Langsung ke konten utama

Ramuan Asrama

 Anak gadis berjilbab itu tiba tiba sakit dada dan sesak. Teman-teman kamar nya panik dan segera memanggil atau mencari ustadzah. Iya mereka sebut dengan ustadzah,  yakni orang yang menjadi orangtua mereka saat di asrama, meski belum nikah namun usianya lumayan jauh seperti kakak bahkan ibu bagi anak asrama. Dengan berlari tegopoh teman gadis tersebut menelusuri lorong asrama sampai tiba di sudut ruangan bawah tangga, kamar pengasuh asrama yang mereka maksud.  


Dua orang teman sebaya gadis usia 17 tahun yang baru saja diminta untuk mengantarkan gadis tersebut keluar dari ruang kelas untuk beristirahat di kamar asrama sebab mengeluh sakit dibagian dadanya. Selanjutnya dua teman lainnya bergegas untuk memanggil dokter atau perawat bagian kesehatan di lingkungan sekolah tersebut. Sebelum datang ke kamar, petugas kesehatan yang tempat tinggal nya agak sedikit memakan waktu jika ditempuh oleh jalan kaki sehingga kurang lebih 15 menit para santri menunggu petugas bagian kesehatan.

 

Alhamdulillah ustadzah asrama ada di tempat dan dengan sigap tanpa panik. Ustadzah tersebut meminta agar teman-teman Gadis tersebut tidak mengerumuninya yang sedang sesak. Agar oksigen yang diasup dapat maksimal mengurangi rasa sesak atau untuk mengatasi rasa sesak yang dirasakan gadis tersebut. Satu teman juga diminta untuk membantu gadis tersebut untuk melonggarkan pakaiannya yang bisa jadi berpengaruh sehingga gadis tersebut dapat bernapas atau menghirup udara dengan leluasa. Teman-teman yang tadinya memenuhi ruangan kamar diminta untuk balik ke kelas atau keluar dari kamar tempat gadis tersebut tidur. 


Selanjutnya Ustadzah asrama mengambil air hangat dan gula yang kemudian diaduk menjadi ramuan air gula sebagai penolong atau pertolongan pertama sambil menggosokkan beberapa aroma terapi seperti minyak kayu putih di bagian perutnya. Sampai dengan pihak petugas kesehatan pun datang dan melakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan tersebut, pihak petugas kesehatan menyatakan bahwa gadis tersebut mengalami atau sedang gangguan di bagian lambung atau magh karena setelah dikonfirmasi ternyata gadis tersebut memang tidak sarapan pagi. Ia malas untuk sarapan karena melihat lauk yang tidak sesuai dengan selera makannya. Beberapa jam setelah diberikan obat oleh petugas kesehatan, gadis tersebut hanya butuh waktu untuk istirahat dan kemudian dapat beraktifitas kembali setelah makan beberapa kali. 


Beberapa hari kemudian, kejadian di asrama tersebut berulang dengan orang yang berbeda. Seorang gadis yang bersebrangan kamar tepat di samping Kamar ustadzah asrama, mengalami Demam dan muntah, seperti biasa, ustadzah asrama tersebut mengambil air hangat dan kemudian mencampurkannya dengan gula hingga jadilah air gula hangat. Selanjutnya gadis yang sakit tersebut diminta untuk meminum air gula tersebut sampai sedikit reda atau membaik dari muntahnya dan bisa atau mampu untuk makan meski dalam keadaan terpaksa.


Seperti biasa pihak petugas kesehatan pun memberikan obat anti muntah dan obat Magh setelah dilakukan pemeriksaan tekanan darah dan suhu tubuh. Seperti itulah kurang lebih pertolongan pertama yang diberikan oleh ustadzah asrama selaku orang tua yang membimbing anak-anak di asrama baik dalam program kegiatan dan kesehariannya. Apalagi jika ada anak yang sakit. Maklum sebagai anak asrama sudah menjadi pilihan untuk tinggal jauh dari orang tua dengan satu alasan dan tujuan yakni sarana atau jalan yang harus ditempuh dalam menggapai cita-cita.


Seperti itulah sedikit hal yang bikin tegang menurut anak-anak asrama ketika ada teman yang sakit, meski sebenarnya kadang merasa malas juga jika ada teman yang sakit apalagi sampai keseringan sakit atau bahkan sakit pura-pura. Teman kamar sering diminta untuk menolong temannya yang sedang sakit dalam mengambil makanannya, belum lagi perihal untuk mencuci piring orang sakit. Iya sih, menolong ibadah dan pahala. Tapi bisikan setan kan selalu mengganggu apalagi pas memang teman kamarnya lagi ngantuk dan lebih memilih tidur dari pada harus makan di ruang makan atau kantin asrama. Meski jarak kantin asrama cuman beberapa langkah tepat di belakang asrama namun begitulah dukanya kalau ada teman sekamar yang sedang sakit.


Tapi tidak semua teman asrama seperti itu. Ada pula yang baik hati nan shalihah yang bisa jadi juga bukan teman sekamar. Tapi ia adalah teman kelasnya. Namun karena untuk efisiensi, maka ustadzah asrama menyusun jadwal piket yang ditugaskan untuk mengambil dan mengurus makanan orang orang sakit. Karena biar semua merasakan dan gantian. Kan tidak selamanya kita sehat terus. Bisa jadi besok kita yang sakit dan harus diambilkan dan diuruskan makanannya.


Sebenarnya sekolah asrama yang saya tulis ini adalah sekolah asrama yang tergolong elite, disebut sebagai boarding school. Yakni madrasah Aliyah negeri yang berasrama seperti harus mondok. Fasilitas lengkap dan mewah. Namun meskipun sekolah negeri, yang memang semuanya tidak dipungut biaya kecuali seragam. Para wali murid atau orangtua santri diwajibkan untuk membayar uang makan dalam asrama. Iuran yang harus dibayar tersebut diurus oleh pihak komite sekolah yang berasal dari pihak para orangtua/wali siswa sekolah tersebut. Karena makanan nya harus terjamin dan memenuhi standar gizi. Maka pembayaran nya juga lumayan jutaan untuk setiap bulannya. Makanya kemudian sekolah ini terpandang sebagai sekolah elite nan berprestasi. 


Sekolah asrama ini memiliki program kegiatan ekskul yang beragam dalam program asrama. Diantaranya pembacaan kitab, barzanji, latihan pidato juga hafal Al-Qur'an. Maka jadinya kurang lebih seperti pondok pesantren. Meski sama dari Kementrian Agama, namun tetap berbeda dengan sistem harian pondok pesantren.


Kalau dulu saat saya santri di pondok ku tercinta selama enam tahun.  Pastinya cukup berbeda. Tidak ada dokter atau petugas kesehatan yang memiliki latar belakang pendidikan mumpuni seperti di boarding school ini. Namun kami tetap diurus oleh bagian kesehatan atau pengurus kesehatan dari kakak senior yang telah diberi amanah dan tanggung jawab sebagai pengurus Organisasi pelajar pondok Modern (OPPM). Tidak kalah hebat juga dengan dokter atau perawat kesehatan yang profesional. Bagian kesehatan di pondok kami mengkoordinir setiap orang sakit setiap hari bahkan hampir sepanjang hari ketika ada yang sakit. Dan terjamin makanan orang sakit karena sudah diatur dan tidak perlu ada yang mengeluh dan baku harap. Sudah ditetapkan jadwal tugas piket bagian orang sakit.


Yang paling hebat lagi di pondokku, tidak ada yang  berani sakit-sakitan karena pengurus kesehatan akan mengkonfirmasi jika memang kami sebagai santri benar benar sakit. Adapun yg terindikasi kurang enak badan disebabkan berbagai macam alasan untuk sakit. Bagian kesehatan punya cara sendiri untuk melakukan konseling dengan pendekatan persuasif namun tidak untuk menuruti dan memanjakan anak yang pura-pura sakit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...