Langsung ke konten utama

Fita punya cerita

"Ko tau Ci, saya tidak lulus pas daftar kuliah" Cerita Fita dengan penuh kejujuran.


"Massa? Iyokah?" tanyaku penasaran.


"Betulan, alhamdulillah ada keluarga yang bantu loloskan saya kuliah" balas Fita dengan sedikit malu dan terpaksa.


Fita adalah sahabat karibku di pondok. Sekitar tujuh tahun terpisah pasca yudisium tahun 2006. Kali ini kami dipertemukan dalam acara halal bihalal keluarga besar pondok Modern.


Alunan musik shalawat dan nasyid menggema dalam gedung pertemuan yang disediakan oleh Panitia Halal Bihalal. Susana gempita memenuhi ruangan sebelum acara dimulai.


Hampir setiap undangan larut dalam percakapan. Tidak terkecuali saya dan Fita yang terbahak saat mengulang memori seru di pondok. Hal ini kemudian menjadi asal mula lidah Fita keseleo.


Sebuah rahasia baginya yang ditutup dengan sangat rapat. Menjadi pelajaran berharga dan harapan agar tidak terjadi dengan yang lain. Tiga tahun berlalu setelah menyelesaikan pendidikan Strata Satu Fita.


***


"Tapi kan di pondok juga bisa kuliah pa..." bantah Fita dengan nada merendah.


"Mumpung ada keluarga yang peduli dengan kita nak, tawaran ini untuk masa depanmu juga" nasihat ayah Fita didukung istri tercinta.


Hening menyudahi percakapan Fita dan orangtuanya di ruang santai keluarga. Suara ketukan pintu dan salam seseorang di pintu ruang tamu kemudian mengalihkan perhatian mereka. 


Fita melangkah ke dapur untuk menyiapkan suguhan tamu. Selanjutnya ia bersiap mengemas barang nya untuk kembali ke pondok sore ini.


***


Fita yang kukenal adalah seorang yang berpendirian. Ia adalah salah seorang kepala bagian dalam kepengurusan organisasi pelajar di pondok. Tidak jarang juga berprestasi melalui beberapa karya seni. 


Hingga akhirnya tiba masa yudisium santri. Nama Fita tercantum dalam keputusan pimpinan pondok. Sepuluh dari delapan belas santri terpilih untuk wajib mengabdikan diri di pondok.


Selain mengajar juga menjadi pembina di pondok, para alumni terpilih diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas Islam ibu kota provinsi Sulawesi Tengah.


Dengan bimbang dan terpaksa, Fita tetap memilih untuk mengikuti permintaan orangtua nya. Bagaimana pun juga, ridho Allah bersama ridho orangtua. Fita tidak ingin menjadi anak yang durhaka. 


Orangtuanya meminta Fita untuk segera kuliah di salah satu universitas terkemuka di tanah  kelahiran Fita. Meski sebenarnya Fita sangat khawatir karena belajar dari pengalaman kakak kelas sebelumnya.


Tidak sedikit yang mengalami masalah ketika kepergiannya dari pondok juga bermasalah. Semisal perihal santri diminta mengabdi kemudian tidak patuh, ia sering merasakan kegelisahan yang penuh hampa.


Pimpinan berserta dewan guru di pondok tidak pernah mendoakan hal yang buruk bagi anak-anak didiknya. Justru sebaliknya, setiap langkah santri dipenuhi ridho dan do'a para pendidik lillahi ta'ala tersebut.


Namun Allah Maha Melihat dan Maha Kuasa. Selalu ada hikmah dalam setiap keputusan. Pondok itu ibarat seorang ibu yang mendidik tanpa pamrih dan setia, pagi dan sore.


Kurang lebih begitu pula yang dirasakan oleh Fita. Ia sangat gelisah dan sampai harus menceritakan apa yang ia alami kepadaku hari ini.


***


Apakah mereka yang melayani hidup dalam ketaatan? Masih mengendalikan diri dengan label gubuk yang melekat? 


Sedangkan kami yang memilih untuk melanjutkan hidup di luar pondok penuh dengan tantangan. Terutama tantang dari diri sendiri. Bagaimana hawa dan nafsu berpadu dalam setiap keputusan.


Bagaikan burung yang lepas dalam sangkar. Setiap musuh sigap mengincar dari setiap sisi. Jika ditakdirkan untuk berhenti makan sampai disitulah hidupnya. 


Kehidupan di luar pondok bisa jadi mengejutkan bagi seorang santri yang baru melanjutkan dan beradaptasi dengan kenyataan hidup bermasyarakat. 


Banyak godaan untuk mengikuti tren budaya dan zaman. Alhamdulillah, enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dididik dengan penuh keikhlasan.


Do'a para guru mengiringi setiap langkah santri. Selalu ada rindu di setiap detik tentang pondok dan mendorong setiap alumni untuk kontrol diri sebagai manusia berakhlak.


Namun setiap jiwa di dunia punya cerita dan ujian masing-masing. Khususnya virus merah jambu yang kerap menggoda insan yang baru keluar penjara suci.


Juga perkembangan zaman melalui internet yang bebas. Memberi ruangbuntuk tantangan kebebasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...