Langsung ke konten utama

Kehilangan uang

 Sejenak kuputar otakku untuk memikirkan strategi dalam pemecahan kasus kehilangan uang yang terjadi di kamarku. Setelah siang tadi adik kelasku melaporkan kepadaku sebagai pengurus kamarnya perihal masalah yang dialaminya sejak kemarin sore. Sebenarnya ia takut dimarah akibat kelalaiannya. Namun jika tidak melaporkan hal tersebut, ia tidak tau harus bagaimana untuk membayar uang SPP (Iuran wajib bulanan pondok).


Hanya Allah SWT yang Maha Penolong dan Maha Segalanya. Hanya kepadaNya pula tempatku kembali dan memohon. Ku tunaikan sholat hajat sebagai sarana memohon petunjuk dan pertolongan untuk memecahkan masalah kehilangan uang tersebut. Dengan keyakinan penuh ku pasrahkan harapku kepada Pemilik Semesta. Apapun yang terjadi, sebagai pengurus yang bertanggung jawab, harus diselesaikan masalah ini.


Kucoba aplikasikan cara yang dipakai oleh wali kelasku saat aku duduk di kelas 2. Aku dan seluruh teman kelasku diminta untuk merenung dan melakukan pengakuan dosa terkait mengambil barang milik orang lain. Kami diberi waktu saat itu juga untuk bertaubat dan menuliskan pengakuan masing-masing di secarik kertas kemudian mengumpulkannya ke ustad. Setelah melakukan pengakuan tersebut, kami diminta untuk mengembalikan barang barang yang bukan milik kami ataupun mengumpulkannya ke ustad jika tidak mengetahui pemiliknya (ghosob).


Setelah kegiatan belajar malam, aku dan temanku pengurus kamar mengumpulkan seluruh anggota kamar. Setelah penyampaian beberapa hal, kami kemudian menasehati dan mengingatkan adik-adik kami untuk terkait perihal teman yang kehilangan uang. Kami juga menyampaikan bahwa hal ini bukan hanya terkait kesalahan orang yang mengambil uang, namun juga karena kelalaian orang yang kehilangan uang. Sehingga hal ini dapat menjadi pelajaran untuk semuanya. 


Selanjutnya kami selaku pengurus telah sepakat menggunakan cara pertama yakni meminta seluruh anggota kamar untuk menuliskan pengakuan dalam selembar surat rahasia yang ditulis secara pribadi tidak boleh diketahui oleh orang lain, serta mengumpulkannya kepada kami selaku pengurus kamar dalan waktu kurang lebih 24 jam. Namun tak satu pun yang mengaku terkait   pencurian uang tersebut.


Dengan sedikit rasa khawatir, aku beristighfar dan tetap berbaik sangka kepada Allah SWT. Dengan penuh harap kembali ku panjatkan doa untuk membukakan hati dan memberikan hidayah kepada adik kami yang telah khilaf mengambil uang temannya. Sekali lagi kami mengumpulkan adik-adik kamar kami dan melakukan hal yang sama untuk menuliskan pengakuan dalam surat rahasia.


Setelah 2 hari berlalu, akupun hampir putus asa dan memikirkan strategi selanjutnya, bahkan berniat untuk melanjutkan penyelesaian kasus tersebut ke Pengurus Pondok jika tidak ada solusi. Namun pagi itu saat jam istirahat, kulangkahkan kaki ke kamarku untuk menunaikan shalat Dhuha.


Bersambung.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...