Langsung ke konten utama

Edisi Pil-Da-Cil

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT BAGI SISWA MADRASAH

Bapak Ibu Hadirin dan Hadirat serta dewan juri yang saya cintai

Bapak Ibu  dan semua yang ada di sini suka bersih? Suka sehat?
Setiap manusia normal pasti menyukai bersih dan sehat. Bersih dan sehat tidak dapat dipisahkan. Jika ingin sehat maka hidup harus??? Bersih. Bersih secara fisik maupun rohani. Bersih badannya, bersih bajunya, semoga bersih hatinya. Jika hidup bersih lahir dan batin, in syaa Allah hiduppun akan menjadi sehat lahir dan batin.  

Islam adalah satu-satunya agama yang sangat memperhatikan kebersihan. Betapa tidak, dalam Islam telah diatur bagaimana perilaku hidup dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bahkan salah satu syarat sah shalat yang menjadi kewajiban bagi umat Islam atau shalat seorang muslim tidak akan diterima jika tidak bersih dari najis atau kotoran sebagaimana yang tertera atau tertulis dalam al-Quran surah Al-Maidah ayat 6.

Bapak Ibu Hadirin dan Hadirat serta dewan juri yang saya muliakan

Jika kita mencari dan membaca dalam pedoman umat Islam yang tidak lain adalah al-Quran dan as-Sunnah (al-Hadits) maka tidak sedikit ayat atau dalil yang menjelaskan tentang kesucian atau kebersihan diantaranya dalam alQur’an surah al-Maidah.
Allah berfirman:


          Yang artinya: “.....dan pakaianmu bersihkanlah”

Juga dalam al-Hadits riwayat Muslim no.223. Rasulullah SAW bersabda:


          Yang artinya: “Kebersihan adalah sebagian dari (cabang) keimanan”

Bapak Ibu Hadirin dan Hadirat serta dewan juri yang saya muliakan

sebagai siswa madrasah dimana madrasah yang tidak lain adalah sekolah yang dikenal lebih dekat dengan Islam maka sepatutnyalah tidak lepas dari nilai-nilai Islam. Jika Islam mengajarkan kebaikan maka sepatutnya siswa madrasah juga senantiasa berakhlak baik. Jika Islam mengajarkan kebersihan maka sepatutnya siswa madrasah juga senantiasa menjaga kebersihan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...