Langsung ke konten utama

Adzan Ajaib 2

Pria dewasa itu berlari ke masjid dengan segera saat mendengar adzan yg dikumandangkan oleh Bilal. Ajaib!. Padahal ia hampir hampir tidak pernah ke masjid sebelumnya, meski rumahnya tepat di samping masjid yang hanya membutuhkan lima langkah kaki agar dapat ikut shalat berjamaah di masjid.


Pria itu benar-benar berlari ke masjid, tapi bukan untuk shalat atau sekedar membersihkan tempat shalat. Tapi ia datang dengan amarah sampai dengan melayangkan pukulan kepada anak yg tidak berdosa itu. Ya, pria setan itu memukul Bilal yang terkejut dengan teriakan dan masih kebingungan pada proses peringatan yg berlebihan.


Aku yang mengetahui hal itu, ingin rasanya mempersoalkan masalah ini sebagai bentuk tanggung jawab seorang pembina bagi Bilal dan kawan-kawan. Namun, aku malas membesar-besarkan masalah ini. Miris dengan kejadian ini. Bagiku ini baru pertama, jika sampai kesekian kalinya pria itu berani memukul binaanku, barulah aku tindak lanjuti.


Aku akui kelalaian diri yang tidak sempat mengarahkan adik-adik binaanku dalam penggunaan pelantang suara masjid yang bukan milik pribadi. Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran untuk Bilal agar tidak menggunakan fasilitas umum dengan semau hati kita. Karena selalu ada orang yang pasti merasa bahwa fasilitas tersebut adalah miliknya.


Dan ketahuilah bahwa setan paling suka jika melihat manusia dalam kemarahan, apalagi jika dilanjutkan dengan pertikaian yang menimbulkan dendam hingga pembunuhan. Sedangkan dalam Islam diajarkan bahkan dilarang meski hanya tidak bertegur sapa dalam waktu maksimal tiga hari. Adapun bagi yang tertindas atau terdzolimi, in syaa Allah akan dikabulkan hajatnya. Semoga Bilal menjadi anak Sholih dan pemimpin umat Islam saat dewasa nantinya.


Iya aku adalah salah satu pembina LKSA tempat Bilal tinggal dan menempa diri. Setelah lulus dari pondok pesantren selama enam tahun. Aku diberi pilihan oleh ustad atau guruku untuk memilih tetap melanjutkan dan mengabdikan diri di pondok atau ingin mengabdikan diri di luar. Keputusan tersebut harus disampaikan sebelum pelepasan kelas akhir atau yudisium santri. Aku yang saat itu hanya memikirkan bagaimana baktiku dan menyadari bahwa aku hanya dibiayai oleh orangtua. Juga mempertimbangkan bagaimana orangtuaku sedang berjuang di luar pondok. Maka setiap dan segala keputusan yang kuambil tidak lepas juga dari keinginan orangtua. Maka setelah berdiskusi dan memaklumi harapan orangtua. Maka saya pun memutuskan untuk membantu orangtua dan melanjutkan pendidikan di luar pondok. Meski berat keputusan ini, namun aku tetap meminta ridho para guru untuk meridhoi keputusan ini. Karena tidak lain, guru-guru dan pondok ini juga yang mengajarkan ku untuk berbakti dan mendahulukan orangtua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...