Setalah sampai di rumah aku tak mendapatkan orangtuaku. Hanya ada bibiku yang kusebut dengan panggilan mama dua. Setelah mengetahui bahwa ternyata ayahku sedang sakit dan harus di rawat di rumah sakit, akupun kaget dan bersegera untuk berangkat menuju rumah sakit.bakupun diantar oleh adik laki-laki ku yang baru datang dari membawa dan mengantarkan bekal untuk orangtuaku di rumah sakit.
Selanjutnya kulangkahkan kaki memasuki lorong rumah sakit, dengan perasaan campur aduk cemas dan khawatir. Tadi sebelum ke rumah sakit saku sudah sempat protes ke bibiku mengapa saya tidak diberi tahukan terkait ayah salkir. Namun ternyata , memenang karena ayahku baru masuk kemarin dan belum sempat untuk memberitahu akai. Rencana memang hari ini aku disambangi atau di datangi di pondok untuk mengetahui kondisiku dan memberitahukan mperihal ayah sakit. Qadarullah badik saya baru mau bersiap ke menuju pondok ternyata saya sudah berada di rumah.
Selanjut setelah bersalaman dan mencium ayah dan ibuku , aku melihat dan ayahku sudah mulai tersenyum meski dengan terpaksa karena Matak dapat di sembunyikan me bahawa beliau memenag bena r benar sakit. Aku pun meminjam honibuku untuk kemudian menghubungi sahabatku Fira dan memberitahu bahwa aku belum ingin balik ke pondok karena ayahku masuk rumah sakit. Aku berkeras belum mau untuk balik ke pondok karena pastinya akan kepikiran terus terkait kondisi ayah.
Adik ku yang ke dua sedang kuliah di provinsi tetangga yang. Sehingga ia juga baru diberitahu perihal kondisi ayah yang sedang sakit. Akupun memaklumi hal tersebut. Karena keterbatasan alat komunikasi. Ayahku tiba tiba minta untuk dibelikan buah semangka, akupun bersegera ke depan rumah sakit untuk mencari buah semangka. Tinggallah ibu juga yang menjaga dan merawat ayahku saat aku sedang pergi membeli semang di sekitaran dekat rumah sakit.
Setelah mendapat kan buah semangka yang segar baik menurutku baik, akupun balik menelusuri lorong rumah sakit untuk menuju ke ruangan ayah dirawat. Ketika sampai di dalam ruangan aku melihat sosok yang sepertinya pernah kulihat sebelumnya namun lupa. Setelah memberi salam ketika memasuki ruangan , aku pun melihat wajah dan bertemu mata pada laki-laki kangkung tersebut. Ia iya ia adalah laki-laki yang menanyakan alamat jalan kelor dsaat di taxi atau di terminal tadi .
Ibuku pun memintaku untuk bersalaman dan mencium tangan laki-laki tersebut setelah menjelaskan bahwa lelaki tersebut adalah kakak aku atau anak dari ayahku yang datang untuk silaturahmi dan mencari ayahku. Ia dari daerah pulau Jawa dan sedang tugas kerja di pulau Sulawesi sehingga akhirnya berkesempatan untuk mencari dan menengok keluarga. Ayah. Dengan sedikit kaget akupun menerimanya. Dikarenakan jauh sebelum ini, ibuku sudah pernah bercerita bahwa ayahku adalah seorang perantau dan ibuku adalah merupakan istri terkahir setelah tiga kali menikah dan memiliki anak-anak laki-laki.
Komentar
Posting Komentar