Ya Allah, saya belum siap jika kehilangan mama. Batinku merontak dan tidak bermaksud untuk melawan takdir. Karena saat itu belum ada pernyataan bahwa ibuku telah bersiap pergi dari alam hidup ini. Namun kondisi sangat genting, ibuku tidak sadarkan diri setelah muntah beberapa kali saat sedang dirawat di rumah sakit. Setelah melihat ibuku yang kurang lebih satu jam tertidur istirahat. Saya pun membiarkannya untuk tetap istirahat. Namun semakin kesini setelah dua jam berlalu seperti tidak ada gerakan tambahan dan terlihat lain. Saya segera memanggil suster setempat atau ruangan tersebut untuk melihat kondisi ibuku.
Saat itu para perawat segera memeriksa keadaan ibuku, dan segera mencari apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku saat itu. Saya yang sedang haid saat itu tak peduli apa kah harus bersuci atau tidak, yang pasti dengan berniat dzikrullah saya membacakan sedikit hafalan Al-Qur'an yang bisa ku baca atau ku hafal. Sedangkan adik-adikku ku minta untuk teruse mengaji atau membacakan Al-Qur'an untuk mama. Menurutku, jika ini adalah bagian dari sakaratul maut. Kami sebagai anak yang disekolahkan di pondok pesantren dan berstatus santri sudah berupaya menemani mama dengan dzikrullah melalui bacaan dan hafalan Al-Qur'an kami. Saat itu yang saya baca adalah surah pilihan atau surah kesukaan dan andalan ku diantaranya surah yasin, ar-rahman, al-waqiah serta al-mulk.
Setelah satu jam berlalu, kakak sepupu saya yang bekerja dirumah sakit tersebut dan kami kenal sebagai salah satu bidan atau perawat senior di rumah sakit tersebut, mengunjungi dan memperhatikan kondisi ibuku. Setelah kurang lebih lima jam tidak sadarkan diri dan kakak sepupuku tersebut memeriksa denyut nadi dan syaraf di titik yang ia ketahui. Menurutnya ibuku masih kuat dan mampu untuk bertahan serta belum ada tanda tanda lemah untuk menyerah. Selanjutnya kakak ku tersebut bekerjasama dengan perawat ruangan hingga akhirnya diketahui bahwa HB ibuku tersisa tiga dari dua belas yang seharusnya normal.
Selanjutnya saya diminta untuk segera ke ruang transfusi atau bank darah untuk perihal meminta darah untuk pasien atas nama ibuku. Saya pun berlari dan bersujud syukur di dalam lift saat menunggu pemberhentian lift dari lantai 3 hingga lantai dasar. Dalam sujud kupanjatkan syukur yang tak terhingga atas kabar baik penuh mukjizat ini, serta tak lupa memohon kesembuhan untuk ibuku dengan penuh harap. Allah Maha mengabulkan do'a orang-orang yang memohon. Dan saya yakin kami di kelilingi malaikat malaikat Allah swt.
Bagiku Rumah sakit adalah tempat meminta yang paling khusyuk selain masjid. Bahkan setiap orang akan lebih khusyuk dalam memohon dan lebih sungguh sungguh dalam berdoa. Lebih tulus dan penuh harap. Bahkan rumah sakit seakan mengalahkan bagaimana khusyunya seorang hamba yang memohon di dalam masjid. Alhamdulillah di rumah sakit juga ada masjid tempat sarana memohon. Orang tidak akan sewot mengapa banyak yang memohon penuh khusyuk karena masing-masing sibuk dengan hajat dan permintaan nya. Selalu ada yang khusyuk dalam ibadah jika perihal seseorang di rumah sakit.
Dengan kondisi tegang dan penuh harap , saya berlari sekencang mungkin agar segera sampai di tempat transfusi darah atau bank darah. Setelah melaporkan nama adik sepupu saya yang siap untuk mendonorkan darah, hati ini semakin lega.
Selanjutnya ibuku dimasukkan ke dalam ruang ICU (intensive care unit) atau ruangan perawatan intensive. Saya yang penuh harap dan dibimbing oleh beberapa teman meski hanya lewat telepon untuk menyediakan air kurma infused water. Saya mengambil 7 (tujuh) biji kurma dan kemudian diminta untuk dicampurkan dengan susu. Namun karena mempertimbangkan ibuku yang mempunyai dan menderita maag atau gerd dalam asam lambung, maka saya tidak mencampurkan susu, karena mama atau ibuku juga menderita diabetes. Air kurma tersebut kuseduh dan kurendam dalam secangkir gelas serta menunggu sampai ibuku sadar kemudian meminumnya. Setelah dua kantong darah berhasil masuk. Ibuku pun dinyatakan telah siuman atau hbnya telah normal. Meski harus menjalani perawatan lebih lanjut dan tetap di rumah sakit.
Emang sih dari awal sejak mendampingi ibuku di ruangan, saya sudah meminta kepada pihak perawat agar menghentikan pemberian antibiotik tersebut, karena setelah saya perhatikan, ibuku muntah jika cairan tersebut dipasang. Namun, entah karena pentingnya dan tidak ada opsi lain, maka cairan tersebut tetap diberikan dan dipasang yang akhirnya ibuku muntah hingga tak sadarkan diri. Tapi qadarullah seperti itulah perawatan medis yang kami tidak punya ilmu dan ahli terhadap hal tersebut sehingga kami tetap mengikuti proses dan prosedur pihak rumah sakit.
Alhamdulillah saat itu juga meski bukan di ruang VIP, kami yang menemani ibu sedang di rawat di ruang kelas satu sehingga hanya dua orang pasien yang dirawat di ruangan tersebut. Juga bertepatan saat itu, pasien yang satu atau yang bersebelahan dengan ibu sudah dinyatakan boleh pulang ke rumah sehingga sisa kami yang tertinggal di ruangan tersebut serasa kamar VIP karena hanya satu pasien di dalam yakni ibuku. Hal ini adalah rezeki dari Allah swt.
Pada umumnya, memang jika pasien diabetes agak lama di rumah sakit. Kurang lebih tiga Minggu, ibuku harus dirawat di rumah sakit. Selain diabetes, juga harus dibedah karena luka, nah pasca operasi tersebut lah yang harus diberi anti biotik agar segera membaik. Dalam kondisi tersebut ibuku juga sedang menderita gerd atau gangguan asam lambung, sehingga pilihan untuk tetap di rawat di rumah sakit terbaik adalah pilihan kami dan ikhtiar kami yang maksimal.
Meski dalam proses sebelumnya, ayahku sudah mengarahkan kami untuk ikhlas karena melihat kondisi ibuku yang seperti mau pergi dan lama untuk berproses. Juga disebabkan melihat dan merasakan emosional anak-anaknya yang belum siap melepaskan ibunya. Ayahku mengingatkan kami untuk mengantar ibu dan mengikhlaskan nya namun dengan penuh tangis sedih dan harapan Allah berkehendak sembuh kami pun mengaji terus menerus sampai akhirnya ibuku bisa sadarkan diri. Seperti itulah sedikit kiranya usaha kami sebagai anak-anak yang disekolahkan di pondok pesantren. Dengan penuh harap hanya tawakkal berserah diri kepada Allah sepenuhnya. Dan tidak ada hal lain yang bisa kami usahakan selain dzikrullah meski hanya dengan membacakan Al-Qur'an.
Bagiku Al-Qur'an adalah penyembuh. Syifaa'an. Dengan mukjizat melalui Al-Qur'an yang dipenuhi ayat-ayat Allah swt, nyata lah terbukti bagaimana ayat-ayat tersebut menjadi wasilah yang menghadirkan atau dikirimkan malaikat malaikat mengelilingi orang orang yang penuh harap dan ikhlas hanya memohon kepada Tuhan yang Ahad, Dzat pemilik semesta. Untuk kesekian kalinya ibu pun bertahan dengan kasih sayang terhadap anak-anak dan suaminya.
Sayap-sayap malaikat menaungi rumah rumah sakit tempat menggugurkan dosa dan tempat mustajabnya doa. Bagaimana tidak, seseorang yang sedang menderita sakit tidak lain menjadi penggugur dosa baginya sebagai seorang muslim. Sedangkan orang-orang yang datang menjenguk orang sakit, diiringi oleh malaikat yang mendoakan agar mereka selalu diampuni sejak pergi dalam niat, juga selalu dilindungi sampai ia pulang kembali ke rumah masing-masing.
Komentar
Posting Komentar