Kurang lebih pukul 09.42, setelah selesai melaksanakan shalat Dhuha di kamarku. Ku baca satu persatu surat rahasia yang dikumpul oleh adik-adik kamarku. Namun masih seperti kemarin, tidak satupun yang mengaku terkait pencurian uang tersebut. Dengan bingung dan perasaan cemas, tetap kulangkahkan kakiku kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.
Apa yang harus kukatakan malam nanti sebelum tidur kepada adik-adik kamarku jika tak satupun yang mengakui kesalahannya. Menurutku bukan hal yang lumrah bagiku untuk memaksa adik-adik ku mengaku dengan bersumpah. Aku terus berprasangka baik kepada Allah SWT, dan merayu penuh harap di dalam batin.
Sore itu, setelah melaksanakan shalat ashar berjamaah di Mushalla Putri. Seperti biasa, suasana riuh memenuhi hampir setiap sudut pondok pesantren. Masing-masing sibuk dengan jadwal kegiatan (olahraga dan Ekstrakurikuler) dan piket (petugas harian) sore. Tepat di halaman depan kamarku saat kulangkahkan kaki menuju ke teras asrama, tiba-tiba seseorang menyerahkan padaku secarik kertas yang terlipat. Iya, surat rahasia dari seorang adik kamarku.
Gadis pendiam dan pemalu yang ku kenal itu menyerahkan suratnya kepadaku sambil meminta maaf karena baru mengumpulkan. Ia pun berlalu dari hadapanku pamit melanjutkan aktifitasnya. Kuterima dan kubawa surat tersebut ke kamar untuk kemudian ku baca. Penuh syukur ku lantunkan hamdalah dan sujud syukur atas pertolongan Allah SWT setelah membaca surat tersebut.
Surat terakhir ini berisi pengakuan seseorang pelaku yang telah mengambil uang temannya. Dengan penjelasan terjepit dan penuh rasa bersalah, ia menjelaskan telah memakai sedikit uang yang diambilnya dan mengembalikan sisa uang tersebut. Meski terkejut dengan pengakuan dari adik kamarku ini yang kukenal jarang melanggar dan hampir tidak pernah berulah sebelumnya. Aku berusaha memaklumi kondisinya yang jauh dari orangtua serta beberapa faktor yang mendorongnya untuk mengambil yang bukan haknya.
Komentar
Posting Komentar