Segan, sungkan bagi orang-orang yang tidak merokok untuk menegur saudara dan teman-teman yang sudah sangat kecanduan rokok. Meski rasa sayang dan sudah sering menegur demi kebaikan perokok, namun semua upaya tersebut terkalahkan oleh pribadi perokok. Maka rasa sayang pun mengalah sesuai dengan ego pribadi masing-masing. Padahal yang menegur bukan hanya mencintai dirinya sendiri, tapi juga mencintai diri perokok tersebut.
Tidak sedikit fakta yang menjelaskan dan membuktikan terkait bahaya rokok. Namun, seperti menggarami air laut. Perokok pastinya lebih tahu bagaimana buruk dan dampak negatifnya. Hanya saja mereka selalu punya dan hanya satu alasan, 'happy' just it. Bagi perokok, rokok bukan sekedar candu, tapi kebutuhan, kebahagian, obat, dan pelipur lara. Menghilangkan semua hal tersebut, sama saja dengan menjadikan pemicu maut baginya. Itulah yang menjadi penghalang bagi akal sehatnya.
Perokok juga menyadari bahwa tidak perlu dan jangan sampai orang lain khususnya yang mereka sayangi menjadi pengikut mereka. Cukup, cukup bagi mereka, karena mereka sadar akan sangat sulit bahkan seperti mustahil untuk melepaskannya dan bertahan menjadi lebih baik. Meski sudah mencoba berbagai macam cara untuk berhenti dan melepaskannya, jika tekadnya lemah dan tidak didukung oleh lingkungan maka besar kemungkinan akan selalu gagal.
Karena cinta kami menegurmu, karena sayang kami menghalangimu. Namun seringnya karena hormat kami membiarkanmu. Agar tidak ada cela dan keributan di antara kita. Namun semakin kesini, semakin ku sadari bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. Dirimu hanya menyayangi dirimu sendiri. Dirimu belum maksimal untuk berjuang seperti orang-orang yang sungguh-sungguh untuk melepas rokok. Dirimu terlalu memilihnya dibanding kami yang mencintaimu.
Sadarkah dirimu, jika ada anak yang sakit dalam satu rumah, dan terdapat perokok di dalam rumah tersebut, pemicu utamanya adalah rokok. Hal ini bukan hanya tentang asap yang terlihat melingkar, menggumpal seperti keluar dari knalpot motor. Namun, sisa-sisa dzat rokok yang tidak nampak karena keterbatasan penglihatan manusia, tetap terhirup oleh seluruh penghuni rumah tersebut. Bisa jadi yang menempel melalui pakaian, dinding atau apapun itu yang ada di dalam rumah tersebut.
Bapak paruh yang menjadi orangtua dan bos di kantorku. Beliau sudah kuanggap seperti paman sendiri. Kurus badan nan kerutan kulitnya tidak dapat membohongi usianya. Namun semangat juang dengan jiwa mudanya mengalahkan fisik dan kemampuan yang sebenarnya. Hampir setiap hari beliau memilih mengendarainya sepeda motor untuk bolak balik rumah kantor demi sebuah tanggung jawab pengabdiannya dan bersiap menyambut masa paripurnanya.
Setelah kurang lebih 30 tahun masa pengabdian beliau, mulai dari mengajar sebagai guru Matematika di beberapa sekolah sampai dengan kepala bagian di beberapa Dinas Daerah melalui drama series kisah kasih Pegawai Negeri Sipil. Di akhir-akhir pengabdian, beliau menempuh jarak kurang lebih 52 km untuk berkantor setiap hari aktif. Beberapa kali beliau langsung singgah di Rumah Sakit, jika tidak tahan dengan rasa sakit yang dideritanya. Dan tak jarang pula, pihak rumah sakit mengambil tindakan rawat inap berdasarkan diagnosa penyakitnya akibat riwayat merokok.
Suatu hari di waktu senggang dalam istirahat makan siang kegiatan pelatihan kantor. Setelah makan siang, kami beberapa peserta pelatihan juga pak bos yang kusebut juga larut dalam canda dan tawa. Tiba-tiba beliau pun bercerita dengan santai bahwa kurang lebih 20 tahun beliau termasuk perokok aktif yang kemudian memutuskan untuk berhenti merokok. Beliau mengaku dengan bangga bahwa satu alasan kuat yang mendorongnya adalah Karena ingat dan sayang anak. Iya satu alasan karena 'Anak'.
Selanjutnya beliau menceritakan demi menghemat untuk biaya pendidikan anak menjadi alasan pertama. Adapun alasan-alasan kuat lainnya dikarenakan permintaan anak dan sayang akan kesehatan keluarga. Serta keinginan untuk bertahan hidup demi untuk sampai melihat anak tumbuh dan sukses bahkan menikah serta memberikan cucu untuknya. Itulah kebahagiaan yang beliau impikan.
Dan tepat hari kutuliskan kisahnya ini. Beliau sedang menikmati cinta dan kehadiran cucu laki-laki yang berusia empat tahun yang sedang bertumbuh dengan lucu-lucunya dan menjadi pelipur lara setelah menyelesaikan masa paripurnanya serta menjadi cahaya surga bagi rumahnya.
Komentar
Posting Komentar