Langsung ke konten utama

Abu Lahab

 Mumtasz adalah singkatan dari Muhammad Teladan Sepanjang Zaman yang saya kopi dari salah satu judul buku sygma daya insani. Sebagai bukti dan bentuk cinta kepada Rasulullah yang selalu menjadi teladan utama. Saya mengundang kepala desa beserta masyarakat desa pasokan kecamatan Walea besar kabupaten Tojo una-una provinsi Sulawesi Tengah dalam rangka meresmikan taman baca masyarakat yang saya beri nama dengan TBM Mumtasz.


Bukan sekedar bertepatan karena nama anak saya Mumtaazah. Tapi tujuan dan isi buku yang saya kumpul untuk taman baca ini memang didominasi dengan buku siroh terkait 24 nabi dan Rasulullah serta 64 sahabat. Tidak luput juga buku buku terkait rukun iman dan Islam serta beberapa sains yang bersumber dari Al-Qur'an. Sehingga visi dan misi Tamana baca ini adalah untuk membangun generasi melalui peradaban siroh Nabawiyah.


Bertepatan dengan maulid nabi tahun ini menggenapkan usia satu tahun TBM Mumtasz. Harapan gerakan kecil ini menjadi wujud cinta untuk menumbuhkan cinta kepada Rasulullah di setiap hati ummat islam pada khususnya. Bagaimana mungkin cinta akan tumbuh jika tidak mengenalnya saja terasa asing. Bagaimana mungkin bisa kenal jika membacanya saja tidak ada kemauan dan kesempatan.


Membaca setiap hal tentang Rasulullah menyadarkan bahwa beliau juga Manusia. Namun manusia dengan akhlak yang agung sebagaimana Al-Qur'an berjalan. Beliau mengajarkan apa arti cinta dan kasih, juga bagaimana hakikat perjuangan, beliau sering digambarkan sesuai kondisi penulis. Seringnya penulis Indonesia menggambarkan Rasulullah adalah sosok yang miskin. Padahal tidak sedikit penulis asal Timur Tengah yang menggambarkan bahwa Rasulullah adalah orang yang kaya bahkan sangat kaya.


Cinta dan harapan menyatu dalam simbol peringatan dan bahkan penyaluran berkah bagi mereka yang mau dan mampu di setiap hari kelahiran Nabi. Jika golongan Abu Lahab bisa ditangguhkan hukumannya karena bergembira dengan kelahiran Nabi, tidak mengherankan jika cinta dan kegembiraan di hari kelahiran ini dihadirkan atas dasar cinta, meskipun mereka belum mampu membebaskan budak seperti Abu Lahab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...