Jawa Timur, salah satu daerah Tanah airku yang ku kenal dengan euforia celebration. betapa tidak, sejak pertama ku pijakkan kaki di provinsi ini, daerah ini mengenalkanku dengan berbagai macam perayaan ataupun peringatan. entah itu termasuk hari peringatan negara, agama, ataupun suku, aku mengenalnya sebagai budaya atau tradisi dari daerah ini. hingga kedatanganku kali ini yang kemudian membuatku tersenyum sendiri dan larut dalam mozaik of diriku dan surabaya.
Pada tahun 2007, mereka (komunitas pertama yang ku kenal di provinsi ini) mengenalkanku dengan berbagai macam perayaan ataupun hari peringatan. ingatanku cukup lemah untuk dikembalikan. cukup sepotong episod yang betah dalam memory, hari syuro seperti itu sebutan mereka atas usaha untuk memahamkan ku dengan bahasa Indonesia as a second language of them. makan bersama yang disebut pura'an setelah melaksanakan dzikir bersama dalam rangka memperingati hari tersebut. It's new for me. aku tak pernah mengenal hal ini sebelumnya di Palu tempat ku dilahirkan. Tidak sedikit perayaan yang sempat kuikuti di sini. mulai dari perayaan mingguan seperti acara kemisan atau tradisi muslimin dan muslimat dengan tilawatilQuran, diba'an (sholawatan), dan acara sungkem (saling memaafkan) hingga tradisi masyarakat dalam perayaan selamatan (syukuran) anak dalam kandungan, orang yang akan pergi dan pulang dari haji, hingga walimatul'ursy (pernikahan). hal ini bisa jadi juga dilaksanakan oleh beberapa suku di Palu namun tidak semeriah dan sekhusyu' perayaan di daerah ini.
September 2017, setelah sepuluh tahun harapan mengasosiasikan diri ke tempat ini akhirnya terkabul. Kedatanganku kali ini bertepatan dengan 1 Muharram alias Hari Peringatan Tahun Baru Hijriyah. Tidak direncanakan sebelumnya untuk sengaja memperingati hari tersebut. alhamdulillah... budaya yang mengantarkanku untuk memperingatinya. teman (ahlul bait tempatku berkunjung pada episode ini) mambawaku jalan-jalan kota surabaya dan berakhir dalam junjungan ke Maqam Sunan Ampel, maka tepatlah kami termasuk memperingati peringatan 1 Muharram. Tidak seperti hari biasa. Sejak sore tempat ini sudah full dengan kedatangan orang Islam dari berbagai penjuru khususnya Provinsi Jawa Timur. Kami (saya dan teman) pun harus antri di antara ratusan pengunjung lainnya. Suasananya persis seperti Hari Raya Idul Fitri di daerahku.
November 2017, Tepatnya pada tanggal 9 November 2017, kembali ku pijakkan kaki di Juanda dan dijemput oleh seorang saudara dunia akhirat yang slalu kubanggakan. kedatanganku kali ini adalah untuk specific purpose dalam hal ini Pelatihan Profesi Guru, bertemu dengan para Guru dari berbagai Pulau di Indonesia dengan berbagai ciri khas daerah masing masing. kami pun disatukan dengan satu bahasa, Bahasa Indonesia. tidak sedikit hal yang harus dipersiapkan guna menghadiri kegiatan tersebut hingga akupun lupa bahwa kedatanganku kali ini bertepatan dengan Hari Peringatan Pahlawan Nasional. Setelah dijemput di Bandara Juanda, saya pun diantar ke alamat yang tertera di dalam undangan kegiatan dimaksud. Tibalah kami di Hotel V3 alias Veni Vidi Vici yang terletak sangat dekat dengan Monumen Pahlawan di Surabaya. akupun berpisah dengan saudara tersebut dan kemudian langsung berasosiasi dengan para peserta lainnya dan kemudian menjalani kegiatan selama 12 (dua belas) hari. Setelah menyelesaikan proses administrasi sebagai Peserta kegiatan, kami (aku dan peserta lainnya) mengikuti acara pembukaan yang berjarak kurang lebih 17 (tujuh belas) kilo dari hotel ini, tepatnya di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kampus II Lidah Wetan. kami pun mengikuti pembukaan hingga maghrib (petang). hari pun semakin gelap, matahari sudah agak lama terbenam, hingga macetnya kendaraan pada malam itu mengetuk mozaik diriku dan Surabaya. Yaa kami pun terjebak macet karna keramaian yang memadati lingkungan Monumen Pahlawan Nasional guna memperingati hari Pahlawan esok hari tanggal 10 November 2017.
Indonesia, tak lain adalah tanah airku tercinta. Islam satu-satunya agama yang kuyakini dan kucintai. Indonesia mengenalkanku dengan beragam of local wisdom (kearifan lokal) Nusantara. Islam mengenalkanku dengan sosok tauladan Rasulullah Muhammad SAW dalam hablu minan naas (hubungan dengan manusia). maka Islam Indonesia adalah pilihanku. Jika diri belum mampu untuk menerima hal yang baru maka berusahalah untuk tidak men-judge-nya (menghakiminya), karna keterbatasan diri sering menjerumuskan ke hal yang negative.

Komentar
Posting Komentar