Langsung ke konten utama

Allah Maha Penyembuh

 Menjadi seorang mahasiswa yang juga aktif di organisasi internal kampus, dan juga nyambi kerja mengurus yayasan serta berdagang adalah caraku menikmati hidup dengan berbagai kesibukan yang baik agar terhindar dari kesibukan yang buruk. Namun tak jarang juga ku-habiskan waktu untuk bersosial media yang lumayan berlebihan meski hanya untuk menulis status kata Capek.

Sampailah pada satu masa sakitku dimana kakiku terasa sulit untuk bertumpu. Tidak terasa demam  atau pun sakit di bagian tubuhku yang lain. Di usia kurang lebih 22 tahun, pikir ku bisa jadi relatif muda untuk menderita sejenis penyakit asam urat atau pun kolesterol. Saat berobat ke dokter pun tidak mendapat jawaban yang pasti terkait penyakit yang kuderita. Dokter hanya memberikan obat perada nyeri dan anti biotik untuk ku minum.

Pekan berganti, obat dari dokter akhirnya habis. Seperti ketergantungan obat, kakiku terasa sakit dan sulit bertumpu jika tidak minum obat dari dokter, bahkan kulitku seperti mati rasa setelah minum obat kimia tersebut. Saat berobat dan ketemu dokter, saya meminta surat rujukan agar dapat penjelasan dan penanganan yang jelas terkait penyakit yang kuderita. Namun dokter tidak mau memberi karena alasannya pun menurut ku sangat tidak jelas seperti tidak punya diagnosa. Kurang lebih satu bulan kupasrahkan penyakit ini dengan menikmati waktu istirahat yang seakan menjadi jawaban dari pemilik semesta atas keluhanku dengan menuliskan kata Capek.

Qadarullah tibalah saatnya untuk menghadiri kegiatan organisasi kampus sebagai bentuk tanggung jawab dan dedikasi bagian kepengurusan pada periode tersebut. Alhamdulillah dengan tetap meminum obat dari dokter, diri bisa beradaptasi agar dapat berkegiatan seperti biasanya. Kegiatan tersebut kurang lebih 2 hari di akhir pekan dengan agenda religius seperti materi motivasi dan juga terkait keagamaan.  

Pada saat materi keagamaan diisi oleh seorang ustad bertempat di mushola, peserta putri terhalang oleh hijab atau tirai pembatas shalat, sehingga diri berani untuk bertanya terkait penyakit yang kuderita pada sesi tanya jawab. Dengan lugas dan tegas ustad menjawab bahwa penyakit yang kuderita adalah ciri gangguan jin. Beliau-pun menjelaskan tiga sebab gangguan jin yang bersumber dari Keturunan, Suruhan dan kemauan jin itu sendiri yang bisa jadi kita tidak beradab dalam beberapa hal. Tiba-tiba rasaku ingin bertatap muka dan berduel dengan jin dimaksud. Istighfarku saat itu mengalahkan ketakutan dan kecemasan dalam diri.  Saya yakin bahwa hanya kepada Allah SWT tempat kembali.

Nasihat Ustad pada kegiatan organisasi kampus saat itu akhirnya mendorongku untuk berhenti minum obat dokter dan berbenah. Beristighfar dan bertaubat, memperbaiki shalat agar lebih khusyuk, membaca dzikir pagi dan petang serta melaksanakan qiyamullail memohon kesembuhan dan perlindungan hanya dari Allah Azza Wa Jalla. Dengan izin Allah SWT rasa sakit di bagian kakiku pun hilang dan dapat beraktifitas sepeti sebelumnya. Subhanallah walhamdulillah wallahuakbar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...