Langsung ke konten utama

Wasiat Cinta

 Aku tak sengaja harus naik taci warna biru ini bersama dengan temanku yang menjadi sahabat dekat di pondok pesantren. Tepatnya hari Jum'at adalah waktu untuk meminta izin keluar pondok untuk beberapa alasan. Ada yang izin untuk pulang dengan alasan beli ini dan beli itu. Padahal sebenarnya hanya mengobati rindu yang tak habis habis ke pada keluarga dan suasana luar pondok. Ya hari itu aku juga hanya ingin sekedarelepas rindu yang sebenarnya kepada keluargaku


Mobil itu melaju ke arah yang kurtuju namun tiba-tiba terhenti untuk menjemput seseorang yang menahan taxi tersebut. Laki laki jangkung berkacamata dengan kaos merah celana panjang putih seperti mau merayakan kemerdekaan 17 Agustus saja. Hehehehehe. Tapi kok aku harus sewot nah itukan hak dia. Lagian kenapa juga harus ku perhatikan . Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh sahabat ku yang duduk disampingku dengan nada ngeledek dan isyarat mata melirik ke arah laki-laki tersebut. 


Yaa kami saling cubit karna antar gemas dan kode rahasia antaran sduo sahabat. Alhamdulillah sisa du pembelokan lagi rumahku sudah dekat . Maksudku rumah temanku sudah dekat dan ia harus turun duluan. Sampai akhirnya di penghunian lampu lalu lintas jalan Soeprapto sahabatku bernama Fira menghentikan taxi tersebut untuk segera turun pulang kerumahnya . Iapun berpamitan padaku dan mengatakan atau mengingatkan untuk janjian pukul 5 sore nanti kemudian bersama-sama kembali ke pondok pesantren. Dengan naik taci khusus berwarna merah yang ditumpangi oleh penghuni pondok yang akan menuju ke pondok pesantren. Ya taci tersebut memang sengaja dipesan dan disiapkan bagi siapa saja yang ingin ke pondok pesantren agar tidak ada alasan atau hambatan transportasi mengingat memang pondok kami itu agak di pinggir gunung sih sehingga jarang bahkan memeang tidak taci yang punya rute ke pondok kami dikarenakan tidak ad. Jarang bahkan hampir tidak ada kelompok masyarakat. Kecuali tepatnya Dide sa tetangga namun rute taxi nya pun belum pasti dan berbeda sehingga kami tidak ikut dan bis untuk naik atau ikut dengan rute taxi desa sebelah.


Yah tadi pagi setelah shalat shubuh dan melakukan olahraga serta Jum'at bersih. Kami minta ziizin di ba gabagian pengasuhan. Kemudian karena tidak dijemput dan memang tidak ada tumpangan. Kamipun berjalan dengan para santri lainnya . Yah lumayan seperti turun dari gunglah untuk menjunjung kota . Perjalanan kami dengan jalan kaki tak terasa karena alasan senag untuk bertemu keluarga dan juga para santri beramai-ramai jalan kaki yang izin pada hari Jum'at tersebut. Ditambah dengan canda bersama teman tak terasa jaraka yang kami tempuh sekitar 3 kilometer untuk kemudian mendapatkan taxi atau melihat kendaraan lalu lalang.


Tidak ada hp ataupun apa untuk komunikasi seperti itulah keadaan kami sama seperti pelaksana detik detik kemerdekaan juga tanpa hp. Jadi kami termasuk orang orang yang memperjuangkan kemerdekaan juga saat itu. Heheheheh. Maaf yaaa keluar jalur.


Tanpa alat komunikasi yang seperti telepati kami tau alamat rumah kami dan memikirkan 1010 macam cara bagaimana samaoi di tunjukan atau rumah keluarga kami. Entah dengan jalan kaki ataupun dengan naik taxi dengan dana sevckupnya yang terpenting adalah kami sampai di tujuan.


Stak terasa sampai juga di rumahku setelah lamunanku dibuyarkan oleh supir yang berteriak dan bertanya siapa yang akan turun di pasar inpres atau terminal pasar. Maksudku pak supir teriak menyebut pasra inpres atau pasar manonda bahwakimaksudnya adalah kita sudah sampai di pasaran manonda dan bersiap untuk turun.


Eh ternyata laki-laki tadi yang kuperhatikan tidak sengaja bersama turun di tempat yang sama. Aku laki-laki tersebut kemudian bertanya terkait alamat kepadaku. Kan jantungku mulai tak beraturan, kok bisa harus tanya ke saya. Adapun alamat yang ditanyakan oleh adalah alamat yang pasti ku ketahui karena alamat itu jalan tersebut adalah jalan rumahku keluarga juga. Namun aku tak mau sok baik juga hanya menjelaskan tanpa mengajak untuk sama-sama ke tempat tersebut. Menjaga jarak karena bukan mahrom iya juga. Tapi lebih tepatnya aku juga malu jika harus lama-lama di dekatnya. Beheheheheheh.


Akupun mencari ojek atau taxi yang memiliki ruter tke tempatku yaaa jalan kelor. Namun ternyata karena terlalu dekat jarak dari ternilai terminal jadinya belum dapat juga taxi. Sehingga aku harus naik ojek untuk menuju rumah keluarga ku atau rumah orangtuaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...