Langsung ke konten utama

Ramadan Pondok

Ramadan selalu menjadi bulan spesial bagi orang orang yang merindukan nya. Begitu pula layaknya hal yang saya rindukan, momen saat Ramadan di pondok tercinta. Sebelum masuk pondok menjadi seorang santri, secara pribadi saya tidak atau belum pernah mendapatkan tatacara shalat tarawih seperti di pondok. Bukan tentang rakaat atau perbedaan rukun shalat. Namun lebih tepatnya saat shalawat sebelum atau pengantar melaksanakan shalat tarawih. Karena pada umumnya setiap masjid yang saya datangi untuk shalat tarawih di provinsi tempatku di lahirkan selalu membacakan shalawat atau wirid sebelum shalat tarawih dengan ritme yang cepat bahkan kurang jelas bagi telingaku yang awam. Suasana yang agak berbeda di pondok adalah shalawat yang menjadi wirid tersebut atau sebagai pengantar shalat tarawih dibacakan dengan Tartil oleh salah satu santri dengan sangat merdu bak seorang Qori dalam pembukaan kegiatan MTQ. Suasana hening Seluruh jamaah masjid yang  mendengarkan, menambah syahdu kemudian merambat  ke ubun ubun hingga menembus dada dan sulit untuk dilupakan bagi saya selaku santri yang merasakan enam kali Ramadan di pondok. Meski Ramadan hanya untuk beberapa hari di pondok.


Sejak tahun pertama sampai dengan tahun kelima, saya dan teman santri lainnya hanya diwajibkan sekitar satu pekan untuk mengisi Ramadan di pondok. Diawali dengan nasihat langsung yang disampaikan oleh Pimpinan Pondok dalam menyambut ramadan tepat pada 1 ramadan setelah shalat maghrib. Salah satu yang paling saya ingat adalah bagaimana seharusnya berniat sejak malam hari untuk puasa wajib yang kemudian dilanjutkan dengan segala hal terkait keutamaan Ramadan. 

Saat bulan ramadhan, kegiatan dialihkan dan difokuskan sepenuhnya untuk program ramadan. Selain ibadah harian dan tilawah Al-Qur'an, setiap santri kelas 1 sampai dengan kelas 3 baik putera maupun puteri diwajibkan tampil menyampaikan ceramah Ramadan di Masjid setiap selesai melaksanakan Shalat Fardhu sesuai jadwal yang ditetapkan oleh pengurus OPPM bagian Pengajaran. Saya pun adalah termasuk orang yang nervous alias demam panggung. Namun selalu menguatkan diri bahwa saya harus mampu sebagaimana santri lainnya juga mampu untuk melaksanakan kewajiban ini.

***

Riuh santri memenuhi masjid setelah makan malam dengan pakaian seragam putih hitam, tidak lupa alat tulis dan satu buku wajib berjudul ettiquet. Masjid berubah fungsi menjadi aula pertemuan dengan satu stel kursi dan meja utama tepat di bagian tengah dan paling depan guna fokus menjadi perhatian setiap penghuni pondok untuk agenda malam tersebut. Malam pembacaan etiket, yakni penyampaian arahan dan nasihat pak Kiyai jelang perpulangan santri pada hari libur ramadan.

Saya terpaku menikmati suasana malam ini tepat ramadanku ke enam kali nya di pondok tercinta. Dengan penuh syukur dan rasa yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya, rasanya waktu terlalu cepat berlalu. Ada haru dalam dada yang ingin meledak setiap membayangkan hari perpisahan itu tiba. Ku tahan dan ku tepis bayang tersebut dengan prinsip untuk menikmati setiap detik yang tidak ingin kulewatkan dalam masa sebagai kelas akhir di pondok.

Setelah masa libur santri tiba, suasana pondok menjadi sangat istimewa. Masa dimana saya dan teman teman seangkatan santri kelas akhir diamanahi untuk mukim sejak seluruh santri santri bersiap menikmati liburan ramadhan sampai dengan selesai. Kami yang berjumlah kurang lebih delapan belas orang saat itu menjadi santri khusus yang mengisi ruang ruang pondok sebagai santri Muali dari kegiatan bangun tidur sampai dengan tidur lagi.


Di samping menjadi penjaga yang dikatakan menjadi penjaga pondok. Kami juga bersiap untuk menghadapi ujian kelas akhir sehingga kami tetap menikmati masa masa akhir kami di pondok tercinta. Sepi juga hanya dengan beberapa fisik kami , putri yang kurang lebih sebelas orang dan putera yang berjumlah tujuh oranng


Yang butuh effort luar biasa. Itu adalah sat saya saat sahur dan berbuka puasa karena jarak asrama dan ruang makan juga dapur umum yang harus ditempuh dengan kurang lebih tujuh sampai sebelsembilan menit untuk sampai ke dapur umum dari asrama putri. Kami pun akhirnya bertugas dan menetapkan jadwal untuk masing masing secara bergantian mengambil makanan di dapur dan makan bersama di ruangan.


Makan bersama inikah juga momen yang paling dirindukan. Saat saya kisantri nikmati makanan sambil bercanda, juga keberkahan nya itu lebih kenanya kenyang dan selalu cukup. Yang pasti ketika makan bersama atau yang dikenal dengan tajammu, rasanya nikmat sangat. Saya yang sebelum masuk pondok tidak duka makan sayur terong akhirnya jadi doyan setalah mencobanya. Rasanya bukan hanya tentang rasa tapi keberkahan yang banyak.


Sesekali saya pernah mencoba makan pepaya muda yang masih berwarna putih daging nya, saat sedang berada di rumah keluarga. Meski saya mencampurnya dengan gula yang banyak tetap serasa pahit dan tidak enak. Beda sangat ketika saya dan teman teman sering mengambil pepaya mu da yang menurutku sama  saja  warnkarena warna nya juga putih daginyaing ya. Namun sangat nikmat dan mengenyangkan ketika kami makan pepaya dter sebut saat di pondok. Bahkan air mentah yang biasa kami pakai untuk mencuci , mandi dan kebutuhan lainnya juga belum dimasak tersayang nikmat untuk diminum dengan membaca Fatihah. Alhamdulillah Qadar ullah tidak membuat sakit perut dana cacingan.nalham rasanya lebih sehat bahkan.


Aneh jika diingat ingat dan dipikir pikir tapi hal ini nyata sesuai keyakinan masing masing. Air mentah yang aeringbk kami minum tersebut kami sebut dengan ma'un Fatihah. Atau air yang sebelum meminumnya kami bacakan surat alfatihah. Meski sebenarnya kami melakukan hal tersebut seakan bercanda namun kami sebagai santri tetap haqqul yakin bahwa air ini adalah ciptaan Allah Swt, dan hanya ke pada Allah pulankami memohon kebaikan dari air tersebut.


Setiap hal aneh yang sering menjadi hal yang dikhawatirkan akan membuat sakit perut tidak terjadi di pondok pesantren. Keberkahan ini menjadi suatu yang unik dan kupkami percaya hanya karena keberkahan yangbada di dalam pondok pesantren. Kami yakin pondok pesantren diisi dengan para penuntut ilmu yang berjuang di jalan Allah. Kami pun yakin dan percaya bahwa malaikat malaikat Allah juga berkumpul di sekitar dan menangi pondok. Maka sehpir setiap ucapan dan pikiran kita bisa Maqbul diamini oleh malaikat sekitar. Maka tak heran setiap hajat kami, langsung minta saja kepada Allah dalam doa , biidznillah mustajab dengan cara-caraNya pula.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...