Langsung ke konten utama

Ada Gula Ada Semut

Sudah menjadi kebiasaan di pondok, jika hidup bersama dengan orang lain beramai ramai harus saling membantu dan saling berbagi karena kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari bantuan orang lain. Meski tidak semua hal harus dibantu dan dibagi.


Kami di pondok datang dari berbagai macam daerah ada yang jauh ada pula yang dekat seperti saya. Maka bermacam pula latar belakang kami Ada yang dijenguk hampir tiap hari, ada yang dijenguk sepekan sekali, ada pula yang dijenguk sebulan sekali bahkan ada yang hampir tidak pernah dijenguk. Klo saya pribadi sih random sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan keluarga. Sampai sampai nih yaa saya sering dan pernah saking mau dijenguk minta sama Allah SWT. 


Mau tau bagaimana cara memintaku yakni ketika shalat jamaah Maghrib di masjid, dimana para jamaah banyak hampir seluruh penghuni pondok dan bacaannya dijahrkan (dikeraskan).

Klo sudah sampai di selesai membaca alfatihah, saya pun siap berdoa sebelum dan diaminkan oleh orang banyak. Dan Alhamdulillah makbul (diijabah). Sampai saya pun kaget ketika tiba tiba setelah makan atau sebelum makan pada pagi hari sebelum masuk kelas, abahku datang menjengukku.


Menurutku karena doaku Maqbul pas shalat Maghrib.Abahku terlihat sangat khawatir. Beliau mengira bahwa anaknya yang cantik ini sakit atau kenapa kenapa. Cek and ricek, ternyata abahku dan penghuni rumah kaget ketika lampu di rumah tiba tiba meledak. 


Alhamdulillah setiap dijenguk meski seadanya, orangtuaku atau keluargaku sering membawa makanan yang lebih sehingga bisa dimakan bersama teman teman. Namun memang begitu Alhamdulillah juga langsung habis dan memang semuanya sangat nikmat. Namun di satu sisi, kami memiliki teman yang sering usil dan tidak senang kepada teman teman yang tidak mau berbagi.


Iya sih, kami punya teman yang jarang berbagi kadang makan sendiri bahkan harus sembunyi dari balik pintu lemarinya. Klo aku sih santai saja karena setiap orang kan berbeda beda. Apalagi teman yang agak sedikit aneh menurut kami itu adalah anak yang memang datang dari jauh dan sangat jarang dijenguk. Wajarlah menurut saya pribadi. Namun tidak wajar bagi teman teman yang lain karena mereka juga datang dari jauh namun tidak seperti teman yang makan dalam lemari.


Begitulah ketika hidup dengan banyak kepala maka banyak pula pendapat. Ada gula ada semut seperti itu pesan guru salah satu guru kami bahwa ketika kita punya jajan makanan seringnya kita juga punya banyak teman, namun ketika kita tidak punya jajan belum tentu teman teman juga banyak yang mendekati. Seperti semut yang suka sama gula seperti itu pula sifat manusia. Namun, ketika ada teman yang makan dalam lemari ataupun menurut kalian kikir dan pelit, tapi itu adalah haknya. Tidak perlu meributkan hal yang belum tentu menjadi hak kalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...