Pagi yang beda pada Bulan Oktober 2017. Entah apa maksud dari kecemasan
yang berlebihan ini, rasa minder atau kurang percaya diri mengejekku. Padahal
respon kasus adalah incaran kami selaku perkerja sosial perlindungan anak,
bahkan kami selalu menjemput bola seakan merayu Pihak PPA (Perlindungan
Perempuan dan Anak) Polres Kabupaten Poso guna mendapatkan informasi terkait
klien atau ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum) agar segera kami respon. Kasus
ABH di wilayah Kabupaten Poso tidak sedikit, namun masih jarang yang tercover.
Hari ini Kepala Dinas lah
yang ingin menemui kami selaku Pekerja Sosial Perlindungan Anak, sedang
sebelumnya kami bahkan harus ikut antri jika ingin menemui beliau selaku
Pimpinan. Walau tak dapat dipungkiri kedatangan dan kehadiran Pekerja Sosial di
Dinas Sosial Kabupaten Poso adalah penantian sesuai pengakuannya pada pertemuan
pertama kami setelah menerima SK Tugas Sakti Peksos Tahun 2017.
Yaa, Berita hangat pada koran
pagi ini menarik perhatian hampir seluruh masyarakat Poso yang sempat
membacanya, termasuk Kepala Dinas Poso. Kasus Perampokan di Desa Sintuwu Lemba Kecamatan
Lage Kabupaten Poso dengan korban seorang gadis belia usia 14 (empat belas)
tahun. Kurang lebih 5 (lima) jam sejak pukul 22.00 hingga pukul 03.00 dini hari
anak tersebut disekap dan harus menghadapi perampok dengan seorang diri.
Penghuni Dinas Sosial Poso pun ikut heboh dengan berita ini. Seluruh mata
penghuni Bidang Rehabilitasi Sosial Poso tak lain tertuju kepada kami selaku
Pekerja Sosial Perlindungan Anak di Wilayah Kabupaten Poso. Namun hal ini
bukanlah kali pertama kami dikejutkan oleh berita media, bahkan rekan saya pun menyempatkan
diri dengan berani menghadapi netizen ketika isu kasus anak usia 14 (empat
belas) tahun juga yang sempat menghebohkan mansyarakat Poso dengan judul
“Jangan sampai ada ANGELINE selanjutnya” melalui akun Facebook.
Setelah menyelesaikan
beberapa tugas yang harus diselesaikan pada hari itu di Dinas Sosial Poso dan
Surat Tugas untuk digunakan dimana perlunya, kami pun pamit untuk merespon
kasus di Desa Sintuwu Lemba Kecamatan Lage Kabupaten Poso. Daerah ini terkadang
lebih dikenal oleh Masyarakat Poso dengan Nama Kilo Sembilan. Kurang lebih 12
km dari Kantor Dinas Sosial yang terletak di tengah Ibu Kota Kabupaten. Kemudian
Kami menempuh kurang lebih 45 menit waktu perjalanan hingga sampai ke daerah
dimaksud. Entah faktor jauh atau macet ala jalan sempit, pastinya yang teringat
adalah perjalanan kami dihibur dengan keramaian dan kesibukan umat kristiani
menjelang paskah. Alhamdulillah sebelumnya kami telah buat janji dengan
Pemerintah Setempat guna kunjungan kami selaku Pekerja Sosial Perlindungan Anak
dari Kementerian Sosial RI, meski yang tersisa hanya satu orang pegawai
dikarenakan seluruh rekan berperan aktif dalam beberapa kegiatan pada hari itu.
Kami pun disambut dengan penuh antusias dan pengharapan agar dapat membantu
masyarakat setempat khususnya yang sedang ditimpa musibah. Kami pun larut dalam
komunikasi yang akrab. Beberapa kalimat menarik perhatian saya ketika Ibu
sekretaris Desa itu berkata “...kasus pencurian sudah sangat sering terjadi di
Daerah sini, namun jarang yang terungkap sehingga sangat mencemaskan masyarakat...”.
Perjalanan selanjutnya semakin menegangkan didukung situasi Desa tersebut yang
cukup sepi dikarenakan lokasi yang perumahan warga yang berjarak dan lebih
didominasi oleh kebun atau pekarangan lahan kosong. Belum lagi jika ditambah
dengan peristiwa pasca kerusuhan Poso, Daerah ini termasuk tempat pembataian
banyak korban.
Selanjutnya, kami diantar ke TKP alias tempat kejadian
peristiwa kediaman Keluarga Bapak Made oleh Pemerintah setempat. Bapak Made
adalah Seorang ASN yang lebih dikenal oleh masyarakat Poso dengan Dokter Hewan.
Tak jarang hewan kesayangan Bapak Bupati Poso juga dirawat langsung oleh Pak
Made. Pak Made tinggal bersama seorang istri dan tiga orang anak Putra sebagai
sulung sedang putri sebagai bungsu. Putra Sulung sedang melanjutkan pendidikan di
bangku kuliah sedang putri bungsu duduk di bangku SMP. Pak Made juga dikenal
dengan orang yang rajin dan tekun bekerja, setelah menyelesaikan tugas sebagai
ASN sampai dengan sore hari, beliau kemudian melanjutkan menerima klien di
rumah atau dimana saja via telepon. Bahkan di akhir pekan, yakni sabtu-minggu Pak
Made bersama Istri menyempatkan diri untuk berdagang barang campuran di wilayah
Tentena yang terletak kurang lebih 30 km dari Ibu Kota Kabupaten Poso. Corak
Pagar tembok ditambah patung di depan rumah adalah ciri khas rumah masyarakat
bali yang ku kenal. Akhirnya kami sampai di rumah ini bertemu Pak Made bersama
Istri tercinta. Kedatangan Sakti Peksos
menghibur hati Pak Made dan keluarga. Pak Made pun tak dapat menahan curahan
hati Kepala Keluarga korban Perampokan yang terjadi 2 hari yang lalu. Bahkan
pikiran negatifnya tercurahkan akibat kekesalan mendalam yang mendorongnya
untuk berbuat hal yang tidak diinginkan, yakni menyemprotkan vaksin sapi ke
udara agar menyebar dan masyarakat setempat yang diduga sebagai pelaku bisa
mati secepatnya tanpa memikirkan dampak bagi yang lain.
Selanjutnya kami, diantar
untuk bertemu dengan klien an. AY (14) yang telah mengungsi ke rumah bibi klien
yang terletak kurang lebih 7 km dari rumah Pak Made dikarenakan masih dalam
kondisi trauma. Klien masih sering menangis dan bahkan pingsan tidak sadarkan
diri. Meski agak kikuk dalam beberapa menit pertemuan pertama, kemudian kami
pun larut dalam komunikasi yang akrab sesuai jurus pendekatan Sakti Peksos
terhadap klien menjadi sahabat bagi anak. Pertemuan pertama tidaklah menjadi
halangan bagi klien untuk mengungkap isi hatinya. Kami hanya bermodalkan senyum
dan ketulusan memberikan penguatan terhadap klien agar bangkit dan kembali
lebih bersemangat dari sebelumnya. Akhirnya klien pun meminta tolong bantuan
Sakti Peksos dalam pemulihan psikososial, dimana issue yang tersebar di sekolah
adalah klien sebagai korban tindak perkosaan oleh perampok di Sintuwu Lemba. Dengan
percaya diri kami tetap menguatkan klien bahwa hal itu bisa dikomunikasikan dan
kami siap datang ke sekolah esok hari.
Setelah komunikasi dan
didukung oleh seluruh Rekan kerja di Bidang Rehabilitasi Sosial, kami
melanjutkan respon kasus dengan target waktu yang sangat membutuhkan tenaga
extra, namun semangat kami yang terdidik oleh Kementerian Sosial RI mengalahkan
keresahan dan keletihan yang menghampiri diri. Pukul 19.00 wita di saat pegawai
pada umumnya sudah istirahat dan berkumpul dengan keluarga kami harus bertemu
dengan Pihak Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah klien agar segera diberi
kesempatan untuk melaksanakan upaya pemulihan psikososial klien. Akhirnya kami
pun bertemu dengan Kepala Sekolah dan mendapatkan apresiasi khusus.
Pukul 06.30 di hari
selanjutnya kami sudah hadir di Sekolah klien dan disambut oleh Kepala Sekolah
beserta Dewan Guru di Sekolah klien. Kami pun dipersilahkan berkomunikasi
dengan Seluruh Siswa dalam Apel Pagi sebelum Kegiatan Belajar Mengajar dimulai.
Dengan Penuh Percaya Diri kami diberi waktu kurang lebih sepuluh menit untuk berkomunikasi
sebagai upaya pemulihan psikososial klien. Dengan penuh antusias dan
kegembiraan para siswa menyambut Sakti Peksos Kementerian Sosial RI. Klien pun
akhirnya mau kembali bersekolah dan dapat bersosialisasi lagi dengan
teman-temannya. Upaya ini pun tidak langsung berhasil menghentikan trauma klien
yang masih sering pingsan jika mengingat peristiwa perampokan tersebut. Kami
pun kembali meminta waktu untuk lebih khusus bersosialisasi kepada teman
sekelas dan seangkatan klien. klien pun akhirnya sangat senang dan kembali
bersemangat untuk menjalankan hari-hari lebih baik dari sebelumnya. Kepala
Sekolah dan Dewan Guru juga sangat berterima kasih atas kepedulian dan perhatian
Kementerian Sosial RI yang telah menyempatkan berkunjung kesekolah mereka.
Kurang
lebih sepekan berlalu kami kembali datang menjenguk klien ke rumah bibinya. Kesyukuran
dan rasa terimakasih selalu terpancar serta terucap oleh keluarga klien kepada
Sakti Peksos. Bahkan klien sudah berhasil atau mau kembali ke rumah orang
tuanya tanpa ragu dan berani menghadapi musibah keluarganya. Namun, rasa sedih
pun tak dapat disembunyikan dan dikeluhkan bahwa Pelaku dalam perampokan
tersebut belum tertangkap sehingga korban dan keluarga masih sangat khawatir
dengan musibah ini. Kepolisian setempat beralasan bahwa perampokan tersebut
dilakukan oleh seorang profesional yang bahkan sidik jrinya susah ditemui hanya
tersisa tiga titik kecil sidik jari yng tak sempurna. Klien pun sempa
menceritakan bahwa penjahat tersebut memakai topeng dan memakai sarung tangan
serta mengusap setip bekas pegangan yang ia sadari. Selaku Pekerja Sosial kami
pun tidak lupa menyampaikan, bahwa menangkap pelaku bukanlah tugas kami
walaupun hal itu adalah juga harapan kami. Kami sudah berusaha melakukan upaya
terbaik sesuai tugas kami, namun kami hanyalah broker (penghubung) untuk segala
hal bukan expert (ahli) segala hal.
Komentar
Posting Komentar