang menarik perhatianku. Bisa jadi karna hal ini sedikit berbeda dengan
lingkungan tempat tinggalku atau tepatnya di kampung kelahiran
bapakku. Mesti kuakui banyaknya pelayat pastinya juga bervariasi ku temui. Akan tetapi di daerah tempatku berdomisili masih jarang ditemui jamaah muslimat yang ikut shalat jenazah. bahkan terkadang jama'ah muslimin untuk shalat janazah hanya terdiri dari pegawai syara atau yang sering menyempatkan diri shalat jamaa'ah di Masjid.
Keyakinan terpatri dalam diri bahwa Allah maha segalanya. Setiap kita telah ditetapkan pada ajal masing-masing. Segala hasil hanyalah Allah yang Maha Penentu. Bergerak tanda hidup, beikhtiyar pada proses. Moga kita menjadi Husnul Khotimah. aaamiin...
Komentar
Posting Komentar