Langsung ke konten utama

Nafilah II

 Dag-dig-dug jantungku berdebar, ada rindu yang belum habis dilepas dengan keluargaku. Setelah 2 pekan berlalu, hari ini adalah jadwal untuk kembali masuk asrama untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Padahal jarak rumah keluargaku kurang lebih hanya 11 kilometer dari Pondokku. 


Dengan sepeda motor butut kesayangan abahku, aku dibonceng olehnya dengan beberapa tas berisi pakaianku dan perbekalan untuk di pondok. Kutarik napas dalam dalam sambil membayangkan saat saat indah bercengkrama bersama teman teman di Pondok. Guna menguatkan diri, kuyakinkan diriku bahwa satu tahun telah kulalui, aku pasti bisa melanjutkannya.


Hijau rumput lapangan sepak bola menjadi lahan parkir para wali santri yang beramai-ramai mengantarkan masing-masing anaknya untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Kucium tangan abahku dengan sedikit haru memohon restu dan doanya sambil berpamitan. Ku antar dan kutunggu bayang abahku yang mulai menjauh sampai tidak nampak oleh mataku, baru kulangkahkan kakiku untuk masuk asrama.


Selanjutnya aku dan para santri lainnya m0ulai sibuk mencari pembagian kamar dan menata barang masing-masing yang dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan asrama. Ternyata, tahun ini aku bukan hanya sekelas, tapi juga sekamar dengan Nafilah. Malu rasanya ketika melihat Nafilah yang harus menempuh kurang lebih 220 km untuk bisa sampai ke pondok ini. Tak jarang akhirnya kami selalu beraktifitas bersama.


Lima bulan berlalu kami hanyut dalam rangkaian aktivitas dan tugas menghafal pelajaran. Rasa suka dan malas bergantian menyelimuti diri. Sesekali namaku dan Nafilah juga masuk dalam daftar pelanggar. Entah karena masbuq (lambat shalat jama'ah), keceplosan berbahasa Indonesia, ataupun lupa membersihkan sesuatu di atas lemari. 


Sore itu, selesai mengerjakan iqob (hukuman). Nafilah kembali dijemput olxeh sepupunya dikarenakan izin kedukaan. Nenek Nafilah yang menjadi pengganti sosok ibu baginya, hari itu telah berpulang ke Rahmatullah. Untuk kedua kalinya Nafilah merasakan duka yang mendalam. 


Allah SWT tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuannya. Itulah yang kami yakini sebagai santri dan diajarkan dalam Islam. Aku belum tentu bisa semampu Nafilah yang diuji dengan kepergian orang orang tercinta. Nafilah anak yang kuat dan hebat, ia pun akhirnya mampu dan berhasil menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren selama kurang lebih 6 (enam) tahun lamanya serta lulus bersamaku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...