Pada pos pertama, kami diminta untuk menjawab pertanyaan terkait, nama founder atau Yang disebut dengan Bapak Pramuka. Alhamdulillah masih bisa jawab dan dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan dan petualangan ke pos selanjutnya. Dengan hati yang riang kami dan teman teman seregu meneruskan petualangan. Kami siap dengan perbekalan masing-masing terutama air minum.
Selanjutnya sampailah kami di pos ke dua. Bertemu dengan beberapa kakak pembina yang mulai menunjukan tajinya alias perawakan kharismatik atau lebih dikenal dengan muka tegas dan sedikit galak. Kami diminta untuk melakukan tantangan dengan mencamil jajan bersama dan tidak boleh jijik. Setelah berhasil dan selesai melakukannya kami dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Namun sebelum itu kami diminta untuk mempersembahkan satu tampilan entah menyanyi atau apapun dari kreativitas kami.
Setelah selesai di pos ke dua, ketiga, kami melanjutkan perjalanan ke pos ke-empat. Ditengah perjalanan kami didahului oleh beberapa pembina yang memantau dari kejauhan dan nampak keren seperti pengawas lapangan pada umumnya. Dalam hati semakin merasa aman karena yakin kami tetap terjaga. Hingga sampailah kami di pos ke empat dan menyelesaikan teka teki yang diberikan oleh pembina pada pos tersebut. Kami juga ditantang untuk saling menghias diri sambil menutup mata. Meski rasanya lelah dan menjengkelkan kami menikmatinya.
Kamipun akhirnya dapat melanjutkan perjalanan ke pos ke-lima. Namun di tengah perjalanan kami mendapatkan sandi (penunjuk arah dari rumput/pohon) yang membuat kami ragu untuk memilih dan memutuskan arah jalan yang tepat. Hingga akhirnya ketika kami memilih satu diantara dua arah jalan tersebut. Kami pun tersesat ke dalam semak-semak di hutan. Padahal awalnya kami merasa tidak tersesat karena masih terlihat jalan setapak yang rasanya sering dilewati.
Meski ragu, kami tetap memilih untuk melanjutkan perjalanan. Namun semakin melangkah ke depan rasanya semakin sepi dan meragukan. Pastinya cemas dan khawatir mulai menghampiri dalam hati. Namun pikirku, aku kan tidak sendiri dan lagi bersama teman-teman seregu. Dan satu hal yang kami yakini kami tidak sendiri ada Allah SWT yang Maha Baik, Maha segalanya, dan paling dekat. Sampai akhirnya tiba di semak-semak yang buntu baru kami sadari dan putuskan bahwa kami memang benar-benar memilih arah yang salah.
Dengan memohon dan penuh harap dalam doa, kami yakin Allah SWT sangat dekat dan Maha mengabulkan doa. Kami memutuskan untuk kembali mundur mengikuti jalan sebelumnya telah kami lalui dan memilih arah yg sebelumnya. Namun karena jiwa yang sedikit kalut, rasanya tidak ada petunjuk sama sekali kecuali hanya insting yang diperjalankan oleh Allah SWT Yang Maha memberi petunjuk bagi setiap hamba dalam kesesatan.
Kami tidak merasa khawatir dan cemas karena meski menulusuri hutan dan diharuskan menebak teka-teki dan sandi rumput atau apapun itu yang kira-kira menjadi penunjuk arah, namun beberapa pembina tetap lewat, atau mengawasi kami dari jarak jauh. Namun, saat kami mulai tersesat, salah satu yang mulai menyadarkan kami juga adalah sudah sekian menit pembina tak nampak lewat. Kurang lebih 1 jam rasanya kami tersesat. Dan ternyata memang dua pos yang sempat kami lewati tak terlihat. Namun kami sangat bersyukur bisa kembali berkumpul walaupun akhirnya menjadi peserta kedua sebelum terakhir sampai di pos terakhir.
Padahal kami adalah regu pertama yang berangkat namun menjadi regu terakhir yang sampai setelah delapan regu mendahului kami. Beberapa teman kami dari kelompok lain sempat khawatir dan bertanya kami dari mana. Namun karena masing-masing sudah harus bersiap untuk agenda shalat berjamaah maka kami tidak sempat untuk membahas dan menceritakan apa yang baru saja kami alami.
Menegangkan dan seru rasanya. Meski sempat ada cemas yang bisa jadi berlebihan. Namun, satu hal yang mengajarkan ku tentang makna penjelajahan ini bahwa setiap masalah dan tantangan pasti akan kita lewati. Sama halnya ketika di garis start penjelajahan ini, dalam pikiranku adalah keyakinan akan sampai di garis finish yang ditentukan. Tidak sempat terpikir apa yang akan menjadi halangan dan tantangan. Hanya pikiran yang menunjukkan bahwa garis finish itu sangat dekat, dekat dalam pandanganku. Iya, garis finish tersebut berada tepat dalam pikiranku seperti jarak beberapa centimeter dalam gambar yang kupandang.
Komentar
Posting Komentar