Setiap orang akan melihat mengingat tanggal dimana sesuatu keadaan terjadi signifikan. Extim dan drastis. Manusia akan mengingatnya. Seperti bulan Agustus terkini bagi Rinjadi, 17 Agustus bagi Indonesia.
28 September adalah tanggal dimana saya dan masyarakat Palu Sigi Donggala tidak mudah untuk melupakannya. Perubahan signifikan terkait kondisi wilayah. Guncangan yangvbisa jadi kecil tapi sangat dahsyat bagi kami yang kecil. Yang hanya titik di permukaan bumi ini.
Bumi yangenjadi termasuk yangbketiga terkecil dari dalam tata Surya menjadi sangat tak terhingga bagi seorang manusia. Layaknya tsetitik dalam kertas HVS Folio. Entah masih nampak atau tidak jika di planet lainnya ada kehidupan khusus.
Guncangan berpendar keseluruhan lini. Gemuruh tanah bagikan angin ribut yang menyapa. Smembuat spontanitas histeris bsahut serentak. Manusia berlari melindungi diri. Tidak peduli bagaimana keadaan dan sedang apa. Otaknya memerintahkan satu hal. Lari dan cari perlindungan.
Dalam k gaduh mereka menyebut. Dalam tangis mereka menyebut. Kekhawatiran dan ketakutan bersatu dalam dada. Hari Jum'at yang dijanjikan untuk kiamat. Langit merona dalam warna amarah . Kiamatkah. Rasanya ktifak ada kesempatan untuk berpikir jika hal tersebut benar benar terjadi.
Beberapa jeda menyadarkan bahwa ini bagian dari kiamat kecil. Bumi yang berteriak dengan caranya. Memberi isyarat untuk orang-orang yang berpikir. Apakah kau masih merasa aman jika hari terjadi. Apakah kau masih merasa aman, jika pemilik Semesta berkehendak.
Prahara dalam pergantian waktu. Siang memasuki malam. Terang menuju gelap. Semua kesibukan berganti dalam hiruk pikuk dunia. Dalam hitungan detik merampas kemehawahan dunia. Merenggut nyawa dalam ajal. Yang ditetapkan. Melindungi setiap hamba yang memohon. Mengabulkan setiap hambat yang berharap.
Setiap insan punya cerita. Mengukir sejarah di setiap insan. Saya yang hari itu masih dalam perlindungan nya, masih dalam hidayahNya, masih dalam limpahan nikmatNya. Kalut dalam guncangan. Panik dalam tumpangan. Resah dalam kerinduan .
Saya bersyukur yang tidak terhingga bagaimana sebuah lemari besar dan tinggi. Tiga pintu dengankatyu berat pilihan . Ditopang oleh belahan pintu yang membuatnya enggan menimpa Satau hamba sepertiku. Busana toilet dalam kepanikan u tuk bergegas ke luar ruangan.
Lari, tidak seperti biasa . Bahkan seperti tidak bisa. Guncangan itu terlalu kuat untuk hamba yang lemah . Jatuh tersungkur dan tidak beryadadaya menunggu jeda yang diberikan kepada . Saya mengambil sepesanga mukena untuk kemudian menjadi hijab atas auratku .
Sahabatku yang kukenal pendiam dan Sholihah. Diam dalam kehidupan diatas ranjang susun . Ia nyebut. Ia berdzikir. Ia tidak panik seperti saya. Ia tidak bergeming. Namun hati dan pikirannya jauh menembus singgasana. Saya lari terbirit-birit dalan kesempatan dan kemampuan yang tersisa.
Tidak dengan sahabatku. Ia penuh tawakkal. Ia penuh dzikrullah. Ia mampu mengendalikan setiap hal dalam dirinya. Entah untuk meredakan shock dan asma yangbia derita. Tapi saya tidak melihat itu. Ia hanya ternganga dengan segala hal yang baru terjadi.
Komentar
Posting Komentar