Enaknya juga pas di pondok bermain bercanda sama teman teman tanpa harus bangun sepagi ini dan menempuh jarak yang lumayan serta menghabiskan waktu di sekolah yg beda pasti rasanya ketika didalam suasana pondok. Ayahku kemudian menghentikan motornya dan membuat lamunanku buyar ketika singgah di tempat bensin untuk mengisi bensin dalam perjalan mengantarkan saya ke sekolah pagi ini.
Hal ini adalah permintaan ku dengan paksa kepada orangtua ku ketika harus lari dari pondok dan tidak ingin pulang akibat emosional merasa tidak betah. Nah karena jarak rumahku yang lumayan dekat dari pondok tempat ku belajar dan ditempa kurang lebih tiga tahun. Sebab inilah saya sudah tidak tahan jika mengingat wajah kakak pengurus itu dan kata kata yang terngiang-ngiang di telingaku. Wajahnya dan gayanya begitu sangat menjengkelkan terlihat sangat galak dan seakan memandangku sinis serta menuturkan kata-kata yang tidak enak untuk kudengar. Kakak yang ku maksud berkata bahwa aku adalah seorang pembangkang, pelanggar, dan kepala batu susah diatur. Hanya bergaya dan mengandalkan tuan rumah sebab rumahku sangat dekat.
Dengan membawa kamus keliling pondok jika sedang di luar ruangan, ia memang terkenal lumayan tegas dan galak. Ia adalah salah satu pengurus pada bagian bahasa putri di pondok. Salah satu yang membuat ku malu saat itu karena harus memakai jilbab pelanggaran selama beraktivitas dalam satu hari. Sebenarnya saya bukan orang pertama yang menggunakan jilbab pelanggaran itu dan juga sebenarnya saya tidak sendiri untuk menggunakan jilbab pelanggaran itu. Namun, perkataan kakak tersebut selalu terngiang-ngiang di telingaku dan membuatku sakit hati sehingga tidak betah di pondok.
Entah dikarenakan saya yang terlalu emosional. Namun ketika saya teringat wajah kakak pengurus tersebut, rasa jengkel, kesal dan marah bercampur aduk. Walaupun tidak semua kakak pengurus seperti itu. Bahkan saya pun sangat dekat dengan kakak ketua organisasi (OPPM). Ia sangat ramah dan supel, beda jauh dengan anggota pengurusnya yang satu ini. Namun, dalam keramahannya, tidak ada juga gunanya jika hal ini harus kuadukan kepadanya. Toh hanya akan menambah masalah. Seperti pembangkang dan anggota yang suka membantah saja, jika harus kuadukan ke pada kakak ketua OPPM tersebut yang sangat dekat denganku. Karena pada dasarnya apa yang terjadi padaku adalah memang murni kesalahanku. Entah mengapa juga harus keceplosan berbahasa daerah dan tidak menyadari bahwa ada jasus (mata-mata) yang selalu standby di sekitar santri.
Lega rasanya ketika berhasil keluar dan pindah dari pondok serta masuk ke sekolah yang baru. Merasakan hidup seperti membuka lembaran baru. Ketemu teman teman baru , semua serba baru dan yang paling kusuka adalah bisa menggunakan handphone kapan saja dan dimana saja. Tidak seperti di pondok yang tidak pernah dan dilarang untuk menggunakan handphone. Apalagi jika harus membayangkan wajah kakak pengurus tersebut. Rasanya yah sudahlah, meski ku akui diriku juga yang salah pastinya tapi kan kata-kata tersebut yang terngiang di telingaku sungguh membuatku kesal.
Setelah kurang lebih sebulan terlewati kegiatan seperti pagi ini saat aku diantarkan ke sekolah. Rasanya rindu dengan segala suasana pondok. Padahal kalau di pondok bangunnya bahkan lebih dan sangat pagi. Iyaaa donk. Bangun shubuh dengan menahan kantuk meski kadang bisa jadi sempat tertidur beberapa menit ketika sementara (ups maaf) buang air. Kemudian kaget ketika mendengar suara hitungan kakak pengurus. Meski harus berlari dan menyesuaikan dengan waktu agar tidak terlambat. Juga harus mengerjakan iqob (punisment) ketika melanggar. Waktu tiga tahun bukalah waktu yang singkat dan mudah untuk kulupakan.
Namun, hal ini juga merupakan keputusan ku yang ku paksakan dengan merengek sejadi-jadinya kepada kedua orangtuaku. Penyesalan kini tidak ada gunanya, tidak mungkin lagi diterima jika saya harus minta kembali ke pondok pesantren setelah surat pindah dan berpamitan kepada teman-teman di pondok. Bulir bening pun tiba-tiba mengalir di pipiku dan terbang bersama angin mengikuti irama laju motor ayahku. Iya saya merindukan pondok, rindu sangaad.
Ternyata kehidupan di luar pondok itu memang penuh godaan. Godaan pergaulan khususnya dengan lawan jenis, membuatku berbunga bunga dan seperti tak terkontrol. Kata-kata kotor yang tidak pernah kudengar di pondok, seakan menjadi camilan sehari-hari yang membuat diri bangga dan merasa gaul ketika ikut melafalkannya. Padahal meski pindah dari pondok. Orangtuaku tetap menyekolahkan ku di madrasah bukan di sekolah umum. Namun sepert itulah suasananya. Ada hampa dan damai yang hilang dari relung jiwa. Yaa saya rindu pondok. Rindu semuanya. Rindu teman-teman. Rindu kakak kelas yang baik dan penyayang. Rindu guru-guru yang bijaksana nan alim. Rindu berbagai macam kegiatan. Rindu tajammu (makan bersama). Rindu Susana Ramadan pondok. Rindu sangaad. Sangat rinduu.
Sebenarnya pun saya sudah memaafkan kakak pengurus tersebut yang seakan menjadi alasan utama kepindahanku dari pondok. Namun toh saya juga sudah menyadari bahwa kakak pengurus tersebut bukan hanya marah ke saya saat melanggar tapi marah ke semua kita yang melanggar khususnya saat itu. Juga hal yang paling utama adalah semua hal disiplin terkait aturan pondok diatur dan didik untuk kebaikan masing-masing kami selaku santri. Jika saya jadi pintar berbahasa bukan kakak pengurus juga yang untung, namun saya sendiri dan itu adalah bagian dari tujuanku memilih sekolah di pondok pesantren. Namun memang situasinya, saya lagi datang bulan saat itu, jadinya serasa guntur dan petir yang tiba-tiba menggelegar dengan keras di sampingku dan terbayang wajah kakak tersebut seperti mengeluarkan asap dari atas kepalanya.
Penyesalan menyelimuti hari-hariku dan sangat menyesal. Andai waktu bisa diputar kembali. Keputusan yang emosional saat itu tak ada untungnya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana pun juga tidak bisa lagi untuk kembali ke pondok. Saya harus melanjutkan pendidikan ku di tempat lain dan harus belajar mengendalikan diri. Semoga mereka tidak merasakan penyesalan ku ini. Biarlah cukup saya yang sampai di titik penyesalan terbesar ini. Maafkan saya ibu(pondok), maafkan anakmu ini yang harus pergi dan tidak sempat berterimakasih padamu.
Komentar
Posting Komentar