Langsung ke konten utama

Emang Bisa

Malam Rabu atau Selasa malam adalah jadwal kegiatan muhadhoroh di Pondokku. Ketika mendapatkan giliran untuk tampil malam ini saya merasakan dag-dig-dug-deg dalam hati meski sudah berlatih beberapa hari. Setelah berlatih dan tajadud ke pada kakak pembina, ada rasa lega di hati. Namun tetap ketika mau tampil itu gimana yaaa rasanya. 


Muhadhoroh adalah salah satu kegiatan extrakurikuler di pondok pesantren yakni kegiatan latihan berpidato atau ceramah yang dikenal dengan public speaking. Adapun kegiatan muhadhoroh di pondokku dilaksanakan dalam tiga bahasa yakni bahasa inggris pada Selasa malam, Bahasa Arab pada Kamis siang, kemudian bahasa Indonesia pada Kamis malam. 


Muhadhoroh juga sebagai salah satu sarana santri dalam berlatih bahasa. Khususnya saya sebagai pemula atau sering disebut Al-Judad alias santri baru. Meski baru mulai kegiatan, aku dan beberapa teman sudah di wajibkan untuk tampil apa dan bagaimana pun itu sesuai dengan jadwal the Speaker (Penceramah) hari tersebut. Meski hanya menyampaikan beberapa kalimat pembuka dan perkenalan diri.


Pada beberapa Pekan berikutnya, kami sebagai santri baru juga masih mengisi pidato muhadhoroh dengan beberapa penyesuaian. Semisal ketika seorang anak bayi yang belajar berbicara, seringnya akan bertanya tentang satu bahasa atau nama apa saja yang di sekitarnya dengan diawali kata 'apa'. Kata ini kemudian menjadi kunci atau modal yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab atau inggris. Dengan mulai menyebutkan dan menghafal benda yang ada di sekitar jadi sebuah dialog hingga mengurai pembahasan tersebut. Semisal maa haadza? Kemudian jamaah atau hadirin dalam ruangan muhadhoroh tersebut akan mengikuti atau menjawab sesuai instruksi layaknya aktivitas belajar bahasa Arab dalam ruang kelas. Namun hal ini hanya untuk awal pertemuan guna melatih mental awal berbicara di depan hadirin muhadhoroh tersebut. 


Namun beberapa bulan kemudian hal ini tidak akan dibenarkan lagi karena sudah cukup untuk melewati masa sebagai santri baru. Selanjutnya saya dan teman seangkatan mulai belajar menyampaikan pidato dalam tiga bahasa tersebut dengan judul yang sederhana dan isi yang bisa dipahami bahkan bisa dihafal. Semisal judul atau tema menuntut ilmu. Mengapa dan apa keutamaan menuntut ilmu. Isi dan rangkaian pidato atau ceramah pun sudah banyak dan bisa dicontoh dari buku-buku referensi atau juga dari kakak kelas yang sudah berpengalaman sebelumnya. Hingga akhirnya setelah berjalan beberapa bulan, hal ini akan menjadi kebiasaan dan perlahan terlatih menghilangkan demam panggung. 


Secara pribadi saya pun termasuk orang yang sangat demam panggung, namun ketika melihat dan memperhatikan juga mendengarkan arahan serta motivasi khususnya salah satu slogan 'you can if you think you can' yang dapat diartikan jika kita yakin dan berpikir bahwa kita bisa maka kita pasti bisa.


Nah jika dipikir-pikir juga, mengapa teman teman yang lain bisa, maka saya pun harus bisa. Meski malu adalah sebagian dari iman, namun takut harusnya hanya ke pada Allah swt. Perihal malu seharusnya adalah malu jika kita tidak mau belajar untuk lebih baik. Malu jika tidak berkembang seperti berusaha untuk tampil sebagai mubaligah yang baik. Juga malu mengapa kita tidak bisa lebih baik. Sedangkan takut, takut salah, takut ditertawakan, juga takut melihat teman-teman yang hadir, adalah hal yang tentu tidak dibenarkan. Karena sesungguhnya yang pantas untuk ditakuti hanyalah pemilik semesta Allah Azza Wajalla. Takut adzab-Nya jika kita melakukan dosa. Takut melanggar syari'at-Nya. Dan takut menjadi orang orang yang menyesal dan merugi di hari akhir.


Hal ini kemudian mendorong saya untuk bisa dan berusaha tampil sebagaimana baiknya. Mempersiapkan diri dan tidak melanggar sehingga bisa tampil maksimal saat bertugas jadi the speaker atau penceramah di hari yang telah ditetapkan. 


Saya juga pernah membaca dalam satu buku, di perpustakaan pondok bahwa segala hal baik yang kita pikirkan akan mendekati kita. Maka ketika memikirkan hal yang baik, maka hal yang baik pula datang menghampiri kita. Namun ketika sebaliknya, maka nauzubillahimindzalik. Tepat dengan kata slogan tadi jika kita berpikir kita mampu, maka kita akan selalu berusaha untuk lebih baik. Insyaa Allah hal baik pula yang akan terjadi. Jika kita menulis khutbah atau pidato dengan baik kemudian mempersiapkan nya dengan maksimal niscaya tidak ada yang mengkhianati upaya kita.


Meski kadang atau jika tiba-tiba gugup, saat ustad atau guru datang mengawasi kegiatan berlangsung. Pastinya hanyalah bisikan atau gangguan syaitan yang menggoda agar harus tampil sempurna dan menakut-nakuti dengan pikiran jelek yakni akan ditertawakan atau tidak disukai kalau sampai salah. Padahal setiap kita akan selalu belajar dari kesalahan. Sedangkan kesempurnaan seringnya menggoda ujub dalam diri. 


Setelah beberapa tahun menjalani kegiatan di pondok. Barulah saya menyadari bahwa ternyata setiap yang hadir di dalam kegiatan muhadhoroh, pasti pernah mengalami hal atau proses belajar yang saya rasakan. Tidak heran mengapa seluruh  pengurus maupun kakak kelas sudah memaklumi dan selalu memberikan support. Karena aku dan seluruh santri juga butuh tahapan dalam proses belajar. Siapa yang berusaha akan mendapatkan hasil usahanya. Bahkan, saya punya teman yang menjadi juara pidato bahasa arab hingga ke tingkat nasional, memiliki pengalaman sering menangis karena demam panggung dan merasa sulit untuk tampil di masa sebagai santri pemula.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...