Dag-dig-dug jantungku berdebar, ada rindu yang belum habis dilepas dengan keluargaku. Setelah 2 pekan berlalu, hari ini adalah jadwal untuk kembali masuk asrama untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Padahal jarak rumah keluargaku kurang lebih hanya 11 kilometer dari Pondokku.
Dengan sepeda motor butut kesayangan abahku, aku dibonceng olehnya dengan beberapa tas berisi pakaianku dan perbekalan untuk di pondok. Kutarik napas dalam dalam sambil membayangkan saat saat indah bercengkrama bersama teman teman di Pondok. Guna menguatkan diri, kuyakinkan diriku bahwa satu tahun telah kulalui, aku pasti bisa melanjutkannya.
Hijau rumput lapangan sepak bola menjadi lahan parkir para wali santri yang beramai-ramai mengantarkan masing-masing anaknya untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Kucium tangan abahku dengan sedikit haru memohon restu dan doanya sambil berpamitan. Ku antar dan kutunggu bayang abahku yang mulai menjauh sampai tidak nampak oleh mataku, baru kulangkahkan kakiku untuk masuk asrama.
Selanjutnya aku dan para santri lainnya m0ulai sibuk mencari pembagian kamar dan menata barang masing-masing yang dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan asrama. Ternyata, tahun ini aku bukan hanya sekelas, tapi juga sekamar dengan Nafilah. Malu rasanya ketika melihat Nafilah yang harus menempuh kurang lebih 220 km untuk bisa sampai ke pondok ini. Tak jarang akhirnya kami selalu beraktifitas bersama.
Lima bulan berlalu kami hanyut dalam rangkaian aktivitas dan tugas menghafal pelajaran. Rasa suka dan malas bergantian menyelimuti diri. Sesekali namaku dan Nafilah juga masuk dalam daftar pelanggar. Entah karena masbuq (lambat shalat jama'ah), keceplosan berbahasa Indonesia, ataupun lupa membersihkan sesuatu di atas lemari.
Sore itu, selesai mengerjakan iqob (hukuman). Nafilah kembali dijemput olxeh sepupunya dikarenakan izin kedukaan. Nenek Nafilah yang menjadi pengganti sosok ibu baginya, hari itu telah berpulang ke Rahmatullah. Untuk kedua kalinya Nafilah merasakan duka yang mendalam.
Allah SWT tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuannya. Itulah yang kami yakini sebagai santri dan diajarkan dalam Islam. Aku belum tentu bisa semampu Nafilah yang diuji dengan kepergian orang orang tercinta. Nafilah anak yang kuat dan hebat, ia pun akhirnya mampu dan berhasil menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren selama kurang lebih 6 (enam) tahun lamanya serta lulus bersamaku.
Komentar
Posting Komentar