Langsung ke konten utama

Meditasi 3

 Tidak sedikit dan hampir semua saya kenal anak kakak kelas at-taksifi . Meski hanya kenal nama sih. Karena memang jumlah mereka lumayan sedikit. Bahkan diangkatanku saat saya di bangku kelas satu 1 TMI. Mereka hanya berjumlah kurang lebih 7 orang. Dan putri hanya berjumlah 3 tiga orang. Mereka yang kukenal adalah orang orang hebat.  Tidak jarang juga dari mereka yang suka humor namun tetap menjadi orang yang penuh giat dan usaha. 


Satu hal yang saya perhatikan juga dari mereka. Mereka yang ku kenal, rata-rata rajin shalat tahajjud. Sampai dengan ditahun ketiga ketika aku duduk di bangku kelas 3 TMI . Masuklah anak at-taksifi kelas 1 hingga akhirnya bertemu denganku di dalam satu organisasi. Mereka memang orang yang hebat ketika ada beberapa yang telah tergabung dengan kami untuk sama-sama diamanahi menjadi pengurus OPPM. Hampir setiap malam saya melihat mereka shalat malam.  Sedangkan saya hanya bermalas-malasan dan masih belum terbiasa untuk bangun setiap hari melaksanakan shalat atau qiyamul lail. 



Ya di pondokku segala hal yang wajib akan menjadi wajib. Sedangkan perihal Sunnah tetaplah Sunnah dan tidak diwajibkan. Meski saya mempunyai wali kelas yang hebat. Sejak kelas satu kami dibimbingnya untuk melaksanakan puasa Sunnah dan shalat tahajud. Ya wali kelas saya adalah seorang guru pria atau kami sebut dengan ustad. Beliau adalah salah satu ustad di bagian pengasuhan santri. Terkenal paling disiplin dan tegas. Namun, ketika menjadi wali kelas, beliau hadir dengan aura kebapakan dan penuh kasih sayang. Tidak jarang ketika beliau pulang ke rumahnya atau ke rumah orang tuanya. Kami sekelas dibawakan oleh-oleh kue yang kata beliau adalah buatan ibunya. Sampai kami diajak untuk buka puasa bersama juga. Dibangunkan saat sahur. Bahkan di beberapa malam kami pun dibangunkan untuk shalat tahajud. 


Dalam keheningan malam dan dinginnya hawa lembah pegunungan. Suara jangkrik berkerik bersahutan dan tikus hutan mencicit sayup terdengar dari jauh. Semilir angin berhembus mendayung dedaunan di pepohonan sekitar pondok. Pria dengan tinggi semampai dan badan sedikit berisi lengkap dengan perlengkapan layaknya seorang ustad yang siap ke Masjid. Kopiah hitam menutupi sebagian kepala, baju kokoh biru muda dan sarung batik hitam dengan motif sederhana memenuhi tubuh pria tersebut yang kami kenal adalah wali kelas kami. Langkah demi langkah penuh pengawasan memperhatikan setiap sudut pondok dengan senter ukuran sedang menembus jarak kurang lebih setengah hektar. Setelah bertegur sapa dengan beberapa santri putera yang sedang melaksanakan bulis malam. Beliau terus melanjutkan langkahnya menuju ke  arah asrama santri putri. Setelah melewati beberapa bangunan dan beberapa halaman atau lapangan olahraga takraw putra dan lapangan volly puteri.

Dengan mengucapkan salam sambil melangkahkan kaki ke teras asrama. Beliau kemudian mengetuk pintu kamar kami seraya memanggil nama kelas kami. Dengan beberapa ketukan yang tidak terlalu kuat namun cukup tegas dan berulang ulang. Hingga suara bariton tersebut membangunkan kami dari lelap dan nyenyaknya tidur seorang santri setelah menjalani segudang aktifitas harian. Beliau terus menggedornya berulang sampai akhirnya kami menjawab dengan satu kata na'am ustad dan beberapa suara gerakan bersiap mengambil perlengkapan ke kamar mandi.

 Ya, hingga akhirnya kami sekelas, meskipun masih mengantuk, kami tetap harus bangun untuk melaksanakan shalat tahajud bersama-sama dan dipimpin oleh beliau. Di pojok teras paling ujung gedung dekat asrama putri, tepatnya di depan kelas tiga. Setelah membersihkan dan menyapu teras. Kami kemudian larut dalam bacaan syahdu beliau dalam memimpin shalat tahajud dua rakaat kami yang ditutup dengan witir. Setelah melaksanakan shalat tahajud. Kami diberi wejangan lalu dipersilakan kembali ke asrama untuk melaksanakan sahur. Karena kami berjumlah sekitar 20 siswa dalam satu kelas, suasana itu terasa sangat berkesan. Meski saat itu kami harus berjuang menahan kantuk. Namun kini ketika mengenang kembali kegiatan itu. Aku masih merasakan betapa syahdunya udara dan cahaya bulan bersama lantunan ayat-ayat suci dalam keheningan sepertiga malam.


Jarang dan bahkan hampir tidak pernah secara pribadi saya melaksanakan qiyamullail sendiri. Dan memang sih sejak kelas satu atau pun murid baru. Kami tidak diizinkan untuk ke toilet pada malam hari dengan seorang diri. Kami harus membangunkan teman atau pengurus kamar tersebut untuk minta tolong ditemani ke toilet. Meski hanya dengan beberapa langkah dan upaya karena kamar mandi umum pesantren berada tepat di belakang asrama putri, namun kurang lebih 500 meter dipagari oleh hutan.


Setiap bangunan dalam pondok menjadi fasilitas umum bagi santri. Semisal kamar mandi, yang sudah dibagi fungsi umumnya sesuai kelas atau angkatan. Disitulah salah satu keistimewaan-nya. Setiap bangunan memiliki fungsi masing masing. Ruang asrama untuk tempat tinggal santri, tempat pakaian, juga aktifitas pribadi hingga tidur. Ruang makan yang memang dikhususkan saat kegiatan makan tiga kali sehari. Ruang toilet ya khusus juga untuk buang air dan kawan kawan. Tertata secara umum dengan mengenal kan fungsi secara khusus. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...