Langsung ke konten utama

Apel tahunan

Hentakan beraturan oleh satu komando dalam tiap barisan membuat para anggota berkonsentrasi. Irama beraturan menghasilkan. Debu beterbangan pada bagian jalan pondok yang mereka lewati.


Latihan baris berbaris yang dipersiapkan bukan untuk kegiatan Pramuka. Pembagian santri per wilayah yang tergabung baik putra maupun putri. Agenda tahunan ini dilaksanakan setiap awal tahun ajaran pondok.


Seragam putih hitam santri memenuhi hampir tiap sudut lapangan hijau bola kaki. Dekat pintu masuk pondok yang tepat di perbatasan pagar. Lapangan dengan panjang dan lebar 8x12 tersebut menjadi arena utama agenda Apel tahunan.


Parade baris berbaris setiap santri per wilayah tergabung dalam kesatuan konsulat. Saya yang datang dari daerah tetangga termasuk dalam konsulat Luar Daerah. Menempuh jarak kurang lebih 130 kilometer untuk melewati dua kabupaten kota.


Saya yang datang dari pasangkayu memilih pondok ini sebagai Medan jihad. Jihad dari belenggu kebodohan dan niat untuk menghidupkan agama.


Jarak yang lumayan dan perbedaan provinsi menyematkan nama konsulat luar daerah. Salah seorang temanku dalan konsulat juga datang dari wilayah Soppeng yang berjarak 500% dibanding daerah asalku.


Padahal tidak sedikit pula pada pejuang (santri) yang datang dari provinsi yang sama namun berjarak lebih jauh. Mereka datang dari wilayah Banggai. Kurang lebih enam ratus dua puluh kilometer dari Ibu kota Sulawesi Tengah 


Jumlah yang cukup sedikit dibanding dengan konsulat lain tidaklah menyurutkan langkah kami. Bahkan pujian dari pimpinan pondok atas apresiasi khusus bagi kami yang datang dari luar daerah dan memilih untuk bersama di pondok ini.


Tetiba pelukan dari arah samping oleh seorang santriwati membuatku sadar dan berhenti dari lamunan. Posisi duduk di salah satu gazebo penerimaan tamu yang menghadap ke arah lapangan hijau tersebut menerbangkan ruhku jauh ke dua belas tahun silam.


Gadis manja berjilbab usia tiga belas tahun ini adalah puteri pertamaku. Ku jenguk di sela waktu akhir pekan meski hanya sekedar memastikan dirinya baik-baik saja.


Tiga bulan berlalu tanpa berpamitan. Meski sempat menitikkan air mata rindu, bahagia tetap merajai hati. Puteri sulungku menceritakan pengalamannya dengan semangat menggebu.


Mulai dari pertemuannya dengan teman yang beragam. Pembelajaran bahasa yang asyik. Hingga perasaan cemas dan khawatir untuk melanggar disiplin.


Sesekali saya tersenyum dan berkali-kali terbahak mendengarkan cerita seorang pemikul harapanku dengan penuh saksama. Betapa terhibur diri ini setiap putaran episode keseharian di pondok melintas di benakku.


Tidak ingin terpikir olehku bagaimana caranya agar anakku bisa berprestasi dan berhasil di pondok. Hanya satu harapan yang jauh terpatri di jiwa sebelum ia terdaftar sebagai santri. Semoga anakku mampu beradaptasi dan juga betah hidup di pondok pesantren.


Saya yakin dan percaya bahwa tidak ada hijab antara do'a terhadap anak begitupula sebaliknya. Meski harus bersabar dengan syarat taat dan ketentuan waktu.


Sebagai salah seorang alumni pondok, saya merasakan bagaimana pendidikan pondok membentuk karakter baik yang menjadi kontrol diri. Meski sampai saat ini, saya belum bisa dikategorikan manusia sukses.


Saya sangat bersyukur dan sangat terbantu. Masih mampu menjalani hidup dengan penuh tantangan dan fatamorgana. Berbekal panja jiwa, pendidikan pondok menjadi modal yang kuat dan sangat berharga bagiku.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...