Papan putih memenuhi dinding bangunan yang tampak utama dan menjadi pertama jika memasuki wilayah pondok. Anyaman daun rumbia berwarna cokelat menjadi atap yang melindungi dari panas dan hujan. Tiga lokal ruang kelas mengisi setiap sisi. Sekat dinding buka tutup menjadi pembatas tiap ruang kelas tersebut.
Bangunan yang dinamakan Darul Fikri ini dapat diartikan sebagai tempat berpikir. Bangunan ini juga merupakan saksi sejarah dan peradaban. Menjadi pusat pembelajaran umum santri, juga agenda bulanan hingga tahunan. Sejak seleksi awal santri baru sampai dengan saya menyelesaikan pendidikan di pondok atau yudisium santri, semua dilaksanakan di tempat ini.
Saya masih ingat bagaimana saya dan teman teman melaksanakan ujian masuk pondok di Darul Fikri. Ratusan santri memenuhi tiga lokal ruang kelas yang disetting layaknya aula pertemuan. Setelah menyelesaikan proses seleksi santri baru. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pekan perkenalan yang dikenal dengan kuliah umum selama tiga hari di tempat itu pula.
Pekan berganti bulan, tahunpun ikut berganti. Saya berlatih tampil di depan umum melalui agenda pentas seni hingga lomba pidato di tempat tersebut. Agenda yang wajib ikuti dan disaksikan oleh seluruh santri. Penuh makna dan nilai pendidikan.
Sampai akhirnya saya dan teman seangkatan menutup masa pendidikan di bangunan bersejarah tersebut. Agenda yudisium santri akhir yang penuh emosional. Pengumuman terkait penentuan serta nasihat pelepasan siswa akhir. Masih terasa bagaimana hujan di pipi membanjiri jilbab, ketika ayahanda menangis tersedu dengan airmata kejujuran yang diakuinya berat untuk melepaskan anak-anak nya dari pondok.
Dalam proses pelepasan santri akhir, tidak ada lagi hal yang perlu ditahan jika memang perpisahan ini sangatlah berat. Khususnya ketika ayahanda meminta Kami sebagai santri kelas akhir untuk memandang setiap sudut pondok ini yang telah menjadi saksi selama enam tahun .
Bahkan santri putera yang sebelumnya jaim tak tertolong juga membanjiri wajah mereka dengan air mata. Saya sembari melawan ingus dan hujan deras di pipi yang tak tertahankan meresapi agenda pelepasan tersebut. Bersama teman se-angkatan dengan penuh haru biru. Yang akhirnya sampai juga dititik yang dituju namun seperti hal yang tak dapat diterima namun dilalui.
Enam tahun sangatlah singkat setelah menjalani nya dengan berbagai momen yang tidaklah sedikit. Suka duka penuh hikmah menguatkan jiwa dan menyehatkan raga. Menjadi nutrisi alami termahal namun gratis. Panca jiwa pondok menemani hari hari kami untuk selalu terpatri dalam dada dan berusaha menerapkan dalam setiap lini kehidupan.
Nasihat bijaksana yang terukir dalam setiap untaian kata ayahanda menjadi pelita bagi kehidupan kami sebagai seorang anak maupun seorang santri. Dan hari ini saya pun sadar mengapa airmata mudir tak tertahankan, karena dunia luar tidak lah muda untuk dihadapi yang penuh godaan. Namun ketika jiwa mengingat setiap hal terkait pondok selalu menjadi kontrol diri dan pembelajaran di setiap saat.
Darul Fikri, yang dari segi arti saya maknai dengan tempat orang orang berfikir. Dididik berpikir oleh para pemikir agar senantiasa berfikir dan jangan sampai kikir dalam setiap hal yang terpikir. Darul Fikri bangunan bersejarah untuk setiap ahlul Fikri dengan segala kenangan yang bukan sekedar angan-angan.
Komentar
Posting Komentar