Langsung ke konten utama

Bani Israil

 Barusan saya baca paket buku RATU (Rasulullah Teladan Utama) jilid ke 6 dengan Judul Mukjizat Terbesar. Sampailah di halaman 24 (dua puluh empat) dengan sub judul Perintah Shalat. Diceritakan lah bagaimana peristiwa hingga diwajibkannya Shalat lima waktu dalam sehari bagi umat Rasulullah Saw. Iya, benar sangat. Peristiwa Isra Mi'raj. Yang kalau ditelaah dengan iman, in syaa Allah menambah keteguhan hati. Namun jika ditelaah dengan melampaui batas, maka bisa jadi membuat gila terkait perihal Sidratul Muntaha.


Dalam peristiwa Mi'raj yang dituliskan dihalaman sebelumnya, Rasulullah diperjalankan dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha dan kemudian naik ke langit hingga langit ketujuh serta menuju Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Allah Azza WaJalla. Satu hal yang diperintahkan untuk diajarkan dan disampaikan kepada kita sebagai umat Rasulullah Saw, yakni perintah untuk melaksanakan shalat fardhu (wajib). Yang diawali dengan perintah untuk melaksanakan shalat wajib 50 (lima puluh) kali dalam sehari hingga akhirnya diringankan dan ditetapkan menjadi 5 (lima) kali dalam sehari.


Mari kita telisik sedikit perjalanan agung ini. Dimana diceritakan bahwa saat mi'raj tersebut, ketika Rasulullah naik ke langit, beliau bertemu dengan Nabi Adam a.s. di langit pertama, lalu bertemu dengan nabi Isa a.s. dan nabi Yahya a.s. di langit kedua. Selanjutnya bertemu dengan Nabi Yusuf a.s. dilangit ketiga, lalu bertemu dengan Nabi Idris a.s. di langit ke empat.  Kemudian Rasulullah bertemu dengan Nabi Harun a.s. di langit ke lima,  lalu bertemu Nabi Musa a.s. di langit ke enam serta nabi Ibrahim di langit ketujuh. Saat selesai diperintahkan untuk melaksanakan ajaran perintah shalat wajib 50 kali dalam sehari, Rasulullah hendak turun ke bumi.  Namun hingga di langit ke enam bertemu dan ditanya oleh Nabi Musa a.s. terkait hal yang diperintahkan oleh Allah Swt. 


Setelah Rasulullah menyampaikan terkait perintah untuk melaksanakan shalat 50 kali dalam sehari, Nabi Musa a.s. beberapa kali meminta Nabi Muhammad Saw. untuk meminta keringanan kepada Allah Swt atas perintah tersebut. Dikarenakan perbandingan dan mengingat sikap kaum Nabi Musa a.s. yang dikenal dengan Bani Israil sangat susah diatur plus kepala batu sehingga Nabi Musa a.s. meminta Rasulullah untuk meminta keringanan atas perintah tersebut. Bahkan ketika perintah tersebut akhirnya sampai pada jumlah 5 kali dalam sehari. Nabi Musa a.s. juga masih meminta kepada Rasulullah agar meminta keringanan lagi kepada Allah Swt. Namun Beliau adalah Rasulullah Saw, Manusia pilihan, mulia dan sungguh memiliki akhlak yang agung. Rasulullah Saw malu untuk kemudian sudah sampai di titik yang kesekian kali harus meminta dalam arti bisa menjadi hal merengek seperti seorang anak yang berulang ulang meminta keringanan tugas kepada orang tuanya. Meski hal ini tidaklah bisa dibandingkan dengan perihal yang dilakukan oleh Para Anbiya.


Satu hal yang ingin saya sampaikan dan garis bawahi bahwa, pada awal pertemuan Rasulullah Saw dan Nabi Musa a.s. di Langit ke 6. Nabi Musa menangis disebabkan mengingat kaumnya (Bani Israil) yang sungguh di luar nalar atau agak lain kepala batunya sehingga hanya beberapa saja yang menjadi pengikut Nabi Musa a.s. Dan mereka (Bani Israil) memang sangat dikenal sebagai pembangkang dan nauzubillahimindzalik. Maka tidak heran jika hari ini bagaimana kaum Israel biadab yang mengaku umat Nabi Musa a.s. namun mengingkari ajarannya. Agak agak Laen sangad kaaaaan.


Pastinya mengapa kemudian Nabi Musa a.s. meminta keringanan terkait perintah shalat tersebut. Hal itu juga karena mengingat pengalaman Nabi Musa a.s. saat diutus untuk umatnya atau kaum Bani Israil. Saya pun masih ingat sedikit terkait surah Al-Baqarah dimana dalam beberapa ayat juga dituliskan bagaimana kisah Bani Israil ketika diperintahkan untuk menyembelih hewan. Mereka berkilah dengan berbagai pertanyaan dan permintaan yang ujung-ujungnya juga tidak membuat mereka beriman dan mengakui kebenaran.


Seperti itulah kurang lebih gambaran Bani Israil dari dulu. Tak perlu heran dan kaget dengan keanehan serta kebodohan mereka yang menyebabkan tertutup pula hati mereka. Nauzubillahimindzalik. Namun janganlah sampai mau dibodoh-bodohi oleh mereka Israel yang mengaku sebagai umat Nabi Musa. Selanjutnya yang kiranya perlu kita renungi bahwa ketika kita sebagai umat Islam merasa keberatan dan susah untuk melaksanakan shalat. Maka benarlah kekhawatiran Nabi Musa a.s. bahwa kita sama dengan umatnya (Bani Israil) adalah termasuk manusia keras kepala dan hati batu. Nauzubillahimindzalik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...