Sahabat,Berusahalah untuk tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Terlalu banyak nikmat dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Mungkin kita kurang bersyukur. Mungkin kita masih kurang mengerti atau bahkan bodoh (tidak tahu) disebabkan wawasan kita. Jangan sampai kita tidak bisa menikmati limpahan nikmat Allah swt disebabkan karna hati kita tertutup dengan dosa-dosa yang kita perbuat.Mengapa kemudian Islam menjunjung tinggi keutamaan ilmu (pengetahuan). Serta menjadikan kewajiban untuk menuntut ilmu. Dalam riwayat sempat pula dianjurkan untuk ke Negri Cina (Halloo… ada apa ya disana?!). Bahkan seruan yang pertama diserukan adalah ‘Iqra’ (bacalah!).Setiap kita berhak memilih antara ‘banyak Baca banyak Tahu walau banyak Lupa, dan sedikit Baca sedikit Tahu walau sedikit Lupa’. Tapi, orang bijak berkata “sebaik-baik teman duduk itu adalah Buku” (hmm, bisa jadi-bisa jadi). Dibanding duduk dengan tukang gossip, bisa punya dampak dunia akhirat tuh. Tidak sedikit orang yang beruntung karena membaca. Bolehlah di tengok, apa yang terjadi dengan orang-orang yang sering membaca dan bahkan berpengaruh dengan daerah, wilayah atau negaranya. Kecewaku tak dapat dipungkiri, saat sahabatku yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri menuduhku sebagai orang yang ingin mengganggu rumah tangganya. Emang seh, salahku yang smsan ke suaminya. Tapi sumpeh pemirsa, insya Allah tidak bermaksud. Belakangan saya tahu dan mulai mengerti ketika mencoba untuk membaca tentang prahara rumah tangga. Bagaimana saat posisi seseorang sebagai seorang Istri, posisi sebagai seorang teman, bahkan posisi sebagai seorang Ibu. (ah… iyokah?!)Sahabat,Mungkin kita sering murung, kesal, dan bosan ketika dihadapkan dengan masalah. Padahal masalah sering dipanggil oleh kita sendiri. (ko’ bisa???). Saat kita yang tadinya belum punya apa-apa kemudian ingin punya apa-apa, ya masalahnya adalah butuh apa-apa. Saat belum punya HP kemudian ingin punya HP, ya pastinya butuh usaha untuk punya dan untuk terus bisa menggunakannya. Karna HP butuh energy juga seperti battery dan pulsa. Serta hal lain yang pasti hadir dengan wujud dan masalahnya. Terserah kita mau menjadikan masalah atau tidak. Syukur tak jadi masalah. Amatpun tak pusing jadi masalah. JSetiap kita pasti punya masalah. Masalah dengan ortulah, dengan temanlah, dengan keluargalah, dengan orang lainlah atau bahkan dengan diri sendiri. Klo punya masalah dengan yang lain, yeah selesaikan dengan yang bersangkutan. Tapi klo dengan diri sendiri, mungkinkah selesai dengan diri sendiri??? Rasanya kita tidak pernah sendiri. Seakan ada si Hitam dan si Putih di dalam diri. Butuh ilmu (pengethuan) untuk memilih di antara Hitam dan Putih. Maka mohonlah kepada Sang Maha Pemilik segalanya untuk ilmu yang menjadi cahaya (penerang) di antara keduanya. Ketika di antara kita yang menjadikan nikmat memiliki orang tua adalah masalah. Masalah saat membantunya adalah beban. Masalah saat mendengar nasehatnya adalah membosankan. Bahkan masalah saat menaati perintahnya menjadi siksaan bagi kita. Padahal jika kita pernah membaca kisah seorang anak yang mengharapkan dan merindukan kehadiran orang tua, mungkin malu bisa jadi penyesalan.Ketika di antara kita pernah menghardik anugrah memiliki adik laki-laki adalah masalah. Masalah saat melihat ruang aktifnya pada masa kanak-kanak. Diantaranya sempat menembak mata temannya dengan pistol mainnannya dan sempat melempar batu ke kepala temannya hingga berdarah. Dengan alasan pembelaan diri atas gangguan teman-temannya. Masalah saat menemani kenakalannya pada masa transisi. Dimana hampir setiap sekolah yang dimasukinya tak pernah ditinggalkan tanpa masalah. Serta prestasi sekolah yang jarang bahkan hampir tak pernah mendapatkan prestise. Pernahkah kita membaca atau mencari tahu agar bisa memperbaiki diri untuk menjalin komunikasi yang baik dengan adik laki-laki kita? Siapa yang menyangka dia bisa tumbuh lebih dewasa dibanding kita. Bahkan bisa mengayomi kita.Sahabat,Iparku pernah berpesan “silahkan berteman lebih dan jangan Cuma dua orang”. Saya hanya mengangguk dan mencoba untuk menebak maksudnya. Ternyata itu tidak cukup tanpa pengetahuan. Perlu menambah wawasan dari buku bahkan bergaul dengan masyarakat dari berbagai karakter yang dimilikinya. Suka dan duka menjadi bumbu pelengkap dalam pengembaraan diri. Setiap teman dengan masing-masing karakter melatih keterampilan diri dalam bergaul. Teman pendiam belum tentu senang dengan teman pendiam. Begitupun dengan teman talk active belum tentu senang dengan teman yang cerewet. Semua tergantung ‘chemistry’ kali yee. Molekulnya cocok atau tidak. Hehehee.Sahabat,Masihkah kita termasuk orang yang kufur nikmat? Nikmat punya teman baik dan masih sempat su’u dzon (berprasangka buruk) terhadapnya. Sekiranya maaf tak perlu menunggu lebaran tiba.
Sahabat,Berusahalah untuk tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Terlalu banyak nikmat dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Mungkin kita kurang bersyukur. Mungkin kita masih kurang mengerti atau bahkan bodoh (tidak tahu) disebabkan wawasan kita. Jangan sampai kita tidak bisa menikmati limpahan nikmat Allah swt disebabkan karna hati kita tertutup dengan dosa-dosa yang kita perbuat.Mengapa kemudian Islam menjunjung tinggi keutamaan ilmu (pengetahuan). Serta menjadikan kewajiban untuk menuntut ilmu. Dalam riwayat sempat pula dianjurkan untuk ke Negri Cina (Halloo… ada apa ya disana?!). Bahkan seruan yang pertama diserukan adalah ‘Iqra’ (bacalah!).Setiap kita berhak memilih antara ‘banyak Baca banyak Tahu walau banyak Lupa, dan sedikit Baca sedikit Tahu walau sedikit Lupa’. Tapi, orang bijak berkata “sebaik-baik teman duduk itu adalah Buku” (hmm, bisa jadi-bisa jadi). Dibanding duduk dengan tukang gossip, bisa punya dampak dunia akhirat tuh. Tidak sedikit orang yang beruntung karena membaca. Bolehlah di tengok, apa yang terjadi dengan orang-orang yang sering membaca dan bahkan berpengaruh dengan daerah, wilayah atau negaranya. Kecewaku tak dapat dipungkiri, saat sahabatku yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri menuduhku sebagai orang yang ingin mengganggu rumah tangganya. Emang seh, salahku yang smsan ke suaminya. Tapi sumpeh pemirsa, insya Allah tidak bermaksud. Belakangan saya tahu dan mulai mengerti ketika mencoba untuk membaca tentang prahara rumah tangga. Bagaimana saat posisi seseorang sebagai seorang Istri, posisi sebagai seorang teman, bahkan posisi sebagai seorang Ibu. (ah… iyokah?!)Sahabat,Mungkin kita sering murung, kesal, dan bosan ketika dihadapkan dengan masalah. Padahal masalah sering dipanggil oleh kita sendiri. (ko’ bisa???). Saat kita yang tadinya belum punya apa-apa kemudian ingin punya apa-apa, ya masalahnya adalah butuh apa-apa. Saat belum punya HP kemudian ingin punya HP, ya pastinya butuh usaha untuk punya dan untuk terus bisa menggunakannya. Karna HP butuh energy juga seperti battery dan pulsa. Serta hal lain yang pasti hadir dengan wujud dan masalahnya. Terserah kita mau menjadikan masalah atau tidak. Syukur tak jadi masalah. Amatpun tak pusing jadi masalah. JSetiap kita pasti punya masalah. Masalah dengan ortulah, dengan temanlah, dengan keluargalah, dengan orang lainlah atau bahkan dengan diri sendiri. Klo punya masalah dengan yang lain, yeah selesaikan dengan yang bersangkutan. Tapi klo dengan diri sendiri, mungkinkah selesai dengan diri sendiri??? Rasanya kita tidak pernah sendiri. Seakan ada si Hitam dan si Putih di dalam diri. Butuh ilmu (pengethuan) untuk memilih di antara Hitam dan Putih. Maka mohonlah kepada Sang Maha Pemilik segalanya untuk ilmu yang menjadi cahaya (penerang) di antara keduanya. Ketika di antara kita yang menjadikan nikmat memiliki orang tua adalah masalah. Masalah saat membantunya adalah beban. Masalah saat mendengar nasehatnya adalah membosankan. Bahkan masalah saat menaati perintahnya menjadi siksaan bagi kita. Padahal jika kita pernah membaca kisah seorang anak yang mengharapkan dan merindukan kehadiran orang tua, mungkin malu bisa jadi penyesalan.Ketika di antara kita pernah menghardik anugrah memiliki adik laki-laki adalah masalah. Masalah saat melihat ruang aktifnya pada masa kanak-kanak. Diantaranya sempat menembak mata temannya dengan pistol mainnannya dan sempat melempar batu ke kepala temannya hingga berdarah. Dengan alasan pembelaan diri atas gangguan teman-temannya. Masalah saat menemani kenakalannya pada masa transisi. Dimana hampir setiap sekolah yang dimasukinya tak pernah ditinggalkan tanpa masalah. Serta prestasi sekolah yang jarang bahkan hampir tak pernah mendapatkan prestise. Pernahkah kita membaca atau mencari tahu agar bisa memperbaiki diri untuk menjalin komunikasi yang baik dengan adik laki-laki kita? Siapa yang menyangka dia bisa tumbuh lebih dewasa dibanding kita. Bahkan bisa mengayomi kita.Sahabat,Iparku pernah berpesan “silahkan berteman lebih dan jangan Cuma dua orang”. Saya hanya mengangguk dan mencoba untuk menebak maksudnya. Ternyata itu tidak cukup tanpa pengetahuan. Perlu menambah wawasan dari buku bahkan bergaul dengan masyarakat dari berbagai karakter yang dimilikinya. Suka dan duka menjadi bumbu pelengkap dalam pengembaraan diri. Setiap teman dengan masing-masing karakter melatih keterampilan diri dalam bergaul. Teman pendiam belum tentu senang dengan teman pendiam. Begitupun dengan teman talk active belum tentu senang dengan teman yang cerewet. Semua tergantung ‘chemistry’ kali yee. Molekulnya cocok atau tidak. Hehehee.Sahabat,Masihkah kita termasuk orang yang kufur nikmat? Nikmat punya teman baik dan masih sempat su’u dzon (berprasangka buruk) terhadapnya. Sekiranya maaf tak perlu menunggu lebaran tiba.
Komentar
Posting Komentar