Sampai hari ini, iapun masih mandiri dan hidup sebatang kara di kota ini. Ia orang yang disiplin, menghargai waktu dan penuh dengan aktifitas yang bermanfaat. Bekerja keras dan tekun belajar. Rajin membaca, juga menulis. Darinya aku banyak belajar bagaimana harusnya bersyukur dan menjalani kehidupan karena tak selamanya kita akan bergantung kepada orang tua.
Akupun mengajaknya jalan jalan kerumah orangtuaku dan mengenalkannya kepada orangtuaku. Kami pun intens berteman hingga orangtuaku menganggapnya seperti anak kandung. Namun dengan segala keterbatasan keluargaku, kami belum dapat maksimal membantunya. Karena ia juga bukan orang yang suka mengeluh dan mengemis akan bantuan. Bahkan karena terlalu mandiri ia tidak suka dibantu.
Aku merasa bahwa ia perlu dibantu karena hidup sebatangkara di kota ini. Tapi ternyata aku keliru, dengan penuh kemandirian, ia yang banyak membantuku. Tak jarang ia memberikan hadiah ke yayasan keluargaku sesuai kebutuhan. Dimana salah satu usaha atau binaan yayasan keluarga adalah mendidik adik adik panti asuhan. Maka ia pun sering mengantarkan kebutuhan sembako dan uang. Bahkan ia pernah menghadiahkan printer karena mengetahui printer yayasan rusak.
Ia juga mengajakku untuk ikut kegiatan pengembangan diri di bidang literasi. Tak jarang kami berangkat bersama ke ibukota untuk mengikuti kegiatan seminar literasi yang diisi oleh penulis terkenal ataupun tokoh literasi ibukota yang handal. Dengan koleksi buku yang lumayan juga yang dimilik olehnya. Aku banyak belajar untuk semakin banyak membaca.
Akhirnya aku memutuskan untuk berusaha mencari kerja dan tidak terlalu nyaman dan terlena dengan kehidupanku sekarang. Aku belajar darinya, mengapa aku tak mau berkerja, setidaknya berpenghasilan apapun itu guna membantu dan mempersembahkan sesuatu untuk orangtua selagi masih ada. Rasanya malu diusaia yang sebaya aku masih belum bisa berusaha maksimal terkait makna juang kehidupan.
Allah SWT pun menjawab doaku dengan membukakan pintu atau lowongan pekerjaan bagiku sebagai pekerja sosial. Dengan penuh harap dan doa akupun lulus dan diterima sebagai pegawai kontrak di kementrian sosial. Selanjutnya setiap tawaran pekerjaan yang ku anggap mampu untuk mengerjakan dan menyelesaikannya pasti aku usahakan. Sampai akhirnya aku berkerja double job sebagai wujud syukur atas diterima dan diberikan pekerjaan.
Tiba saatnya jodoh menghampiri melalui ta'aruf. Aku dan teman-teman membantunya dengan berusaha maksimal dalam setiap agenda kebutuhan pelaksanaan akad hingga resepsi. Ia punya konsep dan gambaran acgenda yang tertata. Meski ia yang akan menikah. Ia tetap mandiri dan sibuk dalam memikirkan, mengatur dan mengupayakan segala hal sesuai dengan yang ia inginkan.
Alhamdulillah acara pernikahan yang lumayan menghadirkan pejabat dan sangat ramai di gedung pernikahan akhirnya berhasil dengan seragam panitia dan seragam pengantin yang tak luput pula ia rancang. Meski dengan segala keterbatasan kami, ia yang membuatnya menembus batas hingga acara pernikahan tersebut sukses dan tergolong mewah.
Komentar
Posting Komentar