Langsung ke konten utama

Cross Country

 Warna cokelat mulai memenuhi dan menghiasi pondok. Mulai dari cokelat susu, cokelat muda sampai dengan cokelat tua menjadi pakaian utama pada hari ini. Kami akan melaksanakan satu agenda tahunan dengan rangkaian acara luar pondok. Mulai dari jelajah alam sampai dengan berbagai macam lomba. Smhapore, pionering, Morse, yel-yel Pe Oo Te, dan mencari jejak.


Kurang lebih 14 tahun usiaku hari ini, suasana sangat ramai. Aku menjadi pinru (pimpinan regu) Pe Oo Te dua. Dengan atribut lengkap dan kemudian memeriksa kelengkapan anggota regu kamipun dinyatakan siap untuk mengikuti kegiatan Pramuka. Para pembina kemudian mengumpulkan kami di halaman utama pondok guna memberikan pengarahan terkait aturan kegiatan cross country.



Diawali dengan pembacaan do'a, seluruh santri kemudian berangkat ke lokasi perkemahan dengan beberapa truk sewaan. Riuh dan seru serta asyik beramai-ramai mengikuti kegiatan cross country. Mobil truk yang kami tumpangi penuh dengan canda dan tawa, juga nyanyian. Apalagi saat proses pemberhentian atau penarikan rem mobil, seluruh santri dalam truk tersebut berteriak secara refleks antara takut dan gembira.


Setelah seluruh santri sampai di lokasi yang disebut bumi perkemahan, kami kembali berkumpul dengan regu masing-masing. Selaku pinru memiliki tanggung jawab khusus terhadap anggota regunya. Dengan berjumlah sembilan orang dalam setiap regu, kami pun mulai bersiap mendengarkan arahan penjelasan di garis start (tempat mulai) terkait petunjuk pelaksanaan jelajah alam (cross country).


Jelajah alam akhirnya dimulai dengan menebak sandi smhapore. Regu kami adalah regu pertama dari regu putri yang berhasil menebak sandi tersebut dan kemudian menjadi regu pertama yang mulai menjelajahi alam. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim kami mulai berjalan dengan tongkat dan perlengkapan masing-masing. Regu kami pun mulai berjalan dan menulusuri setiap petunjuk arah hingga sampailah kami di pos pertama.


Di dalam jelajah alam ini, kami selaku peserta akan mencari atau menulusuri hutan dan singgah di beberapa pos yang kurang lebih berjumlah Tujuh Pos. Yaa mirip mirip lapisan langit sepertinya. Hehehe. Para pembina pada masing-masing pos akan memberikan pertanyaan yang harus kami selaku peserta jawab untuk melanjutkan perjalanan. Jika peserta tidak dapat menjawab pertanyaan atau melakukan tantangan yang diberikan, maka akan semakin lama ditahan di pos tersebut sampai dengan menyelesaikan tantangan yang lainnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...