Bilal namanya, berusia sembilan tahun harus menjadi yatim, hingga akhirnya hidup di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang dulu dikenal sebagai Panti Asuhan. Kurang lebih sudah satu tahun ia beradaptasi dan tinggal di LKSA dengan perjuangan bangun subuh hingga mengurus diri sendiri.
Setelah sekian tahun Bilal tinggal di LKSA. semakin hari ia semakin berani tampil di depan jika diminta untuk menghapal beberapa surat dari Al-Qur'an. Tak jarang iapun suka belajar adzan dengan kakak-kakak di LKSA. Hingga akhirnya ia ingin sekali adzan seperti kakak-kakaknya dengan menggunakan pelantang suara di masjid.
LKSA tempat Bilal tinggal adalah satu yayasan yang memiliki lembaga pendidikan dan pembinaan anak-anak dan orangtua. Jaraknya dekat dengan masjid masyarakat sehingga pihak Yayasan tidak membangun mushalla seperti yayasan lainnya untuk pusat kegiatan pada umumnya.
Daripada jamaah masjid dekat yayasan sedikit dan hampir sepi, maka anak-anak LKSA yang mukim atau tinggal dalam kompleks yayasan diarahkan untuk shalat fardhu atau lima waktu di masjid tersebut. Alhamdulillah masjid tersebut bisa selalu terisi jamaah shalat 5 waktu.
Meski letak masjid tersebut di pinggir jalan dan di sekitar rumah masyarakat Islam, namun jamaah masjid tersebut sangat jarang dari pihak masyarakat. Kecuali shalat Jum'at yang lumayan ramai diisi oleh para Jama'ah sekitar masjid tersebut.
Waktu menunjukan pukul sebelas, jarum pendek menunjuk ke angka sebelas, dan jarum panjang menunjuk ke angka dua belas. Bel sekolah pun berbunyi tanda istirahat. Anak-anak LKSA pun sibuk istirahat dan menyiapkan diri untuk shalat Dzuhur. Dengan penuh semangat, Bilal dan dua teman kelasnya berlari ke Masjid untuk bersiap.
Jarum panjang menunjuk angka enam, dan jarum pendek mendekati angka dua belas. Bilal, yang telah selesai berwudhu, mengambil pengeras suara di masjid dan memberanikan diri mengumandangkan adzan Dzuhur.
Bilal mulai mengumandangkan adzan dan hanyut hingga bait ke empat pada kalimat syahadat. Terdengar suara teriakan seorang bapak-bapak yang hanya menggunakan celana pendek dan tanpa baju. Bapak itu adalah penghuni rumah tepat di samping masjid.
Komentar
Posting Komentar