Langsung ke konten utama

Care

 Segan, sungkan bagi orang-orang yang tidak merokok untuk menegur saudara dan teman-teman yang sudah sangat kecanduan rokok. Meski rasa sayang dan sudah sering menegur demi kebaikan perokok, namun semua upaya tersebut terkalahkan oleh pribadi perokok. Maka rasa sayang pun mengalah sesuai dengan ego pribadi masing-masing. Padahal yang menegur bukan hanya mencintai dirinya sendiri, tapi juga mencintai diri perokok tersebut.


Tidak sedikit fakta yang menjelaskan dan membuktikan terkait bahaya rokok. Namun, seperti menggarami air laut. Perokok pastinya lebih tahu bagaimana buruk dan dampak negatifnya. Hanya saja mereka selalu punya dan hanya satu alasan, 'happy' just it. Bagi perokok, rokok bukan sekedar candu, tapi kebutuhan, kebahagian, obat, dan pelipur lara. Menghilangkan semua hal tersebut, sama saja dengan menjadikan pemicu maut baginya. Itulah yang menjadi penghalang bagi akal sehatnya. 


Perokok juga menyadari bahwa tidak perlu dan jangan sampai orang lain khususnya yang mereka sayangi menjadi pengikut mereka. Cukup, cukup bagi mereka, karena mereka sadar akan sangat sulit bahkan seperti mustahil untuk melepaskannya dan bertahan menjadi lebih baik. Meski sudah mencoba berbagai macam cara untuk berhenti dan melepaskannya, jika tekadnya lemah dan tidak didukung oleh lingkungan maka besar kemungkinan akan selalu gagal.


Karena cinta kami menegurmu, karena sayang kami menghalangimu. Namun seringnya karena hormat kami membiarkanmu. Agar tidak ada cela dan keributan di antara kita. Namun semakin kesini, semakin ku sadari bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. Dirimu hanya menyayangi dirimu sendiri. Dirimu belum maksimal untuk berjuang seperti orang-orang yang sungguh-sungguh untuk melepas rokok. Dirimu terlalu memilihnya dibanding kami yang mencintaimu.


Sadarkah dirimu, jika ada anak yang sakit dalam satu rumah, dan terdapat perokok di dalam rumah tersebut, pemicu utamanya adalah rokok. Hal ini bukan hanya tentang asap yang terlihat melingkar, menggumpal seperti keluar dari knalpot motor. Namun, sisa-sisa dzat rokok yang tidak nampak karena keterbatasan penglihatan manusia, tetap terhirup oleh seluruh penghuni rumah tersebut. Bisa jadi yang menempel melalui pakaian, dinding atau apapun itu yang ada di dalam rumah tersebut.


Bapak paruh yang menjadi orangtua dan bos di kantorku. Beliau sudah kuanggap seperti paman sendiri. Kurus badan nan kerutan kulitnya tidak dapat membohongi usianya. Namun semangat juang dengan jiwa mudanya mengalahkan fisik dan kemampuan yang sebenarnya. Hampir setiap hari beliau memilih mengendarainya sepeda motor untuk bolak balik rumah kantor demi sebuah tanggung jawab pengabdiannya dan bersiap menyambut masa paripurnanya.


Setelah kurang lebih 30 tahun masa pengabdian beliau, mulai dari mengajar sebagai guru Matematika di beberapa sekolah sampai dengan kepala bagian di beberapa Dinas Daerah melalui drama series kisah kasih Pegawai Negeri Sipil. Di akhir-akhir pengabdian, beliau menempuh jarak kurang lebih 52 km untuk berkantor setiap hari aktif. Beberapa kali beliau langsung singgah di Rumah Sakit, jika tidak tahan dengan rasa sakit yang dideritanya.  Dan tak jarang pula, pihak rumah sakit mengambil tindakan rawat inap berdasarkan diagnosa penyakitnya akibat riwayat merokok.


Suatu hari di waktu senggang dalam istirahat makan siang kegiatan pelatihan kantor. Setelah makan siang, kami beberapa peserta pelatihan juga pak bos yang kusebut juga larut dalam canda dan tawa. Tiba-tiba beliau pun bercerita dengan santai bahwa kurang lebih 20 tahun beliau termasuk perokok aktif yang kemudian memutuskan untuk berhenti merokok. Beliau mengaku dengan bangga bahwa satu alasan kuat yang mendorongnya adalah Karena ingat dan sayang anak. Iya satu alasan karena 'Anak'.


Selanjutnya beliau menceritakan demi menghemat untuk biaya pendidikan anak menjadi alasan pertama. Adapun alasan-alasan kuat lainnya dikarenakan permintaan anak dan sayang akan kesehatan keluarga. Serta keinginan untuk bertahan hidup demi untuk sampai melihat anak tumbuh dan sukses bahkan menikah serta memberikan cucu untuknya. Itulah kebahagiaan yang beliau impikan.


Dan tepat hari kutuliskan kisahnya ini. Beliau sedang menikmati cinta dan kehadiran cucu laki-laki yang berusia empat tahun yang sedang bertumbuh dengan lucu-lucunya dan menjadi pelipur lara setelah menyelesaikan masa paripurnanya serta menjadi cahaya surga bagi rumahnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...