Langsung ke konten utama

Meditasi

Di pondokku ada beberapa cara untuk melanjutkan pendidikan sesuai jenjang dan seleksi. Kalau saya pribadi termasuk siswa atau santri reguler yang tamat atau telah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar kemudian melanjutkan pendidikan di bangku kelas 1 Tarbiyatul muallimin. Ada juga beberapa teman atau kakak kelas yang melanjutkan pendidikan di pondok pesantren setelah tamat atau menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama. Maka ia akan duduk di bangku kelas 1 kelas at-taksifi atau kelas intensif.


Kelas intensif adalah tahapan kelas bagi santri yang berkewajiban menempuh pendidikan kurang lebih selama empat tahun dalam Tarbiyatul muallimin al-Islamiyah (TMI). Sedangkan kelas reguler adalah tahapan kelas bagi santri yang berkewajiban untuk menempuh pendidikan kurang lebih selama enam tahun lamanya. Hal ini yang kemudian menjadikan salah satu alasan kelas percepatan. Dimana dalam jangka enam bulan atau satu semester, mereka anak kelas intensive dipacu untuk mempelajari dan menghafal setiap pelajaran atau kurikulum dalam satu tahun bagi kelas reguler.


Misalnya pada enam bulan pertama atau semester pertama, mereka dipacu untuk menyelesaikan pelajaran kelas satu reguler. Selanjutnya pada enam bulan kedua atau semester kedua, mereka kemudian dipacu lagi untuk menyelesaikan pejaratan atau kurikulum kelas 2 reguler. Kurang lebih selama empat semester mereka harus dipacu dan melakukan penyesuaian. Sehingga setelah selesai kelas 1 intensive mereka langsung naik ke kelas 3 intensive. Setelah menyelesaikan 2 kurikulum atau pelajaran dua tahun punya di kelas tiga intensive, selanjutnya mereka akan naik ke kelas 5 TMI dan bergabung dalam kelas reguler.


Seperti itulah kurang lebih gambaran kelas intensive. Namun jika seseorang yang belum menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama atau semisal selesai dari kelas 1 SMP dan ingin melanjutkan kan pendidikan di pondok. Makan ia harus menyesuaikan dan mengulang kembali kurang lebih setahun dari kelas 1 reguler setara 1 SMP. Karena pelajaran atau kurikulum pondok yang berbeda dan mesti dipelajari agar mudah melanjutkan ke tahap berikutnya. Karena pada umumnya materi atau kurikulum pondok berbahasa Arab dan Inggris. Meski untuk satu tahun pertama dalam kelas reguler akan mempelajari setiap pelajaran dalam bahasa ibu atau bahasa Indonesia. Namun setelah selesai dari menyelesaikan pelajaran kelas satu reguler, maka akan bertemu dengan setiap pelajaran yang berbahasa Arab dan Inggris.


Anak kelas intensive yang saya kenal adalah para santri yang tergolong serius, dan penuh ijtihad (sungguh-sungguh). Selain karakter pribadi, bisa jadi hal ini karena umur atau usia mereka yang pastinya beda jauh atau kurang lebih kakak tiga tahun dari ku sebagai kelas reguler. Tapi menurutku adalah bisa jadi karena beban atau kurikulum target yang harus mereka selesaikan. Pastinya seperti itulah santri kelas intensive yang saya kenal, dan secara umum, mereka adalah anakanak yang baik.


Dulu pas masuk bersama dalam tahun ajaran baru, kami saling berkenalan dan bersebelahan kamar dengan kakak intensive. Namun status kami sama sebagai santri baru, sehingga kami pun menyesuaikan atau berdaptasi bersama-sama. Mereka sangat dewasa bagiku , terlihat bahkan seperti ustadzah sebelum waktunya. Heheheh. Hingga akhirnya mereka lebih dulu menjadi pengurus ketika naik ke kelas 5 Tmi.


Di pondok kami, telah nyata penanaman pendidikan karakter kepemimpinan. Dimana di usia khususnya kurang lebih 17 tahun atau kelas V TMI diberi amanah kepercayaan dan tanggung jawab untuk menjadi seorang pemimpin. Dalam hal ini menjadi pengurus Anggota (adik kelas), juga mengurus segala hal kegiatan pondok terkait pembinaan santri dalam hal ini diri sendiri sebagai teladan bagi adik kelas.


Adapun segala hal yang sudah diatur dalam anggaran dasar organisasi pelajar pondok modern yang disingkat OPPM, menjadi tanggung jawab penuh bagi santri tersebut. Seperti halnya bertanggung jawab khusus dalam kegiatan shalat jamaah dan kegiatan pidato yang dikoordinir oleh bagian pengajaran. Kemudian segala hal terkait disiplin dan keamanan santri juga pondok yang dikoordinir oleh bagian kemanan. Selanjutnya terkait kebersihan lingkungan dan jadwal piket atau petugas harian yang dikoordinir oleh bagian kebersihan atau bagian Berlin. Hingga bagian kesehatan, olahraga juga perpus atau ada yang belum disebutkan, semua dikoordinir oleh santri yang diberi amanah. Bahkan sebagai Ketua OPPM tersebut, bertugas untuk mengkoordinir setiap bagian yang diamanahi juga bertanggung jawab penuh pada organisasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...