Assalamu alaikum Wr.Wb
Jamaah Tarwih yang berbahagia…
Coba kita perhatikan sikap kita. Ketika telepon bordering, ragapun tersentak segera menjawab telepon. Betul begitu??? Namun, kalau adzan mulai dikumandangkan dari Masjid maupun Musholah. Apa yang terjadi???
Setiap diri mencari alasan masing-masing. Ada yang beralasan masih cape’. Ada yang beralasan masih ngantuk. Ada yang beralasan waktunya masih panjang. Dan maaasih banyak alasan lainnya. Boleh begitu??? Naudzubillahimindzalik…
Masih banyak dari kita suka mengulur-ngulur waktu atau suka menunda-nunda shalat. Bahkan tanpa kita sadari dan tak dapat kita pungkiri, kita telah memberi perintah ‘TUNGGU’ kepada Allah swt. Massa’ Allah swt, Tuhan semesta alam, Sang Maha pencipta dan Maha segalanya disuruh tunggu??? Ibarat anak buah/bawahan yang menyuruh boshnya/atasannya dengan peritah ‘tunggu’, niscaya si anak buah tadi langsung dipecat.
Shoimin Rahimakumullah…
Padahal kita hanya butuh waktu lima menit untuk memenuhi panggilan Allah swt, untuk melaksanakan perintah shalat. Hanya dengan lima menit kita luangkan, Insya Allah mampu! Untuk makan saja, kita butuh waktu lebih dari lima menit. Bahkan untuk menonton bola, mustahil rasanya cukup lima menit.
Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Shalat itu tiang agama. Barangsiapa menegakkannya, berarti dia menegakkan agama. Barang siapa meninggalkannya (tidak menegakkannya) berarti dia meruntuhkan agama”.
Coba tengok ke kanan, tengok ke kiri dan tengok ke atas! Lihat dan perhatikan ruangan ini! Bisakah ruangan ini tegak tanpa tiang ? masihkah masjid ini bisa dipakai untuk shalat jika tidak memiliki tiang? Bisa??? Tanpa tiang niscaya tidak akan ada ruangan ini.
Lebih dari itu, shalat dinyatakan sebagai permulaan amal yang dihisab di hari kiamat. Rasulullah saw menegaskan, bahwa “Permulaan amal yang dihisab di hari kiamat ialah shalat jika shalatnya diterima, diterimalah segala amal yang lainnya. Dan jika shalat ditolak, maka di tolaklah semua amal yang lain”. Oleh karenanya dapat pula dikatakan bahwasanya shalat merupakan cahaya yang menjadi sinar penerang di hari kiamat. Itulah sebabnya, di saat menjelang wafat Rasulullah, beliau senantiasa berpesan kepada para sahabat dengan ucapan: “Ash-shalah…! Ash-shalah…!”
Jamaah tarwih yang berbahagia…
Shalat hendaklah dilaksanakan secara khusyu’. Betapa pentingnya khusyu’, di dalam menjalankan shalat, telah diperingatkan oleh Rasulullah saw, dalam sabdanya: “siapa saja yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan kejahatan (munkar), tidaklah shalatnya itu menghasilkan sesuatu selain menjauhkannya dari Allah”.
Upaya kita mendirikan shalat khusyu’ itu sesungguhnya dapat mengantarkan diri kita kepada pembentukan pribadi serta kepribadian yang bertanggung jawab. Mengapa demikian? Karena melalui shalat seperti itu, seseorang berarti mampu mengkondisikan dirinya dalam 6 (enam) keadaan:
1. Hudurul Qulub, yaitu kemampuan menghadirkan hati dalam keadaan yang kosong dari segala sesuatu selain yang dikerjakannya, yaitu kesadaran bahwa dirinya tengah menghadap Allah swt atau sedang mengingat-Nya
2. Tafahhum, yakni upaya pemahaman secara mendalam tentang makna yang terkandung dalam suatu ucapan. Dalam hal ini, segala ucapan atas kalimat-kalimat doa, pernytaan keyakinan, dan pujian kepada Allah di dalam shalat
3. Ta’zhim, artinya kesadaran diri dengan rasa pengagungan dan penghormatan. Keadaan ini merupakan konsekuaensi lanjut dari dua kesadaran terdahulu. Dalam keadaan ini, seseorang berbicara, berdialog, dan berpengharapan kepada Ilahi yang dibarengi dengan kehadiran hatinya, maka ketika itu pula ia mampu mewujudkan rasa pengagungan dan sekaligus memberikan penghormatan kepada yang dihadapi
4. Haibah, artinya perasaan takut. Ini merupakan efek dari kesadaran ta’zhim kepada-Nya. Akan tetapi yang dimaksudkan takut dalam konteks ini adalah suatu kesadaran takut akan hukuman-Nya, sekaligus ia bertekad untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang bakal menimbulkan hukuman itu
5. Raja’ atau pengharapan. Pemaknaan di dalam shalat melalui sifat ini, bahwa seorang hamba Allah yang shalat hendaklah mengharpkan ganjaran-Nya dengan penuh kesadaran, sebagaimana ia takut akan hukuman kepada Allah, disebabkan kelalaiaannya
6. Haya, artinya rasa malu. Kesadaran diri seperti ini timbul dari perasaan hati akan kelalaian diri serta pikiran telah melakukan dosa. Jadi sifat haya’ ini sebetulnya dapat menjadi faktor penguat untuk mengagungkan dan menghormati yang kuasa. Selain itu dapat mendorong seseorang untuk tidak lalai karena takut akan hukuman-Nya, sehingga pada gilirannya mempermudah segala harapan.
Jika kita mampu mengkondisikan enam hal ini dalam shalat kita, Insya Allah shalat yang kita laksanakan menjadi pencegah atas perbuatan keji dan munkar. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surah Al-‘Ankabut ayat 45:
Artinya: “Sesungguhnya shalat itu pencegah dari perbuatan keji dan munkar”
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Saya ingatkan kembali, kalau kita sering memenuhi panggilan telepon dengan segera. Berusahalah untuk bersegera juga dalam memenuhi panggilan Allah swt. Kalau sekarang kita masih dipanggil melalui adzan untuk melaksanakan perintahNya, besok akan dipanggil melalui pintu kubur untuk menghadap kepadaNya. Karena setiap selalu dalam pengawasan Allah swt dan akan kembali kepadaNya.
Demikian kultum ini saya sampaikan, yang benar datangnya dari Allah dan yang kurang berkenan datangnya dari saya pribadi, kurang dan lebihnya mohon maaf.
اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
“Perhatikanlah apa-apa yang dikatakan (diucapkan) dan janganlah meperhatikan siapa yang mengatakan”
WallahulMusta’an. Wassalamu’alaikum War. Wab.
Komentar
Posting Komentar