Langsung ke konten utama

Fira

 

Pagi produktif memacu setiap santri. Berkejaran dengan waktu. Tanpa peduli apakah hari ini hatimu sedang sedih atau gembira. Imanmu sedang naik atau turun. Menjadi penting untuk tidak membuang waktu dalam kesia-sia-an. Menjadi utama agar tidak menyesal dan ketinggalan.

 

Setelah shalat shubuh, seluruh santri menerima pembelajaran kosa kata depan teras kamar masing-masing. Alunan suara berjamaah meramaikan kesunyian awal pagi sebelum matahari terbit. Kurang lebih dua puluh menit untuk dua kosa kata baru dalam sehari.

 

Selanjutnya hiruk pikuk santri disibukkan oleh kegiatan pribadi masing-masing. Sebagian santri segera bergegas mandi dikarenakan harus melaksanakan piket pada hari itu. Tidak sedikit pula yang ikut bergegas karena tidak ingin terlambat masuk kelas.

 

Beberapa santri juga terlihat santai dan memilih belajar sebelum kemudian mengganti pakaian untuk bersiap ke ruang makan. Santai karena sudah mandi sebelum shalat shubuh. Saya selaku pengurus kamar tidak lupa mengingatkan seluruh anggota kamarku untuk sarapan pagi tepat waktu. Khususnya adik-adik yang masih melayani kantuk dalam balutan mukena.

 

Kurang lebih pukul 06.00, Fira nampak siap untuk pergi ke ruang makan. Pakaian putih dan rok hitam serta jilbab putih, menandakan bahwa ia bersiap untuk masuk kelas hari ini. Menuntut ilmu dengan semangat juang. Menapak langkah menuju tangga impian.

 

Gadis mungil asal Buol tersebut, mondar mandir bak setrika depan teras asrama. Saya yang bersiap mengkoordinir anggota kamar, duduk tepat di pojok teras. Berhadapan taman kecil berpagar genteng bekas yang ditata secara artistik.

“limaadza ukhtii?” ujarku dengan senyum penuh perhatian.

“na’liiii….” Jawabnya mengadu dalam manja.

 

Fira kemudian duduk disampingku setelah bertemu dengan sandal kesayangannya. Lengkap dengan piring merah juga gelas, ia menunggu temannya yang masih di dalam kamar. Saya dan fira lalu terlibat dalam percakapan sambil menikmati hiruk pikuk santri.

“alhamdulillah ka, saya suka sekali waktu sarapan pagi begini. Makan rame-rame dengan menu yang panas dan segar. Rasanya sempourna” tertiba fira curcol dengan tatapan kosong kedepan.

 

“alhamdulillah, maa syaa Allah… Berarti lebih enak donk daripada di rumah”? tanyaku dalam canda sambil mengernyitkan dahi.

“iyalah kaa, fira kalau dirumah, ayah dan ibu masing-masing sibuk ke kantor. Saya sering makan sendiri dengan makanan yang dibeli. Pokoknya menurutku lebih enak di pondok.” Lanjut fira dengan polos.

“Hayya Fir!” panggil Husna membuyarkan percakapan fira dan saya.

 

Fira kemudian pamit kepadaku untuk mendahului ke ruang makan. Saya yang belum beranjak dari mengawasi anggota kamar kemudian menjadi kepikiran tentang percakaapan tadi. Ternyata ada juga yang sangat menikmati makanan podok meski dengan versi yang berbeda denganku. Cukup unik bagiku.

 

***

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...