Langsung ke konten utama

Wasiat Air

 Era 2000-an yang dikenal dengan awal milenium. Dimana merupakan Era yang dianggap kemajuan teknologi dan sebagainya. Era naik sepeda beralih menjadi sepeda motor bukan hal yang asing lagi. Orang orang sudah mulai memiliki handphone yang beragam dan lebih canggih dari sebelumnya. Kalau sebelumnya hanya telepon rumah ataupun telepon genggam yang bisa dibawa kemana-mana masih terbatas untuk ukuran provinsi kora tempatku lahir dan hidup.


Jauh di kaki gunung, di tengah hutan, termasuk pembongkaran lahan yang dibeli oleh seorang Dai alumni pondok pesantren dan setelah menyelesaikan kuliah di luar negeri datang untuk membangun daerahnya karena Allah SWT. Dengan niat yang tulus dan tekad yang kuat. Penuh juang dan rintangan, tidak mematikan dan menghalangi semangat beliau. Bersama istri tercinta dan beberapa teman serta murid teladan beliau membangun sebuah peradaban melalui pendidikan pondok pesantren.


Tepat tahun 2001 akupun masuk dan bersekolah atau melanjutkan pendidikan di tempat tersebut yang disebut dengan Pondok Modern Assalaam tepatnya di Kampung Baru. Karena kampung tersebut ada dan dihuni oleh orang baru dengan semangat baru, dan baru ditempati maka disebut namanya pun menjadi Kampung baru.


Karena letaknya di kaki gunung, air yang digunakan pula adalah air gunung. Maka semua hal yang berkaitan dengan kondisi cuaca setempat pun sangat berpengaruh terhadap sifat air. Jika hujan lagi deras-deras turunnya, maka air pun akan menyesuaikan sifatnya menjadi penuh tanah dan berwarna cokelat seperti susu. Pastinya jauh berbeda dengan air sumur bor yang dihisap dari dalam tanah tepat pada  bagian penyimpanan air yang sudah tersaring dan  bersih. Namun membutuhkan biaya yang lumayan pula pastinya.


Nah memang saat ini, semua tergantung skala prioritas. Tidak sedikit hal yang harus didahulukan. Semisal pembangunan untuk tempat tinggal atau asrama dan tempat kegiatan. Untuk tempat kegiatan tersebut pula, dibagi atau dipikirkan dan diputuskan sesuai kebutuhan apa yang kiranya paling mendesak. Jika belajar bisa di depan kamar semua bisa dikondisikan. Sedikit demi sedikit, bertahap, dan berkembang. 


Karena ini bukan proyek negara, tapi proyek umat yang dirintis oleh pribadi. Awalnya memakai semua hal yang pribadi dengan tulus dan penuh iman. Allah maha kaya, Allah Maha segalanya. Dengan berbagai cara nan upaya, biarkan Allah melihat dan berjalan sesuai skenario-Nya. Penuh harap serta ikhtiar para pejuang tersebut, mengajarkan arti perjuangan. Mereka yakin bahwa Jika menolong Agama Allah, Maka Allah pasti menolong. Tidak ada ragu sedikitpun, hanya Lillahi Ta'ala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...