Pria dewasa itu berlari ke masjid dengan segera saat mendengar adzan yg dikumandangkan oleh Bilal. Ajaib!. Padahal ia hampir hampir tidak pernah ke masjid sebelumnya, meski rumahnya tepat di samping masjid yang hanya membutuhkan lima langkah kaki agar dapat ikut shalat berjamaah di masjid.
Pria itu benar-benar berlari ke masjid, tapi bukan untuk shalat atau sekedar membersihkan tempat shalat. Tapi ia datang dengan amarah sampai dengan melayangkan pukulan kepada anak yg tidak berdosa itu. Ya, pria setan itu memukul Bilal yang terkejut dengan teriakan dan masih kebingungan pada proses peringatan yg berlebihan.
Aku yang mengetahui hal itu, ingin rasanya mempersoalkan masalah ini sebagai bentuk tanggung jawab seorang pembina bagi Bilal dan kawan-kawan. Namun, aku malas membesar-besarkan masalah ini. Miris dengan kejadian ini. Bagiku ini baru pertama, jika sampai kesekian kalinya pria itu berani memukul binaanku, barulah aku tindak lanjuti.
Aku akui kelalaian diri yang tidak sempat mengarahkan adik-adik binaanku dalam penggunaan pelantang suara masjid yang bukan milik pribadi. Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran untuk Bilal agar tidak menggunakan fasilitas umum dengan semau hati kita. Karena selalu ada orang yang pasti merasa bahwa fasilitas tersebut adalah miliknya.
Dan ketahuilah bahwa setan paling suka jika melihat manusia dalam kemarahan, apalagi jika dilanjutkan dengan pertikaian yang menimbulkan dendam hingga pembunuhan. Sedangkan dalam Islam diajarkan bahkan dilarang meski hanya tidak bertegur sapa dalam waktu maksimal tiga hari. Adapun bagi yang tertindas atau terdzolimi, in syaa Allah akan dikabulkan hajatnya. Semoga Bilal menjadi anak Sholih dan pemimpin umat Islam saat dewasa nantinya.
Iya aku adalah salah satu pembina LKSA tempat Bilal tinggal dan menempa diri. Setelah lulus dari pondok pesantren selama enam tahun. Aku diberi pilihan oleh ustad atau guruku untuk memilih tetap melanjutkan dan mengabdikan diri di pondok atau ingin mengabdikan diri di luar. Keputusan tersebut harus disampaikan sebelum pelepasan kelas akhir atau yudisium santri. Aku yang saat itu hanya memikirkan bagaimana baktiku dan menyadari bahwa aku hanya dibiayai oleh orangtua. Juga mempertimbangkan bagaimana orangtuaku sedang berjuang di luar pondok. Maka setiap dan segala keputusan yang kuambil tidak lepas juga dari keinginan orangtua. Maka setelah berdiskusi dan memaklumi harapan orangtua. Maka saya pun memutuskan untuk membantu orangtua dan melanjutkan pendidikan di luar pondok. Meski berat keputusan ini, namun aku tetap meminta ridho para guru untuk meridhoi keputusan ini. Karena tidak lain, guru-guru dan pondok ini juga yang mengajarkan ku untuk berbakti dan mendahulukan orangtua.
Komentar
Posting Komentar