Langsung ke konten utama

Panggung Gembira

 Guru baru itu penuh tanda tanya juga. Begitu semangat dengan segala cara memotivasi kami sebagai santrinya untuk mampu melakukan hal yang pernah ia lakukan saat di pondok . Dan ia meyakini hal tersebut dengan seyakin-yakinnya. guru atau yang disebut ustad tersebut adalah guru seni yang datang mengabdi dari pondok Gontor pusat. Ia bersama dua orang temannya datang dari pulang Jawa kemudian mengabdikan diri di pondok kami dalam kurun waktu satu sampai dua tahun. 


Mendekati hari H kami pun makin sibuk dengan siap siap dalam penampilan masing masing. Tepatnya di belakang bangunan perpustakaan depan masjid di atas pondasi yang sedikit menanjak dari lapangan olahraga kayang kami pakai tepat di halaman depan masjid pondok. Kumpulan kertas pembungkus semen ent dari sisa sisa pembangunan dikumpulkan dan ditempelkan menjadi background arena utama. Kertas semen yang di padukan dari banyak kemudian disatukan dengan beberapa gulungan berantakan sehingga menggumpal seperti bentuk rak telur 


Background yang masih natural dan berwarna cokelat tersebut kemudian diberi warna dengan cat semprot hingga berubah menjadi background langit dan awan yang lumayan indah di padu dengan lampu warna warni yang menghiasi sekitar atau pinggiran background tersebut kurang lebih berbentuk persegi panjang layaknya layar tancap yang siap disenter sesuatu.


Selanjutnya pengaturan sound system yang seadanya di atur oleh para santri putra . Juga beberapa karpet yang siapkan menjadi pijakan lantai panggung tersebut. Fantastic. Ini adalah kali pertama kami membuat panggung tepat di luar ruangan atau outdoor. Seringnya dengan segala keterbatasan. Agenda kami masih di penuhi di dalam ruangan atau agenda inside.


Saya sebagai santri kelas tugas bersama teman teman dimotivasi untuk membuat suatu gebrakan tersebut dan menjadi perdana atau pelopor dalam membuat kegiatan perdana.menampilkan menjadi panitia dalam agenda panggung gembira yang menampilkan pagelaran seni dalam satu malam di pondok pesantren.


Hal ini bukanlah sesuatu yang dilarang . Namun hal tersebut merupakan sarana kreativitas santri yang didukung dan diarahkan. Suatu usaha dalam mengatur kekompakan dan berkerjasama dengan peran masing masing untuk menampilkan tontonan yang baik. Dan bertujuan agar santri tidak hanya menjadi penonton dan suka menonton. Namun santri diharapkan bisa menjadi dan memberi tontonan yang baik sesuai syariat Islam.


Dari agenda pagelaran seni ini pula kami sebagai santri diajarkan bahwa sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai Keindahan.  Dengan alat dan perlengkapan seadanya kami sebagai panitia mengupayakan terlaksananya panggung penuh kreasi yang indah dengan alat seadanya. Kelap-kelip paduan warna menghiasi salah satu sudut pondok tepat di malam hari dan harus dibersihkan pula ketika penampilan telah selesai dan harus bersih seperti tidak terjadi apap apa malam tersebut. 


Dengan penuh sorak dan riuh suasana penonton  menikmati tampilan persembahan dari santri dan juga untuk atau ditonton oleh santri. Diantaranya drama musikalisasi, puisi, nasyid hingga hadri o (kelompok rebana). Kegiatan pergelaran seni tersebut menjadi agenda perdana yang kami laksanakan dengar agai santri kelas tugas di tahun 2003. Dan dibimbing oleh ustad tersebut juga beberapa ustad lainnya.


Alhamdulillah acara yang sudah kami persiapkan kurang lebih tiga puluh hari tersebut hanya untuk satu malam berhasil kami lewati dengan effort yang lumayan menyita perhatian dan hari hari kami. Namun tidak sedikit pula pelajaran yang dapat kami peroleh dari selesai melaksanakan atau menjadi panitia dalam agenda perdana tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...