Langsung ke konten utama

Tekun pangkal sukse

 Namanya Lailah, anak bungsu dari 2 perempuan bersaudara. Ayah dan ibunya adalah pegawai pemerintah yang bekerja di kantor yang berbeda. Ia tinggal di Desa Sukajaya Kabupaten Jaya yang terletak kurang lebih 213 km dari ibukota Provinsi Maju. Desa ini menjadi daerah perebutan kekuasaan sehingga tak jarang terjadi perpecahan  yang mengorbankan anak-anak tak berdosa. Salah satunya Lailah yang harus menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di sekolah darurat.


Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar, Lailah melanjutkan pendidikan di Kota Roso Ibu Kota Provinsi Maju. Kami pun dipertemukan di Pondok Pesantren As-Salam, pendidikan setara Sekolah Menengah Pertama yang terletak di perbatasan ibu kota provinsi Maju tepatnya di kampung damai. Lailah yang ku kenal, adalah anak sederhana, cerdas, rajin dan shalihah.


Di pondok kami, Lailah termasuk anak orang kaya, yang minta apa saja bisa dibelikan. Namun, ia sangat sederhana, tidak pernah mencolok dalam berpakaian bahkan dalam berbelanja (Jajan). Hal ini sering menjadi perbandingan bagaimana antara gaya hidupnya yang agak berbeda dengan kakak sulungnya. Tapi mereka sama baik dan shalihahnya. Namun, dikarenakan satu dan lain hal, orangtuanya pun memilih hidup masing-masing.


Lailah yang kusebut shalihah, sangat disiplin shalat, bahkan mempunyai wirid khusus yang kukenal dewasa ini sering dibaca oleh alim ulama di Provinsi Maju. Darinya aku belajar dan termotivasi untuk rajin berdzikir saat di pondok. Tak jarang ia sering menceritakan hal yang sedikit mistis, seperti tasbih yang selalu dipakainya bisa memberikan cahaya khusus ketika di perhatikan, bahkan ia pernah bercerits sempat melihat sesuatu di sajadahnya seperti kisah mimpi nabi Yusuf dalam Al-Qur'an dengan narasi yang berbeda pastinya.


Hari itu ia lari histeris kemudian memelukku erat dengan gembira, dan mengabarkan bahwa ia lulus diterima di sekolah yang ia impikan. Akupun ikut bahagia mendengarnya. Namun, rasa sedih juga  muncul mengingat kita akan berpisah setelah kurang lebih tiga tahun bersama di Pondok Pesantren. Lailah pantas melanjutkan impiannya dalam meraih cita-cita. Ia adalah anak yang pintar dan tekun belajar. Tak jarang mengukir prestasi dan mengharumkan nama Pondok kami dalam setiap Event.


Lailah menceritakan ku tentang sekolah impiannya. Sekolah boarding school dimana pendidikannya setara Sekolah Menengah Atas. Sekolah tersebut juga dikenal sebagai cikal bakal para cendekiawan atau orang orang yang berprestasi. Fasilitas di sekolah tersebut sangat menunjang dan lumayan lengkap. Sudah menjadi hal yang lumrah sekolah tersebut selalu masuk dalam tiga besar di kancah nasional, bahkan sebagian besar alumninya sangat mudah untuk melanjutkan pendidikan ke Luar Negeri.


Kurang lebih 10 tahun, kami terpisah oleh jarak dan waktu. Kami hanya dapat berkomunikasi saling tukar kabar seperlunya melalui media sosial dan seluler setelah ku selesaikan pendidikan di pondok pesantren. Alhamdulillah Lailah berhasil menyelesaikan kuliahnya di bidang teknologi dan di luar negeri serta lanjut menjadi pemimpin perusahaan skala nasional meski fisiknya masih sama pendek seperti diriku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...