Langsung ke konten utama

Biru 1

 Sore itu adalah jadwal kelas ngajiku. Ternyata ada tambahan satu orang yang sebelumnya belum kukenal. Tibalah saat dirinya memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa ia datang dari kabupaten sebelah di provinsi yang sama dengan tempatku. Adapun alasannya untuk memulai hadir dikelas kami punya cerita yang menggugah ku. Ia datang di kota ini untuk pertama kali karena ditugaskan atau mendapatkan amanah baru yang diimpikannya yakni lulus sebagai Aparatur Sipil negara sebagai seseorang yang bekerja di bagian ekonomi atau akuntan sesuai dengan latar belakang pendidikannya.  Satu alasan, atau sampai disini ia pun bercerita bahwa sudah beberapa hari mencari tempat untuk mengaji sebagai tempat yang ia rindukan dan komunitas yang ia butuhkan. Ia pun akhirnya diperlihatkan dengan pemandangan spanduk atau papan nama komunitas di depan halaman sebuah rumah. Rasa senang datang dari lubuk hatinya seakan berkata bahwa papan nama itu adalah jawaban dari doa dan harapnya. Ia pun mengetuk pintu dan bertanya kepada penghuni rumah terkait niat dan keinginannya untuk ikut kelas ngaji sebagai sarana untuk belajar dan mengembangkan diri. Hingga akhirnya hari ini, ia bertemu dengan kami sebagai teman pertama dalam kelas ngaji di kota ini. Hari demi hari kami semakin akrab dan saling mengenal. Tak jarang kami teman sekelas atau kelompok nya ikut nginap di kosnya. Kami bercerita dan beraktivitas bersama sampai dengan masak dan makan bersama. Semakin hari kami semakin akrab yang dipertemukan satu hobi atau kesukaan dalam traveling khususnya mengendarai motor. Kami lalu memutuskan suatu hari untuk traveling bersama ke tempat yang indah menurut kami. Di tempat itu terhampar hijaunya Padang rumput, pohon pinus, cagar alam dan ternyata jarkanya juga menantang. Kurang lebih empat sampai dengan lima jam kami harus menempuh tempat tersebut dengan mengendarai motor. Ya, kami mengendarai motor matic biru dengan lumayan perlengkapan safety menurut kami. Kacamata, jaket, sepatu, kaoskaki, perlengkapan masing masing tas, juga jas hujan. Kami menikmati tantangan ini kurang lebih jaraknya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...