Langsung ke konten utama

Kehilangan uang 2

 Kurang lebih pukul 09.42, setelah selesai melaksanakan shalat Dhuha di kamarku. Ku baca satu persatu surat rahasia yang dikumpul oleh adik-adik kamarku. Namun masih seperti kemarin, tidak satupun yang mengaku terkait pencurian uang tersebut. Dengan bingung dan perasaan cemas, tetap kulangkahkan kakiku kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.


Apa yang harus kukatakan malam nanti sebelum tidur kepada adik-adik kamarku jika tak satupun yang mengakui kesalahannya. Menurutku bukan hal yang lumrah bagiku untuk memaksa adik-adik ku mengaku dengan bersumpah. Aku terus berprasangka baik kepada Allah SWT, dan merayu penuh harap di dalam batin.


Sore itu, setelah melaksanakan shalat ashar berjamaah di Mushalla Putri. Seperti biasa, suasana riuh memenuhi hampir setiap sudut pondok pesantren. Masing-masing sibuk dengan jadwal kegiatan (olahraga dan Ekstrakurikuler) dan piket (petugas harian) sore. Tepat di halaman depan kamarku saat kulangkahkan kaki menuju ke teras asrama, tiba-tiba seseorang menyerahkan padaku secarik kertas yang terlipat. Iya, surat rahasia dari seorang adik kamarku.


Gadis pendiam dan pemalu yang ku kenal itu menyerahkan suratnya kepadaku sambil meminta maaf karena baru mengumpulkan. Ia pun berlalu dari hadapanku pamit melanjutkan aktifitasnya. Kuterima dan kubawa surat tersebut ke kamar untuk kemudian ku baca. Penuh syukur ku lantunkan hamdalah dan sujud syukur atas pertolongan Allah SWT setelah membaca surat tersebut.


Surat terakhir ini berisi pengakuan seseorang pelaku yang telah mengambil uang temannya. Dengan penjelasan terjepit dan penuh rasa bersalah, ia menjelaskan telah memakai sedikit uang yang diambilnya dan mengembalikan sisa uang tersebut. Meski terkejut dengan pengakuan dari adik kamarku ini yang kukenal jarang melanggar dan hampir tidak pernah berulah sebelumnya. Aku berusaha memaklumi kondisinya yang jauh dari orangtua serta beberapa faktor yang mendorongnya untuk mengambil yang bukan haknya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...