Langsung ke konten utama

Ramuan Asrama 2

Kurang lebih enam tahun mengenyam pendidikan di pondok pesantren modern Al-Istiqomah sampai dengan akhirnya ki ditakdirkan untuk menjadi pembina asrama di Madrasah Aliyah Negeri yang memiliki boarding school. Iyah itu aku yang mereka sebut sebagai ustadzah asrama. Tempat mengadu jika ada yang sakit, juga tempat menyetorkan hafalan Al-Qur'an anak asrama putri. Juga tempat minta izin pertama jika ada keperluan atau ingin keluar asrama. Dengan tahapan seleksi latar belakang pendidikan yang layak untuk ditempatkan di salah satu sekolah favorit atau sekolah kebanggaan dari kementrian agama yang diinisiasi dan bekerjasama dengan tokoh inspiratif bangsa yang dikenal jenius Almarhum Bapak Haji Baharuddin Jusuf Habibie. Sekolah ini kemudian lahir dan disebar di hampir setiap provinsi yang ada di Indonesia. 


Alhamdulillah meski dengan ilmu yang minim juga pengalaman yang seadanya, rezeki saya dipilih dan ditakdirkan untuk ikut berkontribusi sebagai pembina asrama di sekolah ini. Kurang lebih 24 jam, aku dan rekan sejawat harus bertemu dan mendampingi anak-anak. Meski sebenarnya jam kerjanya tidak harus 24 jam. Namun apa yg terjadi di asrama selama 24 jam adalah bagian dari tanggung jawab kami selaku pembina asrama. Aku dan beberapa teman rekan kerja saling membantu gotong royong dengan membagi tanggung jawab per-angkatan atau sesuai pembagian kelas. Namun tetap bertanggung jawab secara keseluruhan untuk anak anak asrama seluruh nya. 



Sebab termasuk dipilih dan ditugaskan kan pertama sehingga mengkoordinir angkatan pertama dari anak siswi MAN Insan Cendekia Kopa. Alhamdulillah mereka termasuk anak-anak santun nan cerdas sehingga bisa jadi lebih mudah dalam memberikan pengarahan namun pasti tetap ada kekurangan entah dari kami selaku pembina atau celah yang kurang kami pahami dari anak-anak asrama yang datang dan lahir dari latar belakang yang beragam.


Anak-anak seperti sudah paham ketika ada anak atau temannya yang kurang sehat pasti ustadzah akan mencari air hangat dan gula untuk diminum dan minyak angin untuk dioles atau dibalur di beberapa bagian tubuh anak yang sakit. Dan berkahnya dengan penuh keyakinan dan tetap memohon do'a sebelum minum, dengan izin Allah SWT air itu bereaksi atau berpengaruh terhadap orang yang sakit. Pastinya juga tidak lepas dari penanganan  pihak atau petugas kesehatan sekolah tersebut. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang Maha Penyembuh, namun kita sebagai hamba harus tetap berikhtiar. Dalam Al-Qur'an telah disebutkan beberapa hal yang bisa dijadikan penyembuh atau obat, dan juga cara bagaimana untuk ikhtiar sembuh yakni serahkan atau tanya kepada orang yang tahu (ahlinya).


Adapun setiap penyakit atau hal yang membuat hamba Allah sakit tidak lain adalah sebagai penggugur dosa. Bisa jadi juga hal tersebut adalah bagian dari jawaban bagi hamba-Nya untuk istirahat ketika mengeluh dan merasakan capek setelah padatnya aktivitas. Dengan sakit kita bisa istirahat sejenak dan menjadi tahu arti kesehatan sehingga harusnya kita bisa menjadi Hamba yang bersyukur dan tergolong dalam orang-orang yang beruntung. Dengan sakit pula kita tahu mana yang kemudian harus diperhatikan dan menjadi skala prioritas seseorang, jangan sampai tidak ada waktu istirahat sedikitpun, sehingga bisa belajar dan mampu untuk mengatur menjadi efisien. Mampu membedakan mana hal yang harus dikerjakan dan kapan waktu istirahat. Jangan sampai begadang keterusan dan tidak bermanfaat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...