Langsung ke konten utama

Wasiat air 2

 Kurang lebih lima tahun berlalu, tidak terasa setahun lagi bisa jadi aku harus meninggalkan pondok yang penuh kenangan ini. Sejak kecil, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Semua tidak dapat kulupakan begitu saja. Meski saat dijalani terasa berat dan menyedihkan,  namun tidak ada kesempatan untuk meratapi nasib. Segala hal yang bisa jadi menyedihkan saat itu, tetap menjadi kenangan yang indah. Begitulah Pondokku tercinta yang sudah mengisi ruang terdalam di hatiku.


Tepat saat aku duduk di bangku kelas lima Tarbiyatul muallimin sebutannya di pondok pesantren ku. Alhamdulillah pondok mengalami perkembangan dan kemajuan di setiap tahunnya. Meski ada juga duka dalam beberapa tahun. Semisal masa selesainya pengabdian berapa guru, dan harus berpisah dengan kami selaku anak didiknya. Ada juga beberapa teman seperjuangan yang meninggal fii Sabilillah dengan berbagai macam asbab di antaranya kecelakaan saat pulang ke rumah atau saat mau berangkat menuju pondok dan in syaa Allah semuanya adalah Husnul Khotimah. Bahkan ustadzah atau guru kami yang saat itu hanya berjumlah empat atau dua orang, salah satunya harus berpulang karena kecelakaan motor saat hendak ke kampus perguruan tinggi untuk mengurus satu dan lain hal. Itulah beberapa cara bagaimana mereka dijemput dengan Husnul khatimah in syaa Allah.


Beberapa tahapan perkembangan kemajuan pondok diantaranya adalah pembangunan perpustakaan yang khusus dan lumayan representatif saat itu bagi kami dengan bangunan baru tepat di dekat masjid. Kemudian menyusul pembangunan beberapa lokal tambahan ruangan kelas yang tadinya beberapa kelas harus belajar di teras masjid dan teras asrama akhirnya bisa pindah ke kelas baru dalam bangunan baru. Kemudian disusul lagi dengan pembangunan laboratorium beberapa lokal yang lengkap dijadikan dengan gedung kesenian dan keterampilan sebagai pelengkap. Alhamdulillah semakin ramai dan menghijau cat dinding menghiasi pondok tercinta.


Hingga tiba masanya beberapa pejabat atau petinggi daerah datang ke pondok kami dalam rangka peresmian dan kunjungan serta sempat memberikan penawaran kepada pimpinan untuk memilih pembangunan gedung atau fasilitas air. Hal tersebut kurang lebih diceritakan oleh pimpinan sebagai kabar gembira yang patut disyukuri dalam nasihat setelah melaksanakan shalat Maghrib berjamaah di Masjid pondok. Beliau menyampaikan biarkan air pondok seperti ini dengan ujian kekeringan agar kita sebagai penghuni pondok senantiasa menjadi dan termasuk hamba yang bersyukur. Menjaga air dan tidak membuang-buang air sehingga selalu menggunakan air secukupnya. Fasilitas atau sumur bor yang dibangun pun dialihkan untuk pembangunan bangunan yang lebih dibutuhkan. 


Tibalah masa yang akhirnya dimampukan untuk menyelesaikan pendidikan enam tahun di pondok. Drama air Wasiat yang dialirkan dari Gunung tetap kami nikmati dan menjadi kenangan terindah. Hingga terpatri dalam jiwa dan ragaku sangat sensitif ketika melihat air yang terbuang-buang percuma karena kami sudah mengalami bagaimana kekurangan air. Dan selalu bersyukur dan berupaya untuk menggunakan air dengan selalu bijak. Trimakasih ibu, pondokku tercunta. Trimakasi semuanya. Bilkhusus para gugu-guru kami yang penuh ikhlas dan tanggung jawab mendidik kami dan menghantarkan kami dengan raga dan do'a agar mampu mangarungi samudra kehidupan dan dapat hidup bermasyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...