Langsung ke konten utama

Wasiat Cinta 2

 Setalah sampai di rumah aku tak mendapatkan orangtuaku. Hanya ada bibiku yang kusebut dengan panggilan mama dua. Setelah mengetahui bahwa ternyata ayahku sedang sakit dan harus di rawat di rumah sakit, akupun kaget dan bersegera untuk berangkat menuju rumah sakit.bakupun diantar oleh adik laki-laki ku yang baru datang dari membawa dan mengantarkan bekal untuk orangtuaku di rumah sakit.


Selanjutnya kulangkahkan kaki memasuki lorong rumah sakit, dengan perasaan campur aduk cemas dan khawatir. Tadi sebelum ke rumah sakit saku sudah sempat protes ke bibiku mengapa saya tidak diberi tahukan terkait ayah salkir. Namun ternyata , memenang karena ayahku baru masuk kemarin dan belum sempat untuk memberitahu akai. Rencana memang hari ini aku disambangi atau di datangi di pondok untuk mengetahui kondisiku dan memberitahukan mperihal ayah sakit. Qadarullah badik saya baru mau bersiap ke menuju pondok ternyata saya sudah berada di rumah.


Selanjut setelah bersalaman dan mencium ayah dan ibuku , aku melihat dan ayahku sudah mulai tersenyum meski dengan terpaksa karena Matak dapat di sembunyikan me bahawa beliau memenag bena r benar sakit. Aku pun meminjam honibuku untuk kemudian menghubungi sahabatku Fira dan memberitahu bahwa aku belum ingin balik ke pondok karena ayahku masuk rumah sakit. Aku berkeras belum mau untuk balik ke pondok karena pastinya akan kepikiran terus terkait kondisi ayah.


Adik ku yang ke dua sedang kuliah di provinsi tetangga yang. Sehingga ia juga baru diberitahu perihal kondisi ayah yang sedang sakit. Akupun memaklumi hal tersebut. Karena keterbatasan alat komunikasi. Ayahku tiba tiba minta untuk dibelikan buah semangka, akupun bersegera ke depan rumah sakit untuk mencari buah semangka. Tinggallah ibu juga yang menjaga dan merawat ayahku saat aku sedang pergi membeli semang di sekitaran dekat rumah sakit.


Setelah mendapat kan buah semangka yang segar baik menurutku baik, akupun balik menelusuri lorong rumah sakit untuk menuju ke ruangan ayah dirawat. Ketika sampai di dalam ruangan aku melihat sosok yang sepertinya pernah kulihat sebelumnya namun lupa. Setelah memberi salam ketika memasuki ruangan , aku pun melihat wajah dan bertemu mata pada laki-laki kangkung tersebut. Ia iya ia adalah laki-laki yang menanyakan alamat jalan kelor dsaat di taxi atau di terminal tadi .


Ibuku pun memintaku untuk bersalaman dan mencium tangan laki-laki tersebut setelah menjelaskan bahwa lelaki tersebut adalah kakak aku atau anak dari ayahku yang datang untuk silaturahmi dan mencari ayahku. Ia dari daerah pulau  Jawa dan sedang tugas kerja di pulau Sulawesi sehingga akhirnya berkesempatan untuk mencari dan menengok keluarga. Ayah. Dengan sedikit kaget akupun menerimanya. Dikarenakan jauh sebelum ini, ibuku sudah pernah bercerita bahwa ayahku adalah seorang perantau dan ibuku adalah merupakan istri terkahir setelah tiga kali menikah dan memiliki anak-anak laki-laki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...