"maaf sayang, qadarullah kecurian rumah mama" ujar Suami melalui chat WhatsApp.
"Yaa Allah😭" balasku singkat.
Pupus harapan, angan dan cita. Seketika pikiran negatif berkelebat. Sekian hari berganti tahun, siang-malam kerja demi investasi. Mengejar dunia dalam hal yang tidak pasti. Investasi dunia untuk simpanan masa depan yang saya pun tidak tahu apakah akan sampai usia ku.
Ingin marah, mengamuk, menyalahkan, menghayal bahkan gemetar. Suara jauh dari lubuk hati sibuk dengan afirmasi positif. Sesungguhnya semua hanya titipan dan segalanya adalah milik Allah Swt.
Tidak ada yang luput dari kehendakNya. Bahkan sehelai daun pun tidak akan jatuh tanpa kehendakNya. Hatiku kemudian dipenuhi istighfar. Dosa apa yang kulakukan. Apakah tiga lembar kertas sekolah yang kupakai dari sisa saat cetak soal. Atau apakah dosa atas prasangka baik yang ku sengaja maupun tidak sengaja.
Saya terus melanjutkan agenda untuk menyelesaikan aktifitas yang ada. Masih berkecamuk, pikiran melayang menelaah antrian pertimbangan dan kenangan. Sakit. Sedih. Hampa. Bingung. Tapi hatiku terasa lapang jika mengingat bahwa semua adalah milikNya.
***
Sayup terdengar suara shalawat dari pelantang masjid. Hari mulai gelap dalam proses pergantian senja. Bergegas ku ambil air wudhu dan berganti kostum. Stelan mukena ungu mengiringi langkah gontai menuju CahayaNya.
Setelah puluhan langkah sambil mengatur napas yang terengah. Ku alihkan fokus untuk menghadapNya. Tiga rakaat wajib ditambah dua rakaat Sunnah tertunaikan. Hati pun sejuk meski sedih dan bingung bersepakat tak mau pergi.
Saya berniat itikaf sambil menunggu waktu shalat isya tiba. Dalam kondisi yang terasa berat, bingung mau minta apa kepada Allah. Batinku dalam sadar meyakini bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha segalanya.
Air mata mendahului ucapku. Rasa sedih, keluhan, serta harap berpadu dalam batin. Yaa Rabb, lapangan hatiku. Jika yang terjadi dikarenakan dosa, ampuni dosa-dosa kami. Namun, jika ini adalah bentuk cinta, berikan ketabahan dan gantikan dengan yang lebih baik juga banyak.
Saya manusia yang penuh keluh kesah. Berusaha menyadari limpahan nikmat dari Pemilik Semesta. Tidak ada tujuan lain selain meraba jalan hidayahNya. Mengejar dunia dengan alasan akhirat semoga membuatku berbenah.
Seberapa benar dan kuat nilai alasan akhirat dalam tujuanku. Berharap kuasaMu memberikan jalan sepenuhnya. Berharap kasihMu membimbing setiap langkah.
Kebodohan ini sungguh membuat sengsara. Terus belajar sepanjang hayat merenungi setiap keputusan. Mendorong gerak menuju berkah. Jauhkan kami dari kesia-siaan.
Komentar
Posting Komentar