Langsung ke konten utama

28 September

 Setiap orang akan melihat mengingat tanggal dimana sesuatu keadaan terjadi signifikan. Extim dan drastis. Manusia akan mengingatnya. Seperti bulan Agustus terkini bagi Rinjadi, 17 Agustus bagi Indonesia.

 

28 September adalah tanggal dimana saya dan masyarakat Palu Sigi Donggala tidak mudah untuk melupakannya. Perubahan signifikan terkait kondisi wilayah. Guncangan yangvbisa jadi kecil tapi sangat dahsyat bagi kami yang kecil. Yang hanya titik di permukaan bumi ini.


Bumi yangenjadi termasuk yangbketiga terkecil dari dalam tata Surya menjadi sangat tak terhingga bagi seorang manusia. Layaknya tsetitik dalam kertas HVS Folio. Entah masih nampak atau tidak jika di planet lainnya ada kehidupan khusus. 


Guncangan berpendar keseluruhan lini. Gemuruh tanah bagikan angin ribut yang menyapa. Smembuat spontanitas histeris bsahut serentak. Manusia berlari melindungi diri. Tidak peduli bagaimana keadaan dan sedang apa. Otaknya memerintahkan satu hal. Lari dan cari perlindungan.


Dalam k gaduh mereka menyebut. Dalam tangis mereka menyebut. Kekhawatiran dan ketakutan bersatu dalam dada. Hari Jum'at yang dijanjikan untuk kiamat. Langit merona dalam warna amarah . Kiamatkah. Rasanya ktifak ada kesempatan untuk berpikir jika hal tersebut benar benar terjadi.


Beberapa jeda menyadarkan bahwa ini bagian dari kiamat kecil. Bumi yang berteriak dengan caranya. Memberi isyarat untuk orang-orang yang berpikir. Apakah kau masih merasa aman jika hari terjadi. Apakah kau masih merasa aman, jika pemilik Semesta berkehendak.


Prahara dalam pergantian waktu. Siang memasuki malam. Terang menuju gelap. Semua kesibukan berganti dalam hiruk pikuk dunia. Dalam hitungan detik merampas kemehawahan dunia. Merenggut nyawa dalam ajal. Yang ditetapkan. Melindungi setiap hamba yang memohon. Mengabulkan setiap hambat yang berharap. 


Setiap insan punya cerita. Mengukir sejarah di setiap insan. Saya yang hari itu masih dalam perlindungan nya, masih dalam hidayahNya, masih dalam limpahan nikmatNya. Kalut dalam guncangan. Panik dalam tumpangan. Resah dalam kerinduan .


Saya bersyukur yang tidak terhingga bagaimana sebuah lemari besar dan tinggi. Tiga pintu dengankatyu berat pilihan . Ditopang oleh belahan pintu yang membuatnya enggan menimpa Satau hamba sepertiku. Busana toilet dalam kepanikan u tuk bergegas ke luar ruangan. 


Lari, tidak seperti biasa . Bahkan seperti tidak bisa. Guncangan itu terlalu kuat untuk hamba yang lemah . Jatuh tersungkur dan tidak beryadadaya menunggu jeda yang diberikan kepada . Saya mengambil sepesanga mukena untuk kemudian menjadi hijab atas auratku .


Sahabatku yang kukenal pendiam dan Sholihah. Diam dalam kehidupan diatas ranjang susun . Ia nyebut. Ia berdzikir. Ia tidak panik seperti saya. Ia tidak bergeming. Namun hati dan pikirannya jauh menembus singgasana. Saya lari terbirit-birit dalan kesempatan dan kemampuan yang tersisa. 


Tidak dengan sahabatku. Ia penuh tawakkal. Ia penuh dzikrullah. Ia mampu mengendalikan setiap hal dalam dirinya. Entah untuk meredakan shock dan asma yangbia derita. Tapi saya tidak melihat itu. Ia hanya ternganga dengan segala hal yang baru terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...