Langsung ke konten utama

Kado untuk Ibu

 Penuh haru dan mata berkaca ku lihat senyum ibu merekah kemudian memeluk dan mencium ku. Emas koin 10 gram medali Hadiah juara tiga yang kudapat dari lomba tafsir Al-Qur'an saat ini dengan sejumlah uang tunai 3 juta kuserahkan seluruhnya kepada orangtua tercinta. Ini adalah hak mereka aku yang saat ini masih duduk di kelas empat pondok pesantren juga sangat senang dan sedikit kaget karena tampilan yang sudah ku usahakan belum maksimal.


Namun hal tersebut menjadi berita yang cukup menjadi kabar gembira yang sangat patut disyukuri. Belum juara satu namun sudah berpartisipasi dan memberikan sedikit kabar baik yang mengharumkan nama pondok. salah satu ustad atau guruku dengan berulang menyebutkan namaku Faizah artinya sang juara sehingga menjadi doa membawa keberuntungan untuk menjadi juara seperti itulah kurang lebih beliau menyebutkan dalam pujian saat aku dalam kelas yang diharapkan menjadi motivasi bagi semua santri. 


Aku tak kenal namun hanya perihal taat kepada guruku ketika diminta untuk ikut lomba dan diberikan buku untuk dipelajari. Dengan senang hati aku menerimanya dan berharap semoga menjadi dan membawa prestasi.


Beberapa kali aku mengikuti lomba mulai dari tingkat kecamatan sampai dengan tingkat kabupaten untuk kemudian mensyukuri hal tersebut menjadi rejeki dan sarana untuk terus belajar. Jika tidak ikut lomba tafsir maka saya sepertinya tidak akan pernah ataupun tidak punya alasan untuk kemudian belajar dan membaca buku tafsir dengan pendalaman. Dari situlah saya banyak belajar. Ternyata Ayat ayat-ayat dalam Al-Qur'an memiliki makna yang luas dan sebab sebab turunnya sehingga para ulama banyak berjasa bagaimana mereka menyampaikan dan mengumpulkan ilmu hingga kita sebagai generasi selanjutnya dapat belajar dari karya dan tulisan tulisan mereka .


Selanjutnya saat saya mengikuti beberapa lomba . Alhamdulillah banyak pengalaman dan mendapatkan banyak teman mulai dari satu provinsi Sulawesi Tengah sampai dengan Teman yang berasal dari provinsi tetangga. Mereka adalah orang-orang yang hebat dan penuh inspirasi. Dari sini juga saya belajar. Ternyata ilmu Al-Qur'an ku sangat minim.


Di pondok saya belajar tentang tajwid dan bahkan hapal teori dan rumusnya. Namun ternyata bacaan penerapan bacaan ku masih jauh dari layak dan baiknya bacaan Alquran yang seharusnya. Hingga akhirnya saya melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren Al-Qur'an yang ada di daerah Jawa Timur untuk kemudian belajar dari sangat dasar dengan menyesuaikan bahasa dan budaya. Dikarenakan saya mondok di daerah pelosok tepatnya di pondok pesantren salafiyah yang keseluruhannya hampir tidak tau bahasa Indonesia. Yang mereka tahu dan paham hanyalah bahasa ibu mereka yaitu bahasa Jawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...